Mohon tunggu...
Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Mohon Tunggu... Petani

Berwajah Preman, Berhati Malaikat

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Posisi Rusia jika terjadi Perang antara AS dan Iran

20 Mei 2019   20:10 Diperbarui: 20 Mei 2019   23:01 0 5 1 Mohon Tunggu...
Posisi Rusia jika terjadi Perang antara AS dan Iran
Menlu Rusia, Sergei Lavrov, dan Menlu Iran, Javad Zarif, menggelar jumpa pers di Moskow, Rusia, soal perjanjian nuklir JCPOA pada Rabu, 8 Mei 2019. Reuters

Ketegangan Iran dan AS akhir-akhir ini semakin memanas. Kemungkinan perang bisa saja terjadi. Dimanakah posisi Rusia nanti?

Program pengembangan nuklir di Iran masih berkembang sampai dengan saat ini. Sejak tahun 1950 dibawah Pemerintahan Dinasti Pahlavi yang dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlavi, Program pengembangan nuklir sudah dilakukan, dibantu oleh pemerintahan Amerika Serikat dengan tujuan untuk perdamaian.

Pada tahun 1979, Revolusi Iran ditandai dengan jatuhnya Dinasti Pahlavi dan berdirinya Republik Islam Iran berakibat pada terhentinya program pengembangan nuklir di Iran.

Sebelumnya program pengembangan senjata nuklir Iran diizinkan oleh PBB melalui Perjanjian Non-proliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty).  Namun, setelah Revolusi Iran dan perjanjian baru pada tanggal 11 Mei 1995 di New York lebih dari 170 negara sepakat untuk melanjutkan perjanjian ini tanpa batas waktu dan tanpa syarat.

Perjanjian ini menghasilkan tiga pokok utama, yaitu non-proliferasi, perlucutan, dan hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan kedamaian di seluruh dunia.

Non-proliferasi adalah perjanjian dan penetapan negara-negara yang diperbolehkan menggunakan dan mengembangkan senjata nuklir. Negara-negara tersebut adalah anggota tetap dewan keamanan PBB yaitu Amerika Serikat, Britania Raya, Tiongkok, Perancis dan Rusia.

Alasannya adalah kelima negara tersebut sebagai negara yang memenangkan Perang Dunia II sehingga memiliki hak veto dalam segala keputusan tentang keamanan dunia.

Berdasarkan keputusan ini, tidak diperbolehkan kepada negara manapun untuk mengembangkan senjata nuklir dengan alasan apapun. Akan tetapi, terdapat dua negara yang dicurigai oleh dewan keamanan PBB yang sedang mengembangkan nuklir secara diam-diam yaitu Iran dan Arab Saudi. Namun, Arab Saudi memilih untuk berhenti mengembangkan senjata nuklir sedangkan Iran mengembangkan senjata nuklir terus-menerus.

Iran kembali memulai usaha pengembangan senjata nuklir pada tahun 1990an. Awalnya Iran membangun proyek Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bushehr, Iran.

Dibalik pembangunan Proyek PLTN, Iran bermitra dengan Rusia untuk mengembangkan senjata nuklir. Ambisi Iran untuk mengembalikan Iran kepada sejarah Dinasti Pahlavi yang mengembangkan nuklir ditegaskan oleh Mantan Menteri Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi bahwa: "Iran akan mengembangkan kemampuan tenaga nuklir dan hal ini harus diakui oleh perjanjian."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3