Mohon tunggu...
Tatang Tarmedi
Tatang Tarmedi Mohon Tunggu... Jurnalis - Untuk share info mengenai politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Hidup akan jauh lebih bernilai, jika kau punya sebuah tujuan penting.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Kampung Kecil dalam Kawasan Hutan Buru

23 Januari 2021   05:59 Diperbarui: 23 Januari 2021   06:57 955
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
redrena.wordpress.com

Bencana longsor di Kecamatan Cimanggung yang terjadi beberapa waktu lalu, meninggalkan kesan duka sangat dalam bagi semua. Pada kesempatan ini, kita tinggalkan Cimanggung dengan musibahnya tadi, hal lain  perlu jadi bahan perenungan. Penulis coba lakukan perjalanan jurnalistik ke satu kampung kecil di Cimanggung yang berada di tengah kawasan hutan buru.

Cimanggung adalah satu wilayah di belahan barat daya Kabupaten Sumedang. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung dan Garut. Luas wilayah Kecamatan Cimanggung, 11,197,01 hektar. Banyak disebut kawasan industri. Karena memiliki karakteristik perekonomian yang lebih dinamis dibandingkan dengan wilayah lain yang ada di Kabupaten Sumedang. Perekonomian penduduk di wilayah ini, bukan hanya dari sektor pertanian saja. Namun juga dari sektor industri pengolahan seperti tekstil, obat-obatan dan garmen. Di Cimanggung banyak berdiri dan beroperasi perusahaan industri skala makro.

Di tengah dinamisnya Cimanggung sebagai kawasan industri dan perdagangan, terselip  satu kampung di Desa Sinulang yang banyak disebut sebagai Kampung Adat. Namanya, Kampung Cigumentong. Tepatnya berada di Desa Sindulang RT 03 RW 09. Butuh jalan kaki sekitar 2 jaman untuk bisa sampai di kampung tengah hutan Taman Buru Kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi . Hanya sepeda motor trail yang bisa nembus kampung berpenduduk 17 KK ini. Tapi, jalan kaki bisa menjadi pilihan terbaik sambil sekalian menyatukan diri dengan alam yang ekosistemnya masih terjaga baik.

Perjalanan dari mulai gerbang masuk Taman Buru Kawasan Konservasi Gunung Masigit Kareumbi menuju ke Cigumentong cukup mendebarkan. Kanan kiri jalan masih berupa hutan belukar. Kabut nyaris tak lepas menutupi jalan. Dibumbui gemerincik air selokan yang mengalir bening. Penulis dengan ditemani Sdr. Engkos Perdana seorang pemerhati sejarah Sumedang ikut serta dalam perjalanan ini. Kami sempat dibuat bingung, ada beberapa persimpangan jalan setapak. Pilih jalan yang salah, bisa saja akan tersesat di tengah hutan. Dari jauh terdengar ramai suara gonggongan anjing. Tampaknya di areal itu sedang ada perburuan binatang huran. Rasa takut menyeruak. Bisa saja ada babi hutan ketakuran lari ke arah kami. Untung di tengah kekhawatiran kami, ada seseorang memberi tahu kami jalan ke Cigumentong.

Ada sedikit perubahan Cigumentong sekarang dengan Cigumentong sepuluh tahun lalu dimana penulis pernah ke sana. Dulu, penerangan rumah penduduk masih gunakan listrik tenaga surya. Diantaranya bantuan dari Bupati Sumedang Don Murdono dan listrik tenaga surya dari Program Hibah Bina Desa (PHBD) yang diberikan Unpad Jatinangor.Namun sekarang lampu listrik telah terpasang di rumah warga. Tak sempat ditanyakan apa itu listrik dari PLN atau listrik nyambung dari kantor Pengelolaan Taman Buru Masigit Kareumbi.

Keterpencilan Cigumentong dari pusat kota Kecamatan Cimanggung membuat warga susah ketika dihadapkan pada situasi darurat. Misal, kata warga, ketika ada yang sakit atau melahirkan. Pemetintah Kabupaten Sumedang pernah bikin rencana untuk pindahkan warga Cigunentong ke satu wilayah di perbarassn dengan kabupaten Garut. Namun menurut warga, lokasi tersebut tak sesuai dengan keinginan warga, " Akhirnya, wacana pindah itu hilang dengan sendirinya. Wacana baru muncul, katanya mau dijadikan kampung adat," kata warga.


Sekitar sepuluh tahun silam, pernah ramai orang bicarakan Cigumentong  kaitan dengan prediksi keberadaan harta karun. Sebagian warga Cigumentong mengakui akan hal itu. Bahkan, katanya,, kecurigaan peta harta karun itu kebanyakan di dalam kuburan  Tuan Block, alias Mr Yansen. Seorang Belanda yang pernah tinggal di Cigumentong hingga meninggal. Kuburan Tuan Block pernah dibongkar ternyata harta karun itu tidak terbukti. Kecuali, dalam kuburan itu hanya diitemukan piring kuno dan pekakas dari keramik.

Warga pun bercerita tentang Tuan Block yang pernah tinggal di Cigumentong sekitar tahun 1930-an. Diceritakan, bahwa Tuan Block itu berkebangsaan Belanda. Membuka usaha budidaya tanaman hias. Selama hidupnya, ia memiliki beberapa ekor kuda. Pasca usai Perang Dunia II, ia memilih untuk tetap tinggal di Cigumentong. Tidak pulang ke negaranya. Sebelum meninggal, Tuan Block membagikan lahan garapannya ke masyarakat setempat.

Resti Tiara, Mahasiswi Diploma UIN Sunan Gunung Jati Bandung pernah menulis  dalam thesisnya, bahwa Kampung itu sudah ada sejak jaman Kerajaan Sumedang Larang yang berdiri pada abad ke-15 M. Kampung Cigumentong bersama kampung tetangganya, yakni Kampung Cimulu dahulu kala merupakan batas dua Kerajaan yang dibangunkan pos penjaga perbatasan.

Tapi, menurut Engkos Perdana, yang dimaksud perbatasan dalam kontek thesis Resti Tiara itu, bukan perbatasan kerajaan. Namun, perbatasan antar dua kebupatian tempo dulu. Yakni antara Kebupatian Sumedang dan Kebupatian Parakanmuncang. Dua kebupatian itu, masih berada dalam pengaruh Kerajaan Mataram. Bahkan, Bupati Parakanmuncang pertama, Tanubaya alias Ki Somahita, mendapatkan gelar Tumenggung Tanubaya dari Sultan Agung Mataram. Karena dianggap berjasa menumpas pemberontakan Dipatu Ukur tahun 1633, " Hanya, waktu itu, apa Cigumentong masuk wilayah Kebupatian Sumedang, apa Parakanmuncang. Sekarang sudah jelas, Parakanmuncang masuk wilayah Sumedang. Berganti nama jadi Kecamatan Cimanggung," ujar Engkos.

Ada lagi satu tulisan menyebutkan bahwa kampung ini dihuni sekitar belasan kepala keluarga, yang sebagian merupakan pendatang yang berasal dari Majalaya, Tasikmalaya dan Lembang. Ditambah warga asli yang sejak lahir berada di Kampung Cigumentong Kampung ini memiliki keunikan tersendiri. Pertama, rumah penduduk Cigumentong berarsitekturkan rumah adat atau rumah panggung. Kemudian tiap tahun selalu diadakan pesta panen yang disatukan dengan hajat buruan. Berkaitan dengan cara berkebunnya, warga masyarakat selalu menggunakan bahan-bahan organik. Tidak ada yang menggunakan pupuk anorganik dan pembasmi hama pestisida.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun