Mohon tunggu...
Niko L
Niko L Mohon Tunggu... Menulis untuk sembuh

Hidup di Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

De-kolonisasi Pikiran

29 November 2020   16:36 Diperbarui: 29 November 2020   18:14 86 14 1 Mohon Tunggu...

Media sosial Indonesia begitu riuh setiap kali ada kasus besar, terutama yang melibatkan unsur agama atau unsur primordial lain. Pembelahan terjadi antara yang mendukung dan mengecam. Antara yang percaya bahwa itu fakta dan ada yang meyakini bahwa ada konspirasi, kriminalisasi, viktimisasi dan sasi-sasi yang lain. Tetapi bukan Vikinisasi oleh Prasetyo.

Pembelahan ini misalnya  dapat terlihat dalam kasus pencopotan baliho FPI atas Perintah Pangdam Jaya. Baliho hanya satu kasus dari sekian kasus di mana pendapat publik terbelah. Ada banyak kasus lain yang menunjukkan betapa mudahnya pendapat-pendapat berseberangan berkembang dan sulit didamaikan.

Apa yang terjadi sebenarnya? Pertama mungkin cara berpikir kita yang cenderung meloncat. Kesimpulan di awal, pemeriksaan fakta di akhir. Amati saja cara kita berargumen. Jadi, singkatnya  yang bisa disamakan dengan frasa Ingris So dan In short, adalah frasa yang mengirim pesan bahwa pembicara akan sampai ke kesimpulan.

Frasa di atas muncul di akhir sebuah argumen lisan atau tertulis. Setelah panjang lebar menyajikan fakta dan argumen, pembicara kemudian menandai transisi ke kesimpulan dengan mengatakan, Jadi atau singkatnya. Misalnya, saat berargumen tentang demokrasi, pembicara menarik pendengar dengan frasa, "Jadi, berdasarkan fakt-fakta di depan, saya menyimpulkan Indonesia adalah negara demokrasi prosedural".

Dalam obrolan harian maupun diskusi formal, cukup sering orang Indonesia menempatkan jadi atau singkatnya di awal. Ketika menjawab pertanyaan, dimulai dengan "Jadi". Kesimpuan dulu, penjelasan belakangan.

Struktur berpikir ini adalah struktur berpikir 'mistis', mulainya dari keyakinan, kepercayaan, dugaan. Sebaliknya struktur berpikir empiris, fakta diperiksa dulu sebelum kesimpulan tentang satu peristiwa diambil. Saat hasil sawah turun, cara berpikir empiris akan memeriksa volme air, kondisi tanah, keadaan hama atau penyakit, baru disimpulakan sebab panenan menurun. Cara berpikir mistis meloncat, tidak perlu memeriksa fakta penyebab, tetapi mengambil kesimpulan. Misalnya adanya roh-roh marah dan karena itu perlu sesajen.

Pembelahan opini dalam medsos, dugaan saya berasal dari cara berpikir 'mistis', anti fakta, anti penalaran, bicara dulu, periksa fakta kemudian. Mengapa ini terjadi? Mungkin saja pikiran kita sudah lama dikolonisasi (baca: diduduki dan dikuasai) oleh berbagai macam kepercayaan, keyakinan dan prasangka.

Keyakinan dan prasangka tentang yang liyan (the other). Tentang orang lain, agama lain, suku lain, profesi lain.  Kepercayaan ini menjadikan pikiran  sebagai koloni. Kalau kolonialis barat menguasai tanah dan kekayaan alam. Kepercayaan dan keyakinan  menguasai, mengendalikan 'tanah' pikiran.

            Kepercayaan dan keyakinan menjadi bingkai di mana manusia memandang dan menilai orang lain. Kepercayaan positif akan menghasilkan pandangan positif. Sebaliknya jika negatif akan menghasilkan persepsi negatif tentang yang liyan.

            Kolonisasi pikiran terjadi secara tidak sadar dan direproduksi lewat pendidikan, sosialisasi dalam keluarga, sejarah sosial yang diperlihara biasanya lewat legenda  dan warisan kolonialisme. Misalnya prasangka bahwa orang berkulit  hitam itu tidak beradab, terbelakang, bodoh adalah pandangan yang direproduksi dari kolonialisme Eropa di Afrika dan Asia. Yang cantik itu 'putih non-noni Belanda'. Konsep cantik ini direproduksi oleh industri kecantikan. Produk-produk pemutih kulit laku keras. Padahal gadis Sumatera yang sawo matang misalnya cantik luar biasa.

 Eropa putih adalah ras unggul, yang berwarna itu 'uncivilized'karena itu boleh ditangkapi, dijual dan di-peradab-kan secara paksa melalui sekolah-sekolah Eropa. Di Australia 'putih-nisasi' menyebabkan satu generasi orang Aborigin kehilangan asal-usul mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x