Media Pilihan

7 Tips Bijak Menggunakan Media Sosial

9 Juli 2018   20:31 Diperbarui: 9 Juli 2018   20:49 377 1 0
7 Tips Bijak Menggunakan Media Sosial
by : ninditaaw/dokpri

Rasanya baru kemarin menulis di kompasiana, ternyata sudah 3 bulan lamanya ngga nulis disini karena kesibukkan. Baiklah, kali ini kontennya bukan berisi tentang puisi, tapi kali ini saya akan menulis tentang tips untuk menggunakan media sosial. Ditambah lagi, kalau saya membaca media sosial saat ini, rasanya seperti etika dan kesopanan yang dulu kita junjung tinggi sudah sangat terlupakan nih. Memang sih, udah banyak banget pasti yang sudah menulis tentang hal ini, tapi saya mau sekedar menambahkan tips-tips "based on my own experience" yaaa. 

Yuk simak 7 tips bijak dalam menggunakan media sosial :

1. Hindari menyebar umpatan atau ujaran kebencian kepada seseorang di media sosialnya

Hal pertama inilah yang paling sering saya jumpai di media sosial nih, baik itu twitter, instagram, facebook dan medsos lainnya yang sering digunakan pada abad millenium ini. Terkadang manusiawi memang ketika kita tidak menyukai karakter orang lain atau konten dari postingannya yang mungkin juga kurang baik. Tapi, mengujar kebencian atau komentar kotor dan negatif kepada mereka juga bukanlah SOLUSI dalam menghadapi hal seperti ini.

Hal pertama yang harus terlintas dalam benak kita adalah apakah respon atau komentar negatif yang kita tulis dapat berdampak positif dalam hubungan sosial di media sosial? Jangankan di dunia maya, di dunia nyata pun ketika ada komentar yang berisi umpatan dan kebencian pastilah mendapat hukuman sosial dari masyarakat. Paling tidak, masyarakat akan memberi penilaian buruk terhadap citra diri kita. Sama halnya ketika berhubungan sosial di dunia maya, karena media sosial adalah cerminan dari karakter dan kepribadian kita. 

Jadi, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menasihati dengan halus dan berbahasa baik kepada orang yang bersangkutan. Lebih baik mengirimkan message dan bukan di kolom komentar, hal ini dimaksudkan supaya harga diri orang yang bersangkutan juga dapat terjaga baik dan tidak membuat dia malu. Dan jika postingan itu berupa masalah pribadi dari orang yang bersangkutan, ada baiknya kita tidap perlu menjadi "kompor mleduk" yang tidak tahu apa-apa tapi hanya ikut komen dan berspekulasi sendiri.  

2. Hindari memposting hal-hal dengan niatan pamer atau menyombongkan diri sendiri

Ada anggapan "Ini kan sosmed gue, jadi terserah gue dong mau posting apa aja, mau pamer apa aja, mau ngomong apa aja." Oke, memang benar saya setuju 100% itu adalah medsos milik kita, tapi bukan berarti kita dapat semena-mena melakukan apa saja. Kita harus memiliki empati disini. Ubahlah paradigma kita dari seorang pamer, menjadi seorang yang peduli. Pikirkan dampak dari semua yang kita lakukan, termasuk postingan dengan niat memamerkan harta dan kehidupan kita. Pintarlah untuk menjadi seorang perasa, karena banyak orang di luar sana yang hidup serba pas bahkan sampai kekurangan. Bayangkan mereka melihat postingan kita tentang harta dan kehidupan yang kita pamerkan, kemudian mereka menjadi rendah diri dan justru menimbulkan rasa iri terhadap mereka. Sudah dosa karena pamer, ditambah dosa karena membuat orang iri. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga, dosa pula.

Atau bayangkan banyak orang di luar sana yang masih dapat terus bersyukur karena harta mereka yang serba pas namun memiliki kehidupan yang bahagia. Pertanyaannya sekarang apakah dengan pamer maka hidup kita dapat tenang dan bahagia sama seperti mereka yang hidup serba pas namun bersyukur? Jawabanyya ada di hati kecil kita masing-masing. Pantaskah kita merasa sombong terhadap semua harta, gaya hidup dan semua hal yang bersifat sementara ini?

Kembali perlu dicatat, Hidup ini hanya sementara, semua yang menjadi milik kita adalah titipan dan akan hilang jika Allah sudah berkehendak. Pikirkan lebih panjang untuk melakukan sesuatu baik di dunia maya ataupun nyata.

3. Hindari menyebarluaskan urusan pribadi teman atau orang lain di media sosial

Pertemanan, persahabatan dan hubungan kita dengan orang lain memang tidak akan lancar dan baik selamanya. Pasti akan selalu ada beda pendapat, pemikiran hingga prinsip dan keyakinan. Namanya juga kehidupan, selalu ada warna berbeda di dalamnya. Namun, janganlah menjadikan hal ini sebagai alasan untuk kita menyebarluaskan hal-hal pribadi yang telah mereka ceritakan kepada kita. Hal ini akan membuat teman atau rekan yang bersangkutan menjadi sedih dan akibatnya mereka tidak akan pernah mau mempercayai kita walaupun kita sudah meminta maaf. Hal yang lebih buruk lagi, akan banyak teman-teman yang menjauhi kita karena sifat 'ember' yang kita miliki.

Jika memang kita memiliki masalah dengan seorang di dunia nyata, maka selesaikanlah baik-baik secara GENTLEMAN di dunia nyata dan tidak perlu curhat di media sosial. Pikirkan lebih panjang akibat dari tindakan menyebarluaskan urusan pribadi seorang. Karena bisa jadi suatu saat kita yang ada di posisi mereka.

4. Berusahalah menahan emosi dan sabar ketika ada orang yang memposting hal tidak baik tentang kita

Jika 3 poin sebelumnya menjelaskan bagaimana kita bersikap kepada orang lain di media sosial. Poin keempat ini akan menjelaskan bagaimana sikap kita jika kita menjadi 'korban' saat bermedia sosial. Hal ini memang sulit untuk dihindari, mengingat banyaknya orang yang sudah melupakan etika dalam bermedia sosial. Orang-orang bahkan teman yang menceritakan hal-hal buruk tentang kita adalah mereka yang tidak dapat dipercaya dan cenderung bermuka dua. Seringkali, temperamen kita mendadak naik ketika menghadapi masalah ini. 

Namun, jangan marah dulu, tahan emosimu. Mereka yang menceritakan keburukan kita di medsos juga adalah mereka yang memperburuk nama mereka dalam pandangan masyarakat. Justru dengan mereka memposting keburukan kita, itu sama saja dengan mereka menuliskan keburukan mereka kepada khalayak. Bayangkan jika itu teman dekat anda yang sekelas dengan anda kemudian tanpa sebab apa-apa dia memposting segala keburukan anda hanya karena jengkel dan berbeda pendapat dengan anda, kemudian teman-teman sekelas anda lainnya melihat postingan itu. Tak jarang orang akan menilai kalau anda ada di posisi sebagai korban dan lebih bersimpati terhadap anda, dan bukan kepada teman dekat anda yang memposting keburukan anda. Ambil sisi positif dari hal ini. Jika teman dekat anda yang melakukan ini, maka harusnya anda bersyukur, karena dengan kasus seperti ini, anda jadi dapat mengetahui karakter sebenarnya teman yang anda anggap baik, nyatanya tidak demikian.

5. Postinglah segala hal yang positif dengan caption yang memotivasi diri sendiri dan orang lain

Jika dari poin 1 hingga 4 membuat emosi anda bercampur aduk. Maka poin kelima ini akan menjadi obat penenang bagi anda. Banyak sekali hal-hal yang dapat kita syukuri dan syukuri setiap harinya ketimbang  sesuatu yang kita sesali dan keluhkan. Contohnya saja, kita dapat bernafas kembali di pagi hari dan menghidup aroma dedaunan yang basah setelah diguyur hujan semalam. Atau menikmati secangkir kopi panas ditemani biskuit manis bersama keluarga setiap pagi. Menggunakan mobil untuk sekedar ke mall atau berkeliling kota Jakarta ditemani mentari sore yang sinarnya membias ke angkasa. Hal-hal kecil yang kita anggap sepele nyatanya sangat dapat kita syukuri. Ingatlah banyak orang di luar sana yang menginginkan ada di posisi anda. Banyak orang yang berlomba dengan nafas terakhirnya disaat kita menghirup udara pagi di hari minggu. Banyak orang yang harus berjalan bermil-mil untuk bisa ke sekolah atau membajak sawah. Banyak orang yang bahkan harus berpikir dan bertanya kepada diri sendiri apakah saya dan keluarga bisa makan hari ini? Sementara keluhan anda hanyalah makan apa kita hari ini? 

Sejujurnya, jika kita mau, kita dapat memposting hal-hal yang postif dan tidak menyinggung perasaan orang lain dan tidak pula menimbulkan penyakit kepada hati kita sendiri. Mulai sekarang, ubahlah paradigma kita dari sang pengeluh, menjadi sang bersyukur supaya Allah juga menambah berkah pada setiap usaha dan kerja keras kita dalam kehidupan ini.

6. Abaikan pendapat orang-orang tentang perubahan baik yang terjadi pada diri kita

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2