Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Lainnya - ibu rumah tangga biasa dengan 3 dara cantik yang beranjak remaja
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, insyaallah tidak akan mengecewakan...

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Asyik Juga Berkuda di Kawasan Gunung Bromo

30 Desember 2020   20:00 Diperbarui: 30 Desember 2020   20:05 602
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Bu, ndak naik kuda aja. Murah kok bu," kata lelaki paruh baya ketika saya tengah berjalan kaki menyusuri padang pasir di kaki gunung Bromo, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Selasa (29/12/2020). 

Saya memang berjalan kaki untuk mengawasi anak-anak saya yang tengah menunggang kuda. Terbiasa berjalan kaki membawa saya untuk ya inginnya berjalan kaki. Jarak 1 km buat saya mah masih bisa ditempuh. Sudah terbiasa.

"Nggak pak," kata saya menolak. Wajah lelaki yang legam yang sepertinya terbakar terik matahari itu terus membuntuti saya.

"Buat penglaris aja nih bu," katanya. Sorot matanya terlihat kecewa. Seperti warna sarung lusuhnya yang melingkar di bahunya. 

Sekali trip ia mematok tarif Rp100.000. Tarif ojek kuda itu sudah termasuk untuk perjalanan kembali menuju titik pemberhentian jeep. Karena saya tidak bergeming, ia pun menurunkan tarifnya.

Karena tidak enak hati dan kasihan, saya pun akhirnya menunggangi kudanya. Si Bapak mengajarkan saya bagaimana cara menaiki kuda. Satu kaki bertumpu pada pijakannya, kemudian tubuh harus didorong untuk menaiki kuda sampai bisa duduk di pelana. 

"Bagaimana, duduknya sudah enak?" tanyanya yang saya jawab sudah setelah saya membaguskan posisi duduk saya.

Badan saya terlalu kaku untuk naik seekor kuda. Dia terus menyuruh saya untuk rileks dan menikmati setiap hentakan kaki kuda yang diikuti dengan irama tubuh yang juga bergerak.

Dia pun mengikuti langkah kuda sambil memegang tali yang terikat di kalung kuda. Sambil berjalan saya mengajaknya mengobrol. Katanya, dia sudah lama bekerja sebagai penuntun kuda wisatawan. 

Berjalan kaki sejauh 1 km ke kaki gunung Bromo lalu kembali sejauh 1 km lagi, itu sudah biasa. Menjadi rutinitas yang dilakoninya selama 22 tahun ini. Jadi, jangan tanya capek atau tidak.

"Kalo jalur pendakian ke Gunung Bromo dibuka, kudanya bisa sampai sana, Bu," kata lelaki yang mengaku bernama Sudi, itu sambil menunjuk tanpa hijau dua di punggung gunung Bromo.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun