Mohon tunggu...
Niko Hukulima
Niko Hukulima Mohon Tunggu... Karyawan Swasta dan Aktivis Credit Union Pelita Sejahtera

Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan. Berusaha untuk lebih baik hari demi hari.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tite Oring - Bagian 1

5 Mei 2021   12:07 Diperbarui: 6 Mei 2021   07:50 239 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tite Oring - Bagian 1
Kelompok Koor Bapa-bapa Atakore - dok, pribadi

Saya punya teman SD dulu namanya Plea Warat (saya lupa nama baptisnya). Mereka tinggalkan kampung halaman tahun tujupuhan, pergi ke tanah "terjanji" Kalimantan untuk kehidupan yang lebih baik. Sejak saat itu saya tidak pernah dengar kabar tentang dia juga keluarganya. Mudah-mudahan semua mereka baik-baik saja. Nanti Opu Niko Warat yang sudah ada di WAG ini dapat ceritakan keberadaan mereka semua. Dan itu sebabnya saya bersyukur ada di grup (WAG) ini.

Saya masih ingat dengan terang satu kisah dengan dia pada suatu masa. Saat itu kami akan komuni pertama. Dan aturan dari panitia yang cukup membuat kami jengkel adalah soal pakaian. Atasan baju putih lengan panjang, sementara bawahan bukan celana tapi sarung tenun, dipakai dengan cara di lilit di pinggang, kita kenal dengan istilah "Hap Nowi". 

Bagaimana tidak jengkel, saat itu memiliki pakaian baru itu istimewa sekali, apalagi seperti kami anak-anak petani. Maka sebenarnya ini kesempatan bagus untuk "memaksa orang tua" untuk membelikan pakaian baru. Nyatanya hanya baju yang baru. Bawahan tetap celana rider kota-kotak (mudah-mudahan ada yang masih ingat hehe), yang jika dipakai satu dua kali, bagian bawah sudah melar tidak karuan, dibungkus dengan kain sarung (nowing).

Bagi teman-teman yang orangtuanya guru itu tidak masalah. Mereka biasa memiliki pakaian baru  secara rutin. Sementara kami... Tentu ini kesempatan bagus satu-satunya, namun apa boleh buat, keputusan panitian berkata lain. Itu sebabnya mengapa pada moment sakral tersebut malah amat menjengkelkan.

Tiba saatnya hari bersejarah tersebut. Semua calon penerima Komuni Pertama berbaris panjang dan rapih didepan kapela. Pendamping yang adalah orang tua masing-masing tersenyum bangga. Kontras dengan kami, sebagian besar gundah-gulana oleh "bawahan" yang kami kenakan, amat tidak sesuai harapan. Ketika menunggu acara perarakan masuk kapela itulah terjadi sesuatu diluar dugaan. 

Teman saya Plea, keluar perlahan dari barisan, dan lari sekencang-kencangnya menuju semak-semak uta makejawa yang rimbun. Gegerklah semua orang. Acara ditundah beberapa saat untuk mengatasi masalah ini. Beberapa orang tua akhirnya keluar juga dari barisan, berlari mengejar teman saya ini. Mereka berhasil menangkap dan membawahnya pulang masuk ke barisan dalam keadaan masih menangis terseduh-seduh. Acarapun segera dimulai.

Mereka giat berlatih untuk acara 10 Juni 2021
Mereka giat berlatih untuk acara 10 Juni 2021

Setelah selesai, kami ramai-ramai bertanya, gerangan apa yang terjadi sehingga dia melakukan hal itu?  Dengan tertawa teman saya ini bercerita; "saya sebenarnya tidak suka dengan bawahan ini; hap nowi". Maka saya ingin lari dan tidak mau ikut acara ini. Kami semua tertawa namun mengamini sikap dia ini dengan mengatakan, kami juga sebenarnya tidak suka hehe.... Hanya dia yang berani mengambil langkah diatas.

Keberanian itu berlanjut, saat semua orang nyaman tinggal di kampung Watuwawer, keluarga mereka malah memutuskan untuk pergi menuju Kalimantan, untuk kehidupan yang mereka yakini akan lebih baik. Keputusan yang luar biasa karena pasti mereka juga belum tahu gerangan apa yang akan terjadi disana dan apa yang mereka akan lakukan di sana. 

Untuk keberanian ini, saya masih ingat, ketika berangkat sekolah ke SMP Negri Atadei-Kalikasa yang dekat saja, saya selalu sedih, tidak mau berangkat sampai dimarahi habi-habisan oleh ibu saya. Rasanya berat meninggalkan kampung dan pengen segera pulang lagi. Mereka malah meninggalkan kampung sekeluarga-keluarganya, untuk jangka waktu lama, entah sampai kapan bisa kembali lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x