Mohon tunggu...
Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Mohon Tunggu... Petani

Berwajah Preman, Berhati Malaikat

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Mengapa Grup Facebook Selalu Ramai dengan Konten Negatif?

11 Juni 2019   14:03 Diperbarui: 11 Juni 2019   14:33 0 5 2 Mohon Tunggu...
Mengapa Grup Facebook Selalu Ramai dengan Konten Negatif?
Ilustrasi: republika.co.id

Kebanyakan grup facebook digunakan sebagai tempat penyeberan fitnah dan makian serta pornografi. Akhir-akhir ini Group Pemuda TTS (bebas bicara bicara bebas) dan Viktor Lerik Bebas Bicara Bicara Bebas digemparkan dengan postingan-postingan tak berbobot (pornografi, fitnah dan maki-makian). Bahkan, hingga saat ini grup facebook tersebut merupakan grup facebook yang paling tidak sehat.

Admin grup Viktor Lerik Bebas Bicara Bicara Bebas adalah Viktor Lerik (Politisi Baru di Partai Nasdem) pernah dipanggil untuk mempertanggungjawabkan segala postingan yang tidak berbobot tersebut.

Pernah juga terjadi postingan yang paling meresahkan dan membangkitkan amarah para anggota group Pemuda TTS (Bebas Bicara Bicara Bebas) adalah salah satu akun yang mengklaim diri asal Adonara. Mengundang reaksi dari berbagai orang dengan mengancam dan sebagainya.

Postingan itu berisi makian, hinaan dan fitnahan kepada orang Timor Tengah Selatan. Mengatakan orang TTS bodoh bahkan hingga makian yang tidak seharusnya diucapkan apalagi di media sosial.

Hal serupa dipastikan tidak terjadi saja di Nusa Tenggara Timur tetapi pasti pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Namun, yang perlu diketahui, postingan-postingan tak berbobot itu adalah akun palsu yang sengaja dibuat oleh seseorang untuk mencari sensasi. Mereka akan puas dan bangga ketika postingan mereka dilike,  dikomentari bahkan dibagikan oleh banyak orang walaupun postingan itu menuai caci maki.

Akun palsu tersebut memanfaatkan anggota group yang cenderung memberi komentar pada postingan-postingan tak berbobot. Karena faktanya demikian, kebanyakan anggota group hanya menunggu postingan tak berbobot untuk berkomentar.

Harus diakui bahwa manusia Indonesia masih lemah literasi sehingga belum pintar dalam mencerna dan menyaring sebuah informasi negatif atau konten negatif.

Anggota group Facebook seringkali menghindar dari topik-topik politik, isu pendidikan, kesehatan dan masalah sosial lainnya. Link dan berita yang dishare ke grup akan hilang tanpa like, komentar sedikitpun sedangkan postingan yang berisi konten pornografi dan makian akan bertahan menjadi postingan headline group dan menjadi postingan populer yang dikomentari puluhan orang.

Oke, mungkin ada komentar positif yang menolak dan tidak setuju terhadap isi dari postingan tersebut tetapi yang perlu kita ketahui komentar-komentar kita akan membuat postingannya semakin populer dan mengundang banyak tanggapan.

Akibatnya, hal-hal positif yang di-posting ke grup hilang dan tidak dapat didiskusikan. Orang-orang pun akan menilai bahwa grup tersebut lebih banyak konten negatif sehingga ia akan memilih untuk tidak mengakses ke grup tersebut.

Lalu, akibatnya apa? Akun palsu yang dipenjarakan? Tidak. Kita akan menjadi bahan tertawaan karena menanggapi orang bodoh. Kita akan diibaratkan seperti kaum sumbu pendek yang mudah meledak karena tidak mengontrol emosi.

Oleh karena itu, melalui tulisan singkat ini saya mengajak seluruh pengguna media sosial yang juga merupakan anggota group yang selalu dikuasai oleh konten negatif agar jangan memberi like, komentar atau bagikan postingan-postingan yang berisi konten negatif baik itu fitnahan kepada kita karena itu adalah akun palsu yang tak bertanggung jawab.

Mari ramaikan group facebook dengan diskusi-diskusi positif sehingga postingan-postingan yang berisi konten negatif dengan sendirinya hilang.

Di sisi lain, banyak hal positif yang diperoleh. Biasakan diri membaca berita atau artikel positif mengenai isu politik, pndidikan, kesehatan dan lainnya dan sebaliknya membiasakan diri untuk tidak membaca konten-konten negatif yang tidak memiliki nilai tambah sama sekali.

10 Juni ini merupakan hari media sosial. Kiranya pengguna media sosial semakin membenahi diri agar media sosial tetaplah media sosial bukan media penyebaran hoax, makian dan pornografi.

Terima kasih!

Mauleum, 10 Juni 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x