Edukasi Pilihan

Pemuda Desa Penggerak Literasi di Kampung Baca Temugiring

14 Juni 2018   11:58 Diperbarui: 14 Juni 2018   12:09 307 1 1

Siapakah anak yang kurang beruntung di Indonesia? Apakah mereka yang tidak mendapatkan akses pendidikan? Apakah mereka yang tinggal di desa?

Menurut CBS Household Labour Survey, daerah tertinggal merupakan daerah yang memiliki angka signifikan dalam jumlah anak yang tidak menempuh jenjang pendidikan. Di daerah tertinggal terdapat banyak anak-anak yang bekerja setelah lulus dari sekolah dasar. Beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi ini adalah kemiskinan, kurangnya pengaruh orang tua dalam memotivasi anak, dan sulitnya akses pendidikan.

Nelson Mandela pernah mengatakan "pendidikan adalah senjata ampuh yang dapat mengubah dunia". Bila anak-anak Indonesia yang hidup di daerah tertinggal memiliki semangat dan akses yang tinggi untuk menempuh jenjang pendidikan dari yang terendah hingga tertinggi, mereka akan menjadi generasi emas Indonesia.

Anak akan bertumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya hingga anak akan menjadi pemuda yang akan meneruskan estafet perjuangan untuk memajukan Indonesia. Satu pemuda saja dapat memberikan perubahan, apalagi dengan sepuluh pemuda? Maka gegerlah dunia.

Terdapat suatu ungkapan yang sudah diketahui secara umum bahwa "tidak perlu mengeluarkan senjatauntuk menghancurkan sebuah bangsa, cukup hancurkanlah kehidupan para pemudanya, maka hancurlah bangsanya". Maka disinilah peran penting pendidikan sebagai langkah untuk menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kecerdasan untuk membangun negeri.

Bagaimana untuk merealisasikan harapan ini? Tentunya dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu desa. Upaya ini membutuhkan usaha yang tidak mudah, dibutuhkan kegigihan dari masyarakat itu sendiri. Sebagaimana ditulis oleh Gunawan dan Ari (2016: 1) dalam buku mereka yang berjudul Membangun Indonesia dari Desa: Pemberdayaan Desa sebagai Kunci Kesuksesan Pembangunan Ekonomi untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat, bahwa untuk membangun Indonesia menjadi negara yang besar, kuat, dan hebat, haruslah dimulai dari desa. 

Desa Temugiring atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan "Kampung Baca Temugiring" merupakan contoh daerah terisolir yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di kabupaten Gunung Kidul yang merupakan salah satu daerah yang terkena dampak banjir pada tahun 2017. Masyarakat setempat mengungkapkan bahwa daerah tersebut terisolasi karena dikelilingi hutan dan sungai serta akses untuk menuju ke daerah tersebut masih sangatlah susah.

Hal ini menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan masyarakat setempat. Angka putus sekolah sangat tinggi, banyak anak-anak yang tidak menyelesaikan program belajar hingga tuntas. Alasan putus sekolah antara lain adalah untuk membantu orang tua di rumah dan ketidaksediaan biaya untuk mencukupi kebutuhan sekolah.

Setelah memperoleh ijazah SD, SMP atau SMA, para pemuda lebih memilih merantau ke kota dengan alasan di desa tidak menjanjikan harapan yang lebih baik. Kota dipandang memiliki harapan penghidupan yang layak untuk kehidupan lebih maju. Namun, jenjang pendidikan yang rendah menyebabkan mereka mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan rendah.

Kampung Baca Temugiring merupakan salah satu contoh kampung yang mulai berkembang melalui budaya literasi. Literasi hanya terdiri dari satu kata yang terlihat sederhana namun memiliki kompleksitas yang tinggi. Esensi dari budaya literasi itu sendiri bukan hanya tentang membaca buku, namun tentang respon dan aksi setelah membaca buku. Bagaimana menumbuhkan interaksi yang terjadi di dalamnya mengenai cerita dan respon tentang buku yang di baca.

Tokoh utama penggerak dan tombak pencerahan literasi di Kampung Baca Temugiring adalah pemuda. Membangun budaya literasi dengan pemuda sebagai penggeraknya, selain menjadi kegiatan positif bagi para pemuda itu sendiri, juga bisa mendorong kreatifitas anak-anak muda untuk tampil di depan umum di tengah-tengah masyarakat global.

Literasi merupakan salah satu langkah konkret untuk mengatasi kesenjangan sosial dalam masyarakat dengan menanamkan nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari buku sebagai sarana literasi. Korelasi literasi dengan pengembangan sumber daya manusia desa sangatlah erat. Literasi akan memperkuat kemampuan masyarakat untuk melek aksara dan melek teknologi serta membuka jendela wawasan terhadap dunia luar agar mampu berkompetisi.

Salah satu contoh kegiatan nyata pemuda penggerak literasi adalah pembangunan Taman Baca Masyarakat (TBM) yang tidak hanya dijadikan sebagai tempat untuk membaca, namun menjadi tempat pusat kegiatan belajar masyarakat. Kegiatan yang disusun berdasarkan kebutuhan ditingkat masyarakat terkecil, yaitu dimulai dari anak-anak.

Partisipasi anak-anak memudahkan dan meringankan (efisiensi) dalam upaya mewujudkan kecerdasan masyarakat. Penanaman kesadaran literasi sejak dini diharapkan akan mengurangi angka putus sekolah dan mengurangi angka urbanisasi. Pengembangan potensi anak melalui program-program di Kampung Baca Temugiring dapat meningkatkan kemampuan serta ketrampilan yang dapat digunakan untuk membangun desa mereka di kemudian hari.

Kegiatan literasi yang sudah berlangsung adalah kegiatan belajar mengajar di TBM setiap hari mulai dari jam 14.00 -- 17.00. Strategi pembelajarannya menggunakan comprehensive learning yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah kegiatan menanam sayuran dari penyemaian hingga memanen. Hal ini diharapkan menjadi bekal pengetahuan untuk anak-anak kelak di bidang pembangunan pertanian.

Selain itu, program untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi adalah diskusi antar pemuda yang bertempat di TBM. Melalui program ini, diharapkan terjadi komunikasi yang memungkinkan untuk saling bertukar informasi, pengalaman dan rencana pengembangan desa. Tidak jarang komunitas atau lembaga lainnya ikut berpartisipasi demi terciptanya kolaborasi nyata untuk mengembangkan potensi pemuda.

Kesadaran pemuda akan pentingnya literasi yang masih dalam tahapan mental diusahakan terlaksana dalam kegiatan sehari-hari yang memberikan dampak langsung di lingkungannya. Harapannya, mutu pendidikan di kampung semakin meningkat seiring dengan bertambahnya kemampuan literasi pemudanya.

Pemuda merupakan tokoh utama yang berperan sebagai penggerak dan hasilnya literasi warga akan meningkat seiring dengan kesadaran yang dihasilkan. Bertambahnya wawasan dan pengetahuan warga kampung akan menciptakan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kampung dalam segala bidang. Contohnya pembangunan kampung melalui bidang pertanian terpadu berbasis kewirausahaan yang digerakkan oleh pemuda itu sendiri dan berkelanjutan sehingga efek yang dirasakan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan perekonomian daerah.

Inilah potret dimana peran pemuda sebagai penggerak literasi sangatlah penting. Pemuda menjadi kekuatan penting di dalam pembangunan desa untuk menjadi lebih sejahtera, mandiri dan dapat bersaing secara global. Pemuda sebagai agen perubahan mampu menggerakan masyarakat untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Memajukan literasi demi mewujudkan tujuan pemerataan pendidikan di kalangan masyarakat desa.

Secara tidak langsung, literasi berperan mengubah anak kurang beruntung (para pemuda yang tinggal di daerah tertinggal (desa) dengan akses pendidikan rendah) menjadi pemuda yang beruntung karena tinggal di desa dengan akses literasi tinggi dimana pemuda itu sendiri berperan sebagai penggerak literasi.

Dengan tingkat literasi tinggi, para pemuda akan percaya potensi di kampung jauh lebih besar daripada di perkotaan. Bila suatu kampung memiliki tingkat literasi tinggi, maka urbanisasi dapat ditekan dan sumber kehidupan tidak lagi berpusat di perkotaan saja.