Mohon tunggu...
Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Mohon Tunggu... Penulis Recehan

Most Viewed Content over 400.000 pageviews Kompasiana Award 2019

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengulas Status Bumi sebagai Tuhan dalam Sistem Kepercayaan Suku Dawan (Timor)

22 April 2020   18:21 Diperbarui: 24 April 2020   11:43 131 13 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengulas Status Bumi sebagai Tuhan dalam Sistem Kepercayaan Suku Dawan (Timor)
Potret Alam Kecamatan Ki'e, Kabupaten Timor Tengah Selatan | Dokumen Pribadi: Neno Anderias Salukh

Apa yang saya ulas dalam artikel ini, tidak bermaksud menyalahkan agama manapun atau mengkambinghitamkan salah satu agama sebagai penyebab ekploitasi alam di Pulau Timor secara liar. Tetapi, apa yang saya ulas merupakan cerita fakta yang dialami masyarakat Suku Dawan di Pulau Timor.

Beberapa mitologi dan budaya, bumi dilambangkan sebagai Dewa atau Dewi. Misalnya dalam Mitologi Arab, Dewi Allat dikaitkan dengan bumi sedangkan di Vietnam, Laos dan Kamboja, perempuan bernama Sowathara disebut sebagai simbol kesuburan bumi.

Mitologi memiliki peran penting dalam membentuk perspektif masyarakat terhadap bumi. Tingkah laku dan segala jenis tindakan manusia terbatas karena mitologi yang dianut menjadi margin sehingga potensi ekploitasi lingkungan diminimalisir sekecil mungkin.

Suku Dawan di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga memiliki sistem religi atau agama tradisional yang menempatkan bumi pada posisi tertinggi yang layak disembah.

Tiga bulan yang lalu, penulis menulis artikel di Kompasiana tentang sistem kepercayaan Suku Dawan (Timor) yang percaya bahwa bumi adalah Dewi (Tuhan) yang terkenal dengan sebutan Uis Pah.

Berdasarkan tuturan orang tua Uis Pah dipercaya sebagai Allah Ibu (Ain Usi) atau Dewi Kesuburan yang yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia.

Karena itu, masyarakat Suku Dawan sejatinya memahami dengan baik katarestik bumi dan cara memperlakukannya. Sebuah perlakuan atau tindakan manusia yang menyakiti atau tidak menghargai alam dipercayai membawa kutukan dan bencana bagi manusia.

Bumi mengendong dan menyusui manusia.
Manusia diidentikkan dengan bayi yang sedang menyusui sedangkan bumi sebagai ibu yang memberikan asupan ASI setiap saat kepada bayinya yang sedang berbaring di pangkuannya.

Mata air adalah air susu ibu dari bumi, tanah adalah daging dan batu adalah tulang. Manusia menghabiskan darah dan daging sang ibu (bumi) untuk bertahan hidup. Jika tulang dan daging bumi remuk maka manusia akan mati.

Filosofi inilah yang menjadi dasar Mama Aleta Baun, aktivis lingkungan hidup dari Timor memperjuangkan dan menyelamatkan ekploitasi batu marmer di pusat perairan pulau Timor (Mollo).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x