Mohon tunggu...
Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pegiat Budaya | Pekerja Sosial

Bukan untuk mendapatkan pujian

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Fam (Marga) Suku Dawan (Timor)

16 November 2021   06:25 Diperbarui: 16 November 2021   06:31 646 16 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi | Dokumen Neno Anderias Salukh

Jika seseorang menyebut atau memanggil menggunakan julukan marga, hal tersebut mengandung penghormatan dan kerendahan hati

Marga di Indonesia Timur lebih akrab dengan sebutan fam, secara khusus masyarakat Suku Dawan atau yang akrab disebut atoin meto di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut catatan sejarah, kata fam berasal dari bahasa Belanda familienaam yang berarti "nama keluarga".

Fam atoin meto merupakan nama keluarga atau marga yang digunakan di belakang nama depan masyarakat atoin meto, bisa juga disebut nama belakang. Nama keluarga yang digunakan adalah nama keluarga ayah sehingga dalam sebuah keluarga, nama keluarga anak-anak akan mengikuti nama keluarga ayah.

Hal ini dikarenakan praktek budaya atoin meto bersifat patrilineal. Meski di beberapa wilayah sistem perkawinan menggunakan praktek matrilineal, nama belakang atau marga tetap menggunakan nama keluarga ayah. 

Sementara seorang perempuan yang menikah dengan seorang laki-laki atoin meto akan menggunakan dua nama keluarga, nama keluarga suaminya dan nama keluarganya sendiri. Sementara di beberapa wilayah, perempuan yang sudah menikah tidak akan menggunakan nama keluarganya lagi, melainkan nama keluarga suaminya saja.

Misalnya perempuan bermarga Salukh, menikah dengan laki-laki bermarga Nope maka nama keluarganya akan berubah menjadi Nope-Salukh atau Nope yang disahkan secara adat dalam ritual Kaus Nono.

Baca: Perempuan dalam Kaus Nono  Suku Dawan (Timor)

Setiap fam atoin meto memiliki julukan, kadang disebut panggilan terhormat. Sub Suku Amanuban menyebutnya akun sedangkan Mollo menyebutnya otes. Jika seseorang menyebut atau memanggil menggunakan julukan marga, hal tersebut mengandung penghormatan dan kerendahan hati. Misalnya fam Salukh, julukan atau panggilan terhormatnya Soy-Nilla.

Dalam tutur sejarah lisan masyarakat atoin meto, fam dibentuk karena kebiasaan atau perilaku nenek moyang. Misalnya marga Salukh, Sapay, Neolaka, Boiyani. Empat marga tersebut adalah empat orang bersaudara yang kemudian masing-masing memiliki marga tersendiri.

Marga Salukh diberikan karena kebiasaan mengukur bahan-bahan makanan, mengurus barang-barang dalam keluarga yang dalam bahasa Dawan (Uab Meto) dikenal dengan istilah Sau Blua/Salu Blua. Kebiasaan inilah yang melahirkan sebutan Salu tetapi karena pengaruh dialek maka Salu berubah menjadi Salukh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan