Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Petani

Sebuah ide hanyalah khayalan belaka tanpa disuarakan. Saya bukan orang yang hebat menulis tetapi saya adalah orang yang belajar menulis karena melalui menulis kita bisa menuangkan ide-ide kita dan semuanya itu akan menjadi inspirasi bagi orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Panasnya Politik Menjelang Pemilihan Presiden 2019

12 Juni 2018   19:30 Diperbarui: 12 Juni 2018   19:37 402 1 1
Panasnya Politik Menjelang Pemilihan Presiden 2019
artikel-5b1fc0bdcaf7db24950b4312.jpg

Panasnya politik menjelang Pemilihan Presiden 2019 (Pilpres 2019) semakin terasa setelah dirilisnya lagu #2019GantiPresiden dan "Kampret Pengen Ganti Presiden".

Perlu diketahui bahwa lagu #2019GantiPresiden diciptakan oleh politikus PKS, Mardani Ali Sera sedangkan lagu "Kampret Pengen Ganti Presiden" diciptakan oleh Politikus Hanura Inas Nasrullah Zubir. Lagu #2019GantiPresiden diciptakan sebagai Mars Gerakan Nasional #2019GantiPresiden sedangkan lagu "Kampret Pengen Ganti Presiden" diciptakan sebagai rudal untuk menenggelamkan Gerakan Nasional #2019GantiPresiden.

Perang politik melalui lagu memiliki tujuan politik tersendiri dari masing-masing kubu. Gerakan Nasional #2019GantiPresiden melihat Jokowi sebagai Presiden yang gagal dengan salah satu alasan kemiskinan masih merajalela dan lainnya seperti tarif listrik masih mahal dibandingkan dengan negara-negara Asean lainnya. 

Sedangkan dari pihak Jokowi melihat Jokowi sebagai presiden yang lebih baik dari sebelumnya dimana pembangunannya merata untuk semua daerah di Nusantara sehingga perlu tenggelamkan Gerakan Nasional #2019GantiPresiden yang dianggap Gerakan Haus Kekuasaan dengan salah satu lagu karangan Politikus Hanura, "Dia Bekerja untuk Kita" selain lagu "Kampret Pengen Ganti Presiden".

Kekuatan dan Kelemahan Gerakan Nasional #2019GantiPresiden

Gerakan ini sangat kuat didukung oleh beberapa pihak elite yang merupakan lawan politik Jokowi. Gerakan masa dan kampanye dengan berbagai cara dan strategi telah diluncurkan. Alasan dan bukti mereka ganti presiden sangat logis dan masuk akal sehingga hal ini menjadi pertimbangan khusus masyarakat untuk tidak ragu mendukung gerakan ini. 

Namun, dengan munculnya lagu #2019GantiPresiden Politikus Hanura Inas Nasrullah Zubir mengatakan lagu itu di daur ulang setelah kalah saing dengan lagu ciptaannya. Inas melihat ini sebagai tindakan kalang kabut dari lawan politiknya Jokowi yang sudah tak mampu membendung popularitas dan elektabilitas Jokowi.

Apakah demikian?

Penulis melihat ini dari sudut pandang yang berbeda. Gerakan ini memiliki semangat dan kekuatan yang luar biasa. Semangat dan kekuatan ini ditunjukan melalui deklarasi gerakan dan dirilisnya vidio clip lagu #2019GantiPresiden. Namun, kekuatan ini dipatahkan dengan beredarnya isu Intoleransi dan Radikalisme.

Intoleransi dan Radikalisme dianggap lebih berbahaya daripada bayar listrik mahal dan kemiskinan. Mengapa? Buktinya masyarakat Indonesia masih setia bayar listrik dan masyarakat Indonesia yang berasal dari kaum miskin masih hidup. Rakyat lebih memilih hidup aman dan bertoleransi daripada hidup serba berkecukupan dan serba murah tapi tidak adanya toleransi dan paham yang memecah belah kesatuan bangsa.

Kekuatan dan Kelemahan Gerakan Coret Ganti Presiden

Kepemimpinan Jokowi sejak menjabat sebagai Walikota Solo mengundang perhatian dunia. Kesederhanaan dan merakyatnya membawanya merebut takhta Republik ini. Selama memimpin negara yang berdasar pancasila ini mengundang perhatian dan rasa cinta rakyat kecil kepadanya. Keberpihakan kepada minoritas dan keadilanlah yang membuatnya menjadi pemimpin idola dan tetap menjadi Presiden di Pilpres 2019. 

Namun, perlu diakui bahwa membawa sebua negara dari ketertinggalan tidaklah gampang dan membutuhkan waktu yang lama. Buktinya belum seratus persen pembangunan dan pemberantasan kemiskinan dan kebodohan belum merata di semua daerah. Hal inilah yang digunakan lawan politik untuk menjatuhkan Jokowi dan merebut kursi Presiden Indonesia.

Penulis melihat suatu hal yang belum dibaca oleh pihak Jokowi. Banyak pernyataan dan hal-hal yang bukan kontroversi tetapi dapat mengundang pernyataan yang dapat mengundang kontroversi. Namun, pihak Jokowi membalas dengan kontroversi. Contohnya dua lagu yang baru dirilis, lagu #2019GantiPresiden dan "Kampret Pengen Ganti Presiden".

Lagu #2019GantiPresiden tidak kontroversi tetapi dapat mengundang kontroversi sedangkan lagu "Kampret Pengen Ganti Presiden" menjadi lagu yang dapat mengundang kontroversi karena lagu ini kedengaran kasar. Inilah yang perlu diperhatikan oleh pihak Jokowi.

Drama ini akan terus berlanjut hari demi hari sampai dengan 17 April 2019. Siapakah yang akan keluar sebagai pemenang?

Rakyatlah Jurinya