Mohon tunggu...
Nida Nur Hanifah
Nida Nur Hanifah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga - 21107030016

If Happy Ever After Did Exist

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Time Traveler

29 Juli 2022   13:05 Diperbarui: 29 Juli 2022   13:13 236
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Baik, sampaikan rencanamu"

"Apakah kita akan menggunakan metode pengembangan literasi seperti di Finlandia?" Tanya Perempuan Berkacamata

"Sistem pendidikan tanpa pemeringkatan dan inklusif di sana tentu masih susah untuk diterapkan disini dan akan membutuhkan jangka waktu yang panjang, kita hanya perlu memaksimalkan apa yang sudah ada disini. Setidaknya itu membantu sedikit perubahan." Lanjut Lelaki Bermata Biru

"Apa rencana "untuk sedikit" membantu itu?" Tanya Perempuan Berambut Pirang

"Pertama, kita harus menanamkan kebiasaan literasi setiap harinya kedua kita harus menyediakan fasilitas yang efisien untuk membaca dimanapun, dan kapanpun."

Yogyakarta, Indonesia 2025

Sembilan tahun berlalu membawa revolusi menakjubkan bagi Lelaki Bermata Biru dan kedua kawannya. Rencananya meningkatkan kebudayaan literasi di Indonesia mulai terlihat hasilnya. Perpustakaan-perpustakaan lembaga yang tadinya berdiri secara konvensional kini sudah mengoptimalkan operasinya melalui sistem digital. Hampir setiap lembaga perguruan tinggi menerapkan e-Library yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja.

Program menanamkan minat baca tidak kalah berhasilnya. Setiap akses perpustakaan digital memiliki fitur canggih yang mencatat penggunanya meminjam buku apa saja dan berapa banyak pengguna meminjam buku selama satu minggu. Setiap lembaga menerapkan wajib baca beberapa buku untuk seminggu tergantung kebijakan masing-masing lembaga.  Semuanya akan tercatat otomatis di sistem pengawas elektronik setelah pengguna terdaftar sebagai anggota dari perpustakaan digital.

Tanpa disadari kebijakan yang awalnya berat ini berjalan walau diawali dengan keterpaksaan masyarakat. Pengguna dapat saling mengunjungi akun pengguna lain, dan berapa banyak buku yang telah dibaca akan terlihat sehingga mengundang jiwa kompetisi dan haus literasi bagi pengguna lain.

Tidak melupakan daerah-daerah yang terpelosok. Beberapa buku bacaan cetak yang jarang dibaca dan sudah mulai rusak di produksi ulang dan dikirimkan ke daerah-daerah minim fasilitas pendidikan untuk memenuhi setidaknya beberapa rak kecil disana. Toh, tidak kurang-kurang buku yang ada karena setiap orang bisa mengakses melalui perpustakaan digital.

Walaupun dampak yang terjadi mungkin tidak langsung menjadikan Indonesia sebagai negara dengan status literasi tinggi, namun semua perubahan besar itu tentunya berawal dari perubahan kecil yang dimulai dari kebiasaan. Sebuah kebiasaan juga kadang dimulai dari keterpaksaan yang berat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun