Mohon tunggu...
Nina Sulistiati
Nina Sulistiati Mohon Tunggu... Belajar Sepanjang Hayat

Pengajar di SMP

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Perjuangan Ekstra untuk Putriku

20 Maret 2021   19:00 Diperbarui: 20 Maret 2021   19:26 143 8 4 Mohon Tunggu...

Kehadiran seorang anak dalam kehidupan rumah tangga adalah sesuatu yang sangat diharapkan oleh sepasang suami isteri. Kebahagiaan itu akan bertambah bila bayi yang dilahirkan dalam keadaan sehat walafiat. Lengkap sudah kebahagiaan itu menemani kehidupan kita.

Tidak semua harapan itu dapat menjadi kenyataan.  Ketika anak yang kita lahirkan tidak sesuai apa yang kita impikan dan memiliki kekurangan jasmani. Rasanya dunia akan runtuh. Tidak sedikit kita menyalahkan takdir Allah SWT.

Kalau sudah demikian berbagai pertanyaan ada dalam benak kita. Mengapa harus anakku yang mengalami itu? Mengapa Tuhan timpakan ujian ini kepadaku? Mengapa Tuhan tidak adil padaku?  Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku menghadapi semua ini? Apa yang akan terjadi dengan keluargaku? Bagaimana masa depan anakku nanti?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus bersemayam dalam benak kita. Pertanyaan yang membuat orang tua gegana (gelisah galau merana) karena memikirkan banyak hal tentang anaknya.

Itu yang kurasakan saat mendengar vonis dokter tentang Alia, Ma. Saat kelahirannya betapa bahagia hatiku dan suamiku karena mendapatkan pengganti Hani, puteri kecilku yang meninggal karena keracunan ketuban. Setelah bayiku lahir, keluarga kami terasa lengkap. Sepasang anak yang sehat menemani hari-hari kami.

Seiring perjalanan waktu,Ma, Alia lahir menjadi bidadari kecil yang lucu dan lincah. Setiap hari aku berusaha untuk mendidiknya di tengah kesibukanku mengajar. Aku tidak memercayakan pendidikannya  kepada orang lain

Hingga usia dua tahun, aku merasa ada sesuatu yang tidak normal dengan tumbuh kembangnya. Secara jasmani dia tumbuh normal seperti bayi-bayi lainnya. Namun kosa kata yang dia ucapkan tidak sebanyak bayi-bayi normal lainnya. Dia cenderung menangis bila menginginkan sesuatu.

 Saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi dengan anakku. Aku mencoba searching di google untuk mengetahui tumbuh kembang anak usia dua tahun itu harusnya bagaimana. Dan betapa terkejutnya aku,Ma. Anak usia dua tahun itu harus memiliki kemampuan sekitar 100 sampai 200 kata. Apa yang terjadi dengannya  yang hanya mampu mengucapkan kata tidak lebih dari 10 kata.

Saat itu aku baru menyadari kekurangan anakku, Ma. Kemudian aku mengajak suamiku untuk berkonsultasi ke dokter. Aku membawanya untuk mengikuti observasi di salah satu rumah sakit swasta di sini. Betapa terkejutnya aku saat dokter menyatakan bahwa  dia   memiliki kekurangan. Dari hasil observasi, dia dirujuk ke salah satu dokter THT. Rasa terkejutku semakin bertambah saat dokter itu mengatakan anakku kurang mendengar. Ambang dengar Alia hanya 75 disable di kedua telinganya. Dan dia harus menggunakan alat bantu mendengar . Kata dokter anakku terlambat bicara karena ada masalah di alat pendengarannya. Jika memakai alat bantu dia akan terbantu menyerap kata-kata dari luar.

Ma, betapa hatiku saat itu hancur. Rasa sedih karena kehilangan bayiku baru saja terobati, kini Tuhan timpakan ujian lagi kepadaku. Aku  seolah tak percaya saat itu. Apa dosaku yang terus menerus mendapat ujian dariNya. Dokter menguatkan aku dan suamiku serta memberikan motivasi agar kami memiliki kekuatan.

Kesal, marah, kecewa, sedih dan bingung bergejolak dalam hatiku, Ma. Selama beberapa hari tangisku tak pernah berhenti saat mengingat tentang masa depan anakku kelak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x