Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Lainnya - ibu rumah tangga biasa dengan 3 dara cantik yang beranjak remaja
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, insyaallah tidak akan mengecewakan...

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Cegah Penularan Covid-19, Jangan Mengobrol dan Menelepon Saat Naik Kereta

30 September 2020   12:55 Diperbarui: 30 September 2020   13:55 158
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Waktu saya naik commuter line relasi Stasiun Jakarta Kota dari Stasiun Citayam, Senin (28/9/2020) pagi, penumpang penuh juga ternyata, meski tidak sesak. Ini kali pertama saya naik kereta lagi setelah pemberlakuan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) jilid 2 yang digulirkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada Senin, 14 September 2020.

Tadinya saya berpikir, suasana di dalam gerbong sepi. Penerapan PSBB jilid 2 yang menandakan Jakarta tidak aman dari penularan Covid-19 sepertinya tidak membuat "nyali" masyarakat ciut.

Karena "penuh" jadi sudah bisa dipastikan saya berdiri. Sambil sesekali memperhatikan keadaan, saya memainkan hp saya: bermain game, membaca berita, membalas chat, atau nimbrung di group.

Di tengah perjalanan, saya melihat petugas keamanan menegur penumpang perempuan muda yang berdiri mengobrol dengan penumpang yang duduk di depannya. Perempuan dan masih muda juga. Mungkin mereka berdua saling berkawan. Penumpang yang berdiri ini ngobrol sambil maskernya diturunkan.

"Mbak, mbak, dilarang ngobrol. Maskernya juga dipakai," tegur petugas. Meski ucapannya tidak kencang, tapi terdengar oleh saya. Perempuan muda itu nengiyakan, dan petugas kembali ke posisi semula, berdiri dekat pintu.

Saya pikir kalau sudah diingatkan, orang itu tidak akan mengulangi kesalahannya. Nyatanya tidak. Penumpang itu kembali mengobrol dengan kondisi semula: masker yang diturunkan ke dagu. Melihat hal ini, petugas kembali mengingatkan.

"Mbak, dilarang ngobrol. Maskernya tolong dipakai. Kalau sekali lagi melanggar, mbak turun di stasiun terdekat," kata petugas "mengancam". Perempuan itu pun mengangguk lalu memakai maskernya dengan benar.

Saya heran, selama 6 bulan pandemi Covid-19 merongrong kebebasan beraktifitas masyarakat, masih saja ada orang yang menganggap enteng Covid-19. Masih saja belum tumbuh kesadaran untuk waspada. Padahal, petugas berkali-kali mengingatkan penumpang melalui pengeras suara (announcer) untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Petugas juga selalu mengumumkan protokol kesehatan Covid-19 yang harus dipatuhi penumpang. Selain memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun atau pakai hand sanitizer, juga ada tambahan peraturan saat naik kereta.

Yaitu tidak menggunakan masker tipe scuba dan buff, dianjurkan juga pakai face shield agar lebih aman, memakai baju lengan panjang (karena ada riset yang menyebut menggunakan pakaian lengan panjang ini menurunkan risiko penularan), hingga dilarang berbicara di dalam kereta dan menerima panggilan telepon karena bisa menimbulkan droplet yang dikhawatirkan dapat menyebar ke penumpang lain.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun