Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Bunda tiga dara: Putik Cinta Khairunnisa, Annajmutsaqib, Fattaliyati Dhikra

Menulis cara saya meluapkan segala rasa: gelisah, marah, bahagia, cinta, rindu, harapan, kesal, dan lain-lain.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Belajar Tahsin, Cara Membaca Tanda-tanda Berhenti

31 Oktober 2020   12:24 Diperbarui: 31 Oktober 2020   12:49 40 14 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Belajar Tahsin, Cara Membaca Tanda-tanda Berhenti
Dokumen pribadi

Seperti biasa, Sabtu (31/10/2020), saya kembali belajar tahsin. Ini minggu ke-11 saya mengikuti kegiatan yang diadakan DKM Al Ihsan Permata Depok, kompleks rumah saya tinggal. Masih diadakan secara virtual melalui aplikasi zoom.

Pembelajaran diawali dengan membaca basmallah dan doa pembuka majelis. Kali ini saya dan murid-murid yang lain belajar cara membaca tanda berhenti atau waqaf yang artinya menahan atau berhenti. 

Tanda-tanda berhenti atau waqaf, maksudnya, menghentikan bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan yang bertanda waqaf untuk bernapas dengan niat ingin menyambungkan kembali bacaan.

Guru tahsin, Ibu Zahra Faiza, menjabarkan ada banyak tanda wakaf. Namun, yang dipelajari kali ini tanda waqaf:

1. Tanda mim atau huruf "mim", yang berarti harus berhenti di akhir kalimat sempurna. Waqaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya.

Kalau diperhatikan, tanda "mim" mirip dengan tanda baca iqlab, namun sangat jauh berbeda dengan fungsi dan maksudnya.

2. Tanda berhuruf "lam alif" atau "laa" yang  artinya tidak boleh berhenti. Tanda ini muncul kadang di akhir kalimat, terkadang juga di pertengahan ayat.

Jika terdapat tanda waqaf ini di tengah ayat, maka tidak diperbolehkan berhenti. Tetapi jika tanda waqaf ini berada di akhir ayat maka diperbolehkan berhenti.  

3. Tanda berhuruf "qof lam yaa" atau Al-Waqfu Aula yang artinya lebih baik berhenti, namun boleh lanjut.            

4.  Tanda berhuruf sad-lam-ya' yang berarti lebih baik lanjut, namun boleh berhenti, maka dari itu meneruskan bacaan tanpa mewaqafkannya adalah lebih baik.

5. Tanda berhuruf jim yang berarti boleh berhenti dan boleh untuk dilanjutkan.

6. Tanda bertitik tiga yang biasanya ada dua tanda titik tiga, yang berarti berhenti di salah satunya.

Cara membaca waqaf ini adalah dengan memilih berhenti pada kata pertama atau kata kedua. Jika berhenti pada kata pertama, maka tidak boleh berhenti lagi di kata kedua. Sebaliknya, jika berhenti di kata kedua, maka tidak boleh berhenti di kata pertama.

"Kalau kita berhenti sembarangan, itu akan juga memengaruhi arti bacaan. Kalau napas kita tidak kuat bisa berhenti, tapi harus diperhatikan pula arti secara keseluruhan karena salah berhenti memengaruhi arti," jelas guru tahsin.

Contoh bacaan dengan tanda-tanda berhenti (dokumen pribadi)
Contoh bacaan dengan tanda-tanda berhenti (dokumen pribadi)

Adapun cara berhenti di akhir kalimat tergantung dari huruf di akhir kalimat. Kalau di akhir kalimat adalah huruf qolqolah bertasydid, maka dibacanya qolqolah bertasydid.

Misalnya huruf terakhir huruf "ba bertasydid, atau jim bertasydid, atau qof bertasydid", maka tasydidnya ikut terbaca lalu memantul. Seperti kata "waalhajji" dibacanya "waalhajje" atau kata "alhaqqi" dibacanya "alhaqqe".

Bagaimana jika huruf terakhirnya "mim" atau "nun" bertasydid? Maka dibacanya ditekan dengan ghunnah panjang sangat sempurna dengan panjang 2 harakat.

Misalnya kata terakhir "ujuwrohunna" dibaca "ujuwrohunn" atau kata "fil yaummi" dibaca "fil yaumm".

Pembelajaran selanjutnya mengenai membaca tanda hamzah washal, yaitu huruf bantuan untuk menyambung suatu kata.  Hamzah washal muncul pada huruf yang diawali dengan huruf sukun atau mati. 

Karena sulit membaca kata yang diawali sukun, maka muncul huruf yang dinamakan Hamzah Washal untuk membantu menyambung pengucapan.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

"Tanda baca ini biasanya hanya ada di Alquran cetakan Madinah, kalau cetakan Departemen Agama tidak ada. Tanda hamzah washal ini berupa kepala huruf shad tanpa perut," katanya.

Cara membaca hamzah washal, jika tanda ini berada di tengah bacaan, hamzah washal tidak dibaca.

Kalau di awal kalimat, dilihat dulu, jika tanda hamzah washal bertemu huruf lam dibaca dengan huruf harakat fathah. Misalnya hamzah washal bertemu lam bersukun, maka dibacanya "al".

Pokoknya, apabila ada hamzah washal di setiap kata "al" maka hamzah washal-nya dibaca fathah.

Jika setelah tanda hamzah washal bukan huruf lam, maka harus dilihat tanda baca di huruf ketiga, dihitung mulai dari tanda hamzah washal.

Kalau huruf ketiganya berharakat dhammah, maka dibaca "u". Kalau huruf ketiganya berharakat fathah atau kashrah maka dibacanya tetap kashrah atau "i".

"Jadi dilihat saja, kalau huruf ketiga dhammah, maka hamzah washal-nya dhammah. Kalau huruf ketiga kasrah, maka hamzah washal-nys kasrah. Kalau huruf ketiga fathah, maka hamzah washal-nya kasrah," jelasnya.

Huruf ketiga ini termasuk dihitung huruf yang bertasydid karena huruf bertasydid hakekatnya ada dua huruf yang sama, yang satu bersukun, yang satu berharakat.

Demikianlah pembelajaran tahsin selama 2 jam itu. Setelah tidak ada lagi yang bertanya pembelajaran pun ditutup dengan membaca hamdalah dan doa penutup majelis.

Pembelajaran akan dilanjutkan dua pekan berikutnya mengingat guru tahsin ada acara keluarga, yaitu pernikahan anaknya yang perempuan.

Meski begitu, guru tahsin meminta para murid untuk mengulang-ulang pembelajaran yang sudah dipelajari. Info selanjutnya akan disampaikan di group WA.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Wallahu a'lam bish-shawab

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x