Mohon tunggu...
Humaniora

Pendidikan Membangun Karakter Bangsa

30 Mei 2017   23:26 Diperbarui: 31 Mei 2017   00:13 0 1 1 Mohon Tunggu...

Saat ini banyak orang orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mengaku beragama, namun tindakan mereka sangat memalukan dan meresahkan masyarakat sekitar. Menurut data Litbang Kompas 158 kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi sepanjang tahun 2004-2011, kemudian 42 anggota DPR terseret pada kurun waktu 2008-2011, lalu 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI dan BKPM.

Jumlah kasus korupsi di Indonesia terus saja meningkat. Ada 803 kasus korupsi yang telah diputus oleh  Mahkamah Agung (MA) dari tahun 2014-2015. Dan lebih parahnya lagi jumlah ini meningkat lebih jauh lagi dibanding tahun sebelumnya. Hasil dari penelitian Laboratorium Ilmu Ekonomi, Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gajah Mada, mengungkap 803 kasus itu menjerat 967 terdakwa korupsi.

Ditengah maraknya fenomena perilaku amoral tersebut, banyak juga kasus fenomena amoral yang melibatkan peserta didik sebagai pelakunya, seperti seks pra-nikah, video porno, penyalahgunaan NAPZA dan minuman keras, tawuran, kekerasan perploncoan, penghinaan guru dan sesama murid melalui facebook. Bahkan kasus-kasus korupsi, kolusi dan manipulasi yang melibatkan orang-orang terdidik dan terpelajar. Hal ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan yang idealnya melahirkan generasi-generasi terdidik dan beretika sekaligus menjadi musuh utama fenomena-fenomena perilaku amoral tersebut.

Gambaran tersebut, menunjukkan bahwa generasi kita kurang bahkan tidak berkarakter. Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral berarti dia berkarakter yang mulia. Pembinaan karakter juga termasuk melingkupi materi yang harus direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai aspek pengetahuan. Belum menyentuh pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolahnya saja, melainkan di rumah dan di lingkungan sosial. Sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja akan tetapi juga usia dewasa.

Fenomena merosotnya karakter bangsa di tanah air dapat disebabkan lemahnya pendidikan karakter dalam meneruskan nilai-nilai kebangsaan pada saat alih generasi. Disamping itu, lemahnya implementasi nilai-nilai berkarakter dilembaga-lembaga pemerintahan dan kemasyarakatan telah mengaburkan kaidah-kaidah moral budaya bangsa yang sesungguhnya bernilai tinggi. Karakter bangsa yang rapuh dan lemah memang mencemaskan, terlebih lagi jika dihadapkan dengan iklim globalisasi dan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini yang membawa keterbukaan terhadap informasi yang datang dari luar. Hanya dengan kepribadian dan karakter yang kuat dimiliki bangsa ini baru akan mampu menyaring pengaruh informasi yang mengandung nilai buruk yang datang dari luar.

Kehidupan yang cerdas juga dikehendaki sebagai kehidupan yang menempuh jalan lurus mengikuti kaidah-kaidah nilai dan norma sesuai dengan fitrah manusia yang berorientasi kebenaran dan keluhuran. Kehidupan dengan jalan lurus itu disebut dengan kehidupan berkarakter. Perilaku cerdas hendaknya disertai dengan tindakan yang berkarakter dan perilaku berkarakter hendaknya pula diisi upaya yang cerdas. Kecerdasan dan karakter dipersatukan dalam perilaku yang berbudaya. Kehidupan yang cerdas tanpa disertai kehidupan yang berkarakter akan menimbulkan kesenjangan dan penyimpangan.

Perilaku menyimpang adalah sikap dan tingkah laku negatif yang ditunjukkan seorang siswa. Perilaku menyimpang dapat menghambat proses belajar yang sedang berlangsung. Penyimpangan dalam dunia pendidikan kerap ditunjukkan oleh siswa dalam belajar di sekolah. Diantaranya yaitu bolos belajar,  sering minta izin meninggalkan kelas, sering datang terlambat, suka mengganggu teman yang sedang belajar dan malas mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah.

Pendidikan, kemampuan, pengetahuan merupakan salah satu modal yang kita miliki untuk hidup di zaman yang serba sulit ini. Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita, ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Tetapi sayangnya pendidikan hanyalah menghasilkan orang-orang pintar bukanlah orang terdidik. Diera globalisasi seperti ini, banyak fenomena yang sedang menjadi perbincangan masyarakat umum seperti kasus korupsi, kasus suap yang terjadi dikalangan para pejabat dan masih banyak kasus lainnya. Namun anehnya para pelaku kejahatan kasus ini adalah orang-orang yang pintar yang berpendidikan tinggi serta berbagai lulusan universitas ternama. Dengan adanya kejadian ini sepertinya pendidikan formal di Indonesia harus dikaji ulang. Pola pengajaran pendidikan formal saat ini hanya mengajarkan ilmu-ilmu umum sehingga menghasilkan orang pintar, namun sayangnya mereka lemah akan budi pekertinya dan tidak terdidik. Padahal seharusnya merekalah yang menjadi pemimpin atau tokoh yang baik untuk dicontoh untuk semua orang.

Oleh karena itu sistem pendidikan formal harus segera direvisi dengan tidak hanya mementingkan hasil tetapi lebih mementingkan suatu proses untuk mencapai keberhasilan agar tidak mencetak orang pintar yang memintari tetapi mencetak karakter yang berbudi pekerti yang baik dalam membangun bangsa.