Mohon tunggu...
Nida Adzilah
Nida Adzilah Mohon Tunggu... -

Public Health UI'13

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Plagiarisme : Does He Better Than I do?

21 Agustus 2013   22:35 Diperbarui: 24 Juni 2015   09:00 202 0 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Plagiarisme? Mungkin kata ini sudah nggak asing di telinga kita. Simpelnya plagiarisme atau plagiat adalah suatu kegiatan mengutip, menjiplak, ataupun mencuri gagasan atau karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Nah, orang yang melakukannya biasa disebut plagiator atau plagiaris.

Banyak, loh, contoh kecil perbuatan yang terjadi di sekitar kita, yang ternyata, adalah contoh plagiarisme. Ayo, ngaku siapa yang suka copy-paste? Copy-paste bisa jadi adalah sebuah plagiarisme jika kita tidak menuliskan sumbernya. Tapi, tahukah teman-teman kalau sebenarnya plagiarisme dibagi menjadi beberapa jenis?

Barnbaum dari Valdosta State University, menggolongkan plagiat menjadi lima jenis, yaitu:

1) “Copy-paste”, dalam arti mengambil kalimat atau frase orang lain tanpa menggunakan tanda kutip dan tanpa menyebutkan sumbernya.

2) “Word-switch”, mengambil kalimat atau frase orang lain dengan mengubah struktur kalimat atau kosakatanya.

3) “Style”, dalam arti mengikuti artikel sumber kata demi kata dan kalimat demi kalimat.

4) “Metafora”, dalam arti menggunakan metafora orang lain tanpa menyebutkan sumbernya.

5) “Gagasan”, dalam arti mengambil gagasan, pikiran atau pendapat orang lain tanpa menyebutkan sumbernya.

Sedangkan, Ireton melihat tindakan plagiat dari sudut pandang berbeda. Sarjana itu menggolongkan plagiat menjadi;

1) plagiat kata-kata, yaitu menggunakan kata-kata orang lain sama persis tanpa menyebutkan sumbernya,

2) plagiat struktur, yaitu menggunakan kata-kata orang lain dengan mengubah konstruksi kalimat, pilihan kata walaupun dengan memberikan rujukan,

3) plagiat gagasan, yaitu menyajikan gagasan orang lain dengan bahasa sendiri tanpa menyebutkan sumbernya,

4) plagiat kepenulisan, yaitu mengumpulkan replika atau tiruan karya orang lain atau mengumpulkan artikel yang diperoleh dari Internet atau dari teman, dan

5) autoplagiat, yaitu menggunakan tugas yang sama untuk dua mata kuliah yang berbeda atau mengambil pikiran sendiri yang telah dikemukakan dalam naskah yang telah diterbitkan tanpa menyebutkan sumbernya.

Sebenarnya kenapa, sih, plagiarisme bisa terjadi? Mayoritas menjawab karena kurang ide atau kurang referensi. Contoh kasus, si A dan B memiliki tugas yang sama untuk membuat sebuah makalah ilmiah. Karena kehabisan ide, maka si A mencari referensi dari internet. Si A, kemudian, mengcopy sebagian isi jurnal tersebut tanpa mencantumkan sumbernya. Tak berbeda dengan si A, si B juga kehabisan ide dan ia pun mengcopy sebuah tulisan dari internet. Namun, si B menuliskan sumber referensi link web tersebut.

Berdasarkan narasi diatas, perbedaan tindakan si A dan B sebenarnya mudah. Hanya soal mencantumkan sumber. Karena A tidak menuliskan sumber, maka ia termasuk plagiator. Seseorang yang belum pernah membaca jurnal yang telah dikutip A merasa bahwa kutipan tersebut merupakan hasil pemikiran A. Lain hal dengan A yang termasuk plagiator, si B bukan seorang plagiator. See? Simpel banget tindakan yang dilakukan, tapi membuat perbedaan besar antara si A dan si B.

Bayangkan jika ada dua orang, si C dan si D, yang memposting sebuah karya yang sama. Pembaca pasti akan berpikir bahwa salah satunya adalah plagiator atau bahkan keduanya adalah plagiator. Kenyataan ini sungguh miris jika ternyata si C membuat karya tersebut benar-benar hasil pemikirannya sendiri.

Nah, tapi banyak juga alasan-alasan lain, misalnya tidak tahu kaidah pengutipan yang baik, menunda mengerjakan tugas dan lemahnya time management, memilik tekanan untuk mendapatkan hasil terbaik, yakin bahwa orang lain mungkin saja tidak mengetahui tindakan liciknya tersebut hingga masalah kepercayaan diri. Masalahnya, alasan-alasan ini begitu cliché. Kalau kita memiliki time management yang baik, kita pasti akan berusaha meminimalisir menunda mengerjakan tugas. Kalau belum mengerti akan suatu materi maka kita seharusnya belajar lebih dalam lagi. Kalau masih belum mengerti tanyakan pada yang lebih ahli, apakah tutor, guru, dosen, dsb. Kalau belum percaya diri, mengapa tidak mencoba lebih dulu?

Kadang kita merasa orang lain melakukan suatu hal lebih baik daripada kita. Kurang rasa percaya diri ini membentuk sugesti dalam diri kita bahwa “He does it better than I do”. Salah besar, tuh! Faktanya, semua orang bisa menjadi excellent karena biasa melakukannya. Sekarang, gimana mau bisa menjadi excellent kalau kita sendiri masih merasa diri kita ‘cemen’? Mulailah dengan baby step, nggak masalah kok. Karya apapun akan dihargai jika itu orisinil.

Sekarang, mari kita jujur pada diri kita sendiri apakah kita pernah menjadi plagiator atau tidak. Jika pernah, yuk, kita berubah! Kita belajar bersama-sama untuk bisa jujur dan berani. Kita upayakan time management yang baik. Kita asah pikiran kita untuk menjadi lebih kritis, lebih inovatif, lebih baik lagi. Intinya, sih, dimana ada kemauan disitu ada jalan. Maju bersama menjadi bangsa yang inovatif!

Sumber :

Czaroentoro. 2010. Plagiat. http://czaroentoro.wordpress.com/2010/05/26/plagiarism/ 21 Agustus 2013

UPI. PDF Plagiat. http://perpustakaan.upi.edu/pencegahan-plagiat/ 21 Agustus 2013

Esensi Penulisan :

Lebih memahami tentang plagiarisme, semoga membuat kita menjadi pribadi yang lebih inovatif serta kreatif. Menjadi manusia yang tidak hanya kritis dalam berpikir namun juga berani mengemukakannya.

Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan