Nico Erdi Purwanto
Nico Erdi Purwanto Penjelajah

Ecclesia et Patria - Ora et Labora! Cari saya di Instagram melalui akun @nicopurwanto dan Twitter @nicoerdi

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Piala Dunia dan Idul Fitri: Sukacita Perayaan Ganda

14 Juni 2018   12:39 Diperbarui: 14 Juni 2018   14:10 2023 2 1
Piala Dunia dan Idul Fitri: Sukacita Perayaan Ganda
www.bbc.com

Kalau saya bertanya pada Anda: 'adakah sesuatu yang menarik hari ini', apakah jawaban Anda? Hampir bisa saya jawab: Piala Dunia 2018 sudah dimulai! Ya! Hari ini, pesta sepak bola terbesar tersebut dibuka dengan tuan rumah Rusia menghadapi Arab Saudi, dan seperti yang kita tahu: bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1439 H (malam menjelang lebaran).

Di Indonesia, adalah hal wajar ketika libur lebaran tiba, para perantau berbondong-bondong pulang ke kampung halaman sendiri. Bahkan, saking banyaknya perantau yang pulang, kota-kota besar, terutama ibu kota Jakarta, begitu lengang bagai kota mati. Hal tersebut adalah sukacita atau perayaan tersendiri tentunya.

Suatu perayaan dan sukacita yang dobel tentunya, terkhusus bagi kita warga Indonesia, merayakan hari kemenangan di kampung halaman --sesuatu yang paling ditunggu-tunggu para perantau--- plus disuguhi pertandingan sepak bola, liburan jadi tambah menarik.

Pertandingan pembuka, seperti biasa, tuan rumah akan ambil bagian. Melawan tim asal Asia, Arab Saudi, tuan rumah lebih diunggulkan untuk memenangi pertandingan tersebut.

Bukan hanya karena faktor dukungan penuh dari publik Rusia di Stadion Luzhniki, tetapi juga karena faktor pengalaman di Piala Dunia. Rusia sudah berpengalaman di Piala Dunia dengan 11 kali tampil, meski tidak pernah juara. Berbeda dengan Arab Saudi, yang bahkan hanya kurang dari separuhnya, yaitu 'hanya' pernah 5 kali tampil (jangan bandingkan dengan Indonesia!).

Melihat ke dalam skuat pemain yang didaftarkan, keduanya seperti memiliki kemiripan, yaitu mayoritas penghuni skuatnya bermain di liga domestik masing-masing. Yang juga bisa berarti begitu minim pengalaman jika dibandingkan dengan dua peserta lain di grup A.

Di timnas Rusia sendiri hanya ada Vladimir Gabulov yang bermain di Club Brugge (Belgia) dan Roman Neustadter yang menjadi pemain Fenerbahce (Turki). Plus dengan pelatih yang juga orang Rusia. Sbornaya dilatih oleh Stanislav Cherchesov.

Di kubu Arab Saudi, mayoritas penghuni skuatnya juga bermain di negara sendiri. Hanya ada tiga pemain yang berkarier di luar negeri, yaitu di Liga Spanyol.

Namun, dari segi pelatih, The Green Falcon ditangani oleh pelatih yang pernah mengantarkan Chile menjuarai Copa America Centenario 2016, Juan Antonio Pizzi. Meski sebenarnya yang membawa Arab Saudi ke Piala Dunia sebenarnya adalah pelatih asal Belanda, Bert van Marwijk, yang kini melatih timnas Australia.

Kembali ke soal perayaan. Gaung pembukaan Piala Dunia sendiri sebenarnya belum terdengar begitu menggema. Namun, menurut berita, seperti apa gambaran seremoni pembukaan Piala Dunia tersebut memang sengaja tidak dibocorkan ke publik oleh panitia. Kerahasiaannya benar-benar terjaga. Namun, pengisi acara tetap diinformasikan ke publik. Robbie Williams disebut akan mengisi acara pembukaan tersebut.

Yang jelas, masih menurut berita, opening ceremony kali ini 'katanya' agak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Seperti apa? Sekali lagi, informasinya tidak dibocorkan ke media dan publik.

Berbicara mengenai tuan rumah, saya sendiri tidak menjagokan Sbornaya sebagai juara. Bahkan untuk melaju ke fase gugur saja, saya rasa hanya mimpi bagi Rusia untuk melangkah ke fase tersebut.

Faktor tuan rumah dan dukungan fanatik bukan jaminan bagi Tim Beruang Merah untuk lolos dari grup A yang diisi oleh Rusia, Arab Saudi, Uruguay, dan Mesir. Ada kemungkinan, dua tim yang saya sebut terakhir bakal melaju ke babak selanjutnya, dengan Uruguay sebagai juara grup dan Mohamed Salah membawa Mesir menjadi runner-up.

Selain itu, faktor pengalaman dan kualitas pemain yang akan menjadi masalah bagi Sbornaya. Pengalaman Rusia jelas kalah dari Uruguay, dan dalam skuatnya pun kualitasnya tidak merata, serta faktor pemain kunci yang tidak dimiliki oleh anak asuh Vladimir Cherchesov. Bandingkan dengan Mesir yang punya Mohamed Salah, yang kini sedang 'menggila' bersama Liverpool hingga mampu mencapai final Liga Champions --meski kalah dari Real Madrid dan salah cedera. Plus Uruguay yang punya mesin gol bernama Luis Surez dan Edinson Cavani, yang keduanya membawa klubnya masing-masing, Barcelona dan Paris Saint Germain, menjuarai liga dan piala domestik.

Beralih ke soal siapa yang akan menjuarai turnamen ini. Sebenarnya lebih pas jika disebut: yang akan mencapai final. Saya sedikit menebak saja, Jerman akan berjumpa Brasil di final nantinya. Soal siapa yang keluar sebagai pemenang, Anda bisa tentukan sendiri.

Mundur satu langkah ke semifinal. Dalam empat besar Piala Dunia kali ini, saya 'menjagokan' Jerman, Brasil, Prancis, dan Argentina menjadi semifinalis Piala Dunia 2018. Dengan yang melaju ke final adalah yang sudah saya sebut di alinea sebelumnya. Sengaja saya urutkan agar bisa mengindikasikan peluang menuju kampiun juaranya.

Jerman tetaplah kekuatan besar saat ini. Kualitas pemainnya merata di setiap lini. Bahkan, sang pelatih, Joachim Loew, sampai mencoret beberapa pemain yang sebenarnya tampil impresif musim ini. Saya yakin Anda saat ini pasti menebak satu nama yang bermain di Manchester City: Leroy Sane. Betul, dan sebenarnya masih banyak nama beken lain yang tidak dipanggil, meski tidak cedera sekalipun. Namun, Der Panzer tetaplah Panser. Mereka tetap berbahaya dan bisa menghajar tim mana pun dengan skuat saat ini.

Brasil setali tiga uang dengan Jerman. Pemainnya merata di setiap lini, dari kiper sampai striker. Bahkan bisa dibilang Seleccao lebih menonjol karena punya sang megabintang Neymar. Pemain termahal dunia kepunyaan Paris Saint Germain tersebut seakan dipermudah menuju jalur juara dengan bantuan pemain-pemain lain, terutama bersama Robert Firmino (Liverpool) dan Philippe Coutinho (Barcelona) membentuk trisula mematikan di lini serang Tim Samba.

Prancis adalah finalis Piala Eropa 2016. Meski bermaterikan pemain yang lebih baik daripada Portugal di Piala Eropa yang dientaskan di negeri sendiri tersebut, Le Bleus nyatanya kurang beruntung untuk menjuarai turnamen tersebut.

Kini, masih bermaterikan pemain alumni Piala Eropa 2016, minus beberapa pemain inti karena cedera sebenarnya, anak asuh Didier Deschamps siap 'membalas dendam' di Piala Dunia 2018. Dengan membawa pemain yang mayoritas pemain muda, Tim Ayam Jantan tersebut siap menunjukkan pada Portugal kalau di Piala Dunia kali ini, mereka lebih baik --dan tentu saja lebih beruntung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2