Mohon tunggu...
niken nawang sari
niken nawang sari Mohon Tunggu... Ibu Rumah Tangga. Kadang nulis juga di www.nickenblackcat.com

Ibu Rumah Tangga yang suka jalan-jalan ke bangunan kolonial, suka menulis hal berbau sejarah, dan suka di demo 2 ekor kucing. Blog pribadi www.nickenblackcat.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Jendela Saat Hujan

6 Agustus 2016   07:40 Diperbarui: 6 Agustus 2016   08:46 74 1 0 Mohon Tunggu...

Sore ini hujan turun membasahi kota ini, tidak terlalu deras tetapi bukan hanya rintik-rintik. Dingin menusuk tulang membuatku malas untuk beranjak dari tempatku. Kutatap jendela seolah ingin meyakinkan bahwa aku tidak bisa menerobos hujan. Aku percaya jendela itu jujur mengenai hujan yang turun. Jendela tak ubahnya seperti mata, mata yang jujur. Hujan sepertinya sengaja menahanku disini untuk terus memikirkan mengenai mata yang jujur.

Jujur sebuah kata yang rasanya sangat mudah untuk diucapkan tetapi susah untuk dijalankan. Memulai sebuah hubungan pertemanan dengan kejujuran juga sangat susah apalagi sampai hubungan ke jenjang yang lebih. Hubungan antar dua manusia yang berbeda keyakinan yang diawali oleh kejujuran ini, aku harap akan terus selamanya dan tidak ada kata “enough to know you”  kecuali maut yang memisahkan. 

Kita berbeda, iya kita sudah mengakui itu dalam relung hati masing-masing. Aku sendiri datang hanya ingin mengisi celah hatimu yang kosong walaupun hanya sebuah pojokan hati yang sangat sempit. Tidak mengapa ketika kamu tidak menengok pojokan sempit di hatimu karena aku akan berusaha untuk mengisinya. Tidak mengapa ketika kamu tidak banyak waktu untukku karena kita tidak bisa melangkah ke jenjang yang lebih.

Kita pernah bermain truth and dare sambil mengantuk hingga akhirnya kamu ketiduran. Kita pernah saling menggenggam tangan untuk saling menguatkan. Bahkan kamu pernah memelukku dan berkata “ aku kangen seseorang”. Aku membiarkanmu memelukku walaupun disitu sebenarnya bukan aku yang ingin kamu peluk. Tidak mengapa mungkin kamu terlalu memendam rasa rindu kepada seseorang dan tidak bisa memeluknya. Kejujuran tentang hubungan seperti apa yang bisa kita jalani itu saja sudah sangat cukup untukku.

Kita memang tidak akan melangkah ke jenjang yang lebih tetapi masih bisa bersama untuk menjalani kehidupan. Bukankah sesama manusia harus saling menjaga sebuah silaturahmi? Aku juga tidak mau melihatmu pergi tanpa menoleh bahwa masih ada aku disini. Aku masih ingin melihatmu melanjutkan kehidupan setelah meninggalkan kota ini. Aku bahkan suka memandangmu mengenakan pakaian untuk sembahyang, masih terekam wajahmu yang mengenakan udeng. Kadang aku juga tanya-tanya kapan kamu sembahyang dan bagaimana membaca kalendermu di dinding.

 Aku masih merekam bagaimana kamu menenangkan anjingmu ketika pertama kali dia bertemu denganku. “Daddy is here”, ucapmu saat dia menggonggong, kemudian kamu memeluknya untuk menenangkannya. Rasanya ingin ikut memeluk anjingmu saat itu tapi apa daya dia masih menganggapku orang asing. Sebuah quote dari  Paul Mc Cartney “ you can judge a man’s true character by the way he threats his fellow animal” sampai saat ini masih aku sematkan padamu.

Hey kamu yang menenangkanku saat aku menangis ketakutan mendekati hari lahirku, terimakasih banyak. Semoga tidak pernah bosan mengingatkanku untuk menjadi lebih baik walaupun kita tidak akan  bisa melangkah  ke jenjang yang lebih. Semoga tidak pernah bosan menghadapi tingkahku yang kadang terlalu mengkhawatirkanmu.

Jendela mengingatkanku akan hari yang sudah gelap. Masih terlihat hujan membasahi lampu-lampu taman, tetapi  hujan kali ini akan aku terobos. Agar aku bisa menemuimu secepat mungkin.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
6 Agustus 2016