Mohon tunggu...
R Firman Syailendra
R Firman Syailendra Mohon Tunggu...

Lahir dan besar di Jakarta tetapi rindu bekerja dan berkeluarga dengan suasana kampung. Baru belajar menulis untuk melepas rindu dan mengikat kenangan. Belajar ngeblog baru beberapa waktu lalu lamanya. Blog bisa diakses di www.rfirmans.com. Semoga bisa terus menjelajah bumi Allah ini. Doakan ya.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Ketika Korban Merintih Sendiri

9 Oktober 2012   14:20 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:01 116 0 0 Mohon Tunggu...

Terlepas isu ini benar atau hanya mencari sensasi belaka, setidaknya sudah membuat geram Walikota Depok.   Adalah Nurmahmudi Ismail, Walikota Depok yang menganut prinsip education for all itu pun akhirnya geram bicara.

Kabar penculikan dan pemerkosaan yang menimpa seorang siswi di Kota Depok sudah menjadi sorotan publik.  Betapa tidak. Seharusnya pihak sekolah memberikan apresiasi karena keberanian tinggi yang dipamerkan oleh siswi itu. Keberanian untuk melapor. Ini dahsyat sekali. Bisa anda bayangkan. Umumnya korban pemerkosaan jarang ada yang berani melapor. Apatah melapor ke sekolah, bahkan curhat ke Ibunya sendiri saja kadang beraaaattt sekali. Sekolah sebagai pengayom, seyogyanya melindungi anak didiknya. Bukan kah GURU itu untuk di GUGU dan di TIRU kelakuannya.

Detik.com memberitakan, sekolah yang merasa dipermalukan itu, akhirnya memecat siswinya. Serasa tidak kuat menanggung malu.

Seperti yang saya catat.  Kisahnya ini pun berlaku di masyarakat keturunan Tionghoa. Sebut saja warga keturunan, baik itu di Singapura, Malaysia, bahkan di Indonesia sekalipun. Masyarakat keturunan Tionghoa memegang teguh tali keluarga. Dan, ketika gadis-gadis-nya  dilecehkan, dihina dengan kekerasan seksual, maka boleh dibilang sangat jarang sekali korban memberitahukan orang tuanya. Menutup aib keluarga menjadi prioritas, jelasnya.  Konon katanya, tidak dilaporkannya  tindakan kekerasan ini dikaitkan dengan penolakan budaya kekerasan seksual (Denov, Myriam 2004).

Seperti sekolah di Depok itu, biasanya keluarga si gadis pun akan memecat anaknya, dan dihalau pergi.

Komisi Nasional Perlindungan Anak telah meluncurkan Gerakan Melawan Kekejaman Terhadap Anak (2011). Faktor meningkatnya kekerasan tiap tahun pada anak adalah pemicu gerakan itu. Pada tahun 2009 lalu tercatat 1.998 kekerasan. Sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 2.335 kekerasan. Dan pada tahun 2011 setidak tercatat 156 kekerasan seksual khususnya sodomi pada anak. Untuk tahun 2012 ... ahhh

Ah sudahlah, jangan bicara angka. Hentikan kekerasan pada anak hari ini juga. Sudah sewajarnya mengeksploitasi logika anak demi pembenaran logika orang penganiaya, harus tegas dihentikan. Anak itu bukan orang dewasa yang kecil badannya. Biarkan logika anak merdeka dengan sendirinya.

Dalam Musnad Ahmad diriwayatkan dari Ummu Salamah RA. Dia berkata, “Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berada di rumah saya. Pembantuku melaporkan bahwa Fatimah RA  dan Ali RA ada di depan pintu rumah.  Lalu Rasulullah SAW berkata kepadaku, “Berdirilah dan beri tempat untuk keluargaku”. Kemudian saya berdiri dan menyingkir ke sisi rumah. Lalu Ali RA dan Fatimah RA masuk ke dalam rumah disertai Hasan dan Husain yang masih kecil-kecil. Rasulullah SAW kemudian meraih keduanya, lalu memangku mereka dan menciumnya. Beliau merangkul Ali RA dengan salah satu tangannya dan merangkul Fatimah RA di tangan yang lain. Kemudian mencium keduanya. Beliau menutupkan kain hitam kepada mereka semua dan berdoa,

“Ya Allah, bawalah saya dan keluarga saya menuju kepada-Mu, bukan ke neraka”.


Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, “Bagaimana dengan saya, wahai Rasulullah SAW”. Beliau pun menjawab, “Engkau juga”. “Engkau dalam kebaikan”, tambahnya.

Sahabat, tolong sampaikan peluk ciumku untuk anak-anakmu.

Sumber : rfirmans.com

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x