Mohon tunggu...
Nicholas ZefanyaIskandar
Nicholas ZefanyaIskandar Mohon Tunggu... murid XI IPS 1

Nicholas ZI, Pria

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pandemi Black Death Yang Hampir Memusnahkan Eropa

31 Maret 2020   14:00 Diperbarui: 10 April 2020   17:48 54 0 0 Mohon Tunggu...

Black death atau lebih dikenal dengan nama maut hitam di Indonesia merupakan terjemahan dari bahasa Latin atra motrem ini mendapatkan namanya dari gejala yang muncul bagi para penderita. Kulit mereka menghitam, biasanya di bagian jari tangan, jari kaki, atau ujung hidung. Kehitaman itu muncul akibat adanya jaringan yang mati. 

Black death adalah sebuah pandemi yang pertama kali melanda di Eropa pada abad ke-14. Penyakit ini menyebabkan terbunuhnya setengah populasi Eropa atau sekitar 50 juta korban pada saat itu. 

Black death atau disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis (Pes) yang terdapat dalam kutu tikus, terutama tikus hitam yang banyak hidup di dekat perumahan manusia. Menurut sejarawan Norwegia Ole Jorgen Benedictow dalam bukunya The Black Death, 1346-1353, Pes muncul dari dekat Laut Kaspia, selatan Rusia kini masuk wilayah Ukraina), pada musim semi 1346. 

Persebaran Pes di mulai karena adanya tikus yang membawa kutu-kutu tersebut ke kapal dagang Itali, biasanya tikus yang terkerna Pes biasanya dapat hidup 20 sampa 14 hari setelah itu kutu akan mencari inang yang baru. Saat tikus-tikus ini mati disitulah para kutu mulai pindah ke manusia dan beradaptasi. Karena perdagangan tersebut melewati banyak wilayah maka persebaran bakteri dari kutu-kutu tersebut terjadi dengan sangat cepat. Tingginya angka kematian dari wabah Black death ini mengagetkan penduduk Eropa, mereka mengira bahwa wabah ini merupakan kutukan dari Tuhan bagi orang-orang berdosa tetapi mereka menyadari bahwa pemikiran tersebut salah ketika salah orang-orang beriman juga mati karena penyakit ini, mereka lalu mengkonklusikan bahwa penyakit ini terjadi karena udara yang busuk.

Pes sendiri dinyatakan pernah masuk Pulau Jawa pada tahun 1910, alhasil orang-orang belanda panik dan menerapkan sistem yang sangat intensif mereka mengisolasi dan membakar desa-desa yang tercemar.

Gejala black death sendiri sebenarnya tidak ada yang spesial seperti, demam, badan lemas, pusing tetapi yang membedakan Black death dari yang lain adalah menghitamnya kulit sang penderita, dari sanalaha penyakit ini mendapatkan namanya. 

Pada abad ke-16, dokter Prancis Charles de Lorme (1584-1678), dokter Louis XIII, menemukan setelan dokter anti-infeksi, yang juga dikenal sebagai "jas paruh" untuk para dokter wabah.

Sampai saat ini belum ada vaksinasi yang dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap penyakit pes. Konsumsi antibiotik dapat menjadi salah satu upaya pencegahan jika seseorang memiliki risiko terpapar penyakit pes ini.

Namun, pencegahan penyakit pes dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Mengawasi dan mengendalikan populasi hewan pengerat di lingkungan sekitar.
  • Hindari tumpukan benda rongsokan, makanan hewan atau kotoran yang memungkinkan tikus singgah.
  • Menggunakan sarung tangan jika sedang berhadapan dnegan hewan yang telah terinfeksi wabah.
  • Pastikan hewan yang dipelihara menggunakan produk antiserangga atau kutu.
  • Cegah hewan untuk tidur di kasur atau sofa ruang tamu agar penyakit pes tidak mudah tersebar.
  • Interaksikan pada dokter jika memang wabah pes sedang merebak agar mendapat penanganan awal.

Karena Black death sendiri masih terjadi sampai hari ini walau memang dalam jumlah yang jauh lebih sedikit, saya meminta kita semua untuk menjaga kesehatan dan juga kebersihan, apalagi saat ini kita sedang menghadapi Covid-19. Terima kasih telah membaca semoga Tuhan berkati

VIDEO PILIHAN