Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Bunda tiga dara: Putik Cinta Khairunnisa, Annajmutsaqib, Fattaliyati Dhikra

Menulis cara saya meluapkan segala rasa: gelisah, marah, bahagia, cinta, rindu, harapan, kesal, dan lain-lain.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Ikutan Samber THR Kompasiana 2021, Jantung Saya Dagdigdug

8 Mei 2021   20:54 Diperbarui: 8 Mei 2021   21:06 243 9 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ikutan Samber THR Kompasiana 2021, Jantung Saya Dagdigdug
kompasiana.com


Sejatinya ini adalah Samber THR tahun kedua yang seharusnya bisa saya ikuti. Tapi sepertinya akan terlewati begitu saja deh. Sayang banget sih. Padahal kompetisi ini bisa menjadi ajang mengasah kemampuan saya menulis.

Samber THR tahun lalu saya lewati begitu saja karena tidak tahu. Maklum, saya masih baru di Kompasiana. Benar-benar baru banget bergabung dan masih polos. Tidak mengerti selanjutnya harus bagaimana. Jadi, saat itu menulis yang receh-receh begitu.

Tahu ada kompetisi Samber THR ketika membaca tulisan pak guru Ozy V Alandika yang mendapatkan hadiah kulkas. Saya tidak tahu apakah hadiah ini sebagai hadiah utama.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Saat itu, saya menduga pak guru Ozy masih pelajar SMA karena tulisan yang menanti kulkas tiba untuk dipersembahkan kepada emak, seperti pelajar yang curhat. Eh, belakangan saya baru tahu ternyata seorang guru. Guru muda dan enerjik. Lha kok jadi mengulas sosok ini? Bisa-bisa terbang dia hehehe... 

Samber kali ini sepertinya juga akan terlewati begitu saja. Saya tahu ada kompetisi Samber, tapi saya tidak tahu ternyata setiap hari mengulas tema berbeda. Saya pikir selama sebulan itu, menulis apa saja terkait ramadhan. Tanpa tema tertentu.

Saya baru menyadari setelah membaca beberapa tulisan Kompasianer kok mengangkat hal yang sama? Itu pun setelah beberapa hari Ramadhan. Setelah saya cek, ternyata temanya memang sudah ditentukan.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Saya pun berpacu dengan waktu. Keesokan harinya saya menulis sesuai dengan tema. Saya kasih limit waktu kepada diri saya, sebelum tidur malam, tulisan itu sudah harus tayang. Di sela aktifitas saya, saya curi-curi kesempatan. Jika tulisan saya belum rampung, jantung saya jadi dagdigdug.

Tapi, apa boleh buat selama seminggu saya tidak menayangkan satu tulisan pun karena kesibukan saya. Peluang saya sepertinya kecil untuk bisa memenangi kompetisi ini. Peluangnya tipis banget. Nah, saya kembali dagdigdug deh.

Bukannya saya pesimis sih, tapi lihat faktanya ya begitu. Bayangkan saja, sampai hari ke-25 ini, saya hanya bisa mengikuti 9 tulisan yang sesuai tema. Ada 16 tulisan yang terlewatkan begitu saja karena faktor tidak tahu dan tidak ada waktu.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Jadi, bagaimana mungkin saya bisa mendulang juara? Syarat utama menulis selama satu bulan tanpa putus saja tidak terpenuhi. Gagal deh saya menyaingi pak guru Ozy. Energinya untuk menulis tidak pernah kendor.

Meski "kecewa", saya masih tetap bisa menulis. Menuangkan pikiran saya sesuai tema. Tidak masalah jika akhirnya tidak disertakan sebagai peserta. Paling tidak, saya bisa ikut meramaikan. Yang terpenting lagi, saya masih bisa terus mengasah kemampuan menulis saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN