Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Bunda tiga dara: Putik Cinta Khairunnisa, Annajmutsaqib, Fattaliyati Dhikra

Menulis cara saya meluapkan segala rasa: gelisah, marah, bahagia, cinta, rindu, harapan, kesal, dan lain-lain.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Apakah Pembagian Kuota Internet Gratis Sudah Tepat Sasaran?

25 September 2020   12:35 Diperbarui: 25 September 2020   12:44 29 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Apakah Pembagian Kuota Internet Gratis Sudah Tepat Sasaran?
Dokumen pribadi



Beberapa hari lalu, ketika ada pertemuan orangtua murid dengan wali kelas 9, orangtua mendapatkan kartu perdana paket internet yang sudah tertera nama masing-masing anak. Kartu perdana ini dari salah satu operator telekomunikasi.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memang memberikan paket kuota gratis untuk siswa, guru, mahasiswa, dan dosen selama empat bulan mulai September hingga Desember 2020.

Tapi saya tidak tahu apakah kartu perdana yang saya terima itu bantuan kuota dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ) seperti yang diberitakan itu? Atau bantuan dari operator tersebut? Soalnya saya perhatian kartu perdana semua murid sama dari operator itu.

Semula saya berpikir, bantuan kuota gratis diisi ke nomor ponsel anak tanpa harus mengganti dengan kartu perdana. Saat saya tanya ke ibu guru, jawabnya tidak mungkin juga guru menginput sekian banyak nomor dari sekian banyak operator ke sistem.

Jadi, biar mudah maka diputuskan pakai kartu perdana dengan satu operator yang sama, yang nomor belakangnya pun saling berurutan antara siswa. Sehingga memudahkan guru (atau pihak operator?) menginput nomor ke sistem. Begitu penjelasannya kepada saya.

Tapi kalau berdasarkan Surat Edaran bernomor 8202/C/PD/2020 tanggal 27 Agustus 2020 terkait Program Pemberian Kuota Internet Bagi Peserta Didik, disebutkan pendistribusian kuota gratis ini melalui sekolah masing-masing yang sudah masuk ke dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Dalam surat edaran tersebut disebutkan setiap kepala sekolah menginstruksikan kepada setiap wali murid dan gurunya memberikan nomer ponselnya masing-masing untuk dimasukan ke dalam dapodik. Melalui dapodik akan memilah setiap operator seluler sesuai dengan opertornya, dan nanti akan diisi kuota data internet.

Pemahaman saya berarti murid memberikan nomer ponsel masing-masing, yang berarti nomer ponsel yang sudah ada, nomer yang biasa dipakai. Bukan nomor baru. Kecuali bagi siswa yang tidak pegang hp sendiri.

Sebagaimana saya ketahui, Selasa (22/9/2020) merupakan hari pertama penyaluran subsidi kuota belajar dari Kemendikbud. Siswa, mahasiswa guru dan dosen mendapat kuota dari penyaluran tahap satu pada 22-24 September, dan tahap dua 28-30 September.

Yang jadi pertanyaan saya, mengapa harus operator itu? Apakah sudah disurvey kualitas jaringan di masing-masing wilayah tempat tinggal para siswa? Saya lantas mencobanya hari ini, Jumat (25/9/2020).

"Kak coba kartu perdananya dipakai, bunda mau tahu sinyalnya bagus nggak di sini," kata saya pada anak pertama saya. Setelah dipindahkan, anak saya tidak perlu mendaftar lagi karena data NIK anak saya sudah terinput dalam sistem. Setidaknya ada notifikasi yang menyatakan demikian.

Saya coba browsing, sinyalnya lumayan ok. Kenapa beda dengan operator yang satu itu ya yang sering "E" atau error? Baguslah kalau ternyata kualitas jaringan operator itu ok juga.

Ya kan sayang saja kalau jaringan jelek kuota gratis jadi percuma juga dipakai. Sinyal yang naik turun pastinya akan menghambat kelancaran proses pembelajaran jarak jauh.

Tapi anak pertama (kelas 9) dan anak kedua (kelas 8) saya tidak mau pakai. Alasannya tidak mau ganti nomor. Alasan lainnya, di rumah sudah pakai WiFi, jadi buat apa ganti kartu?

"Lagi pula paket kuota gratis nggak bisa dipakai buat keperluan lain selain untuk kegiatan belajar yang waktunya juga udah ditentuin," kata anak pertama saya, Putik Cinta Khairunnisa.

Ibu wali kelas saat menerangkan pembagian kartu perdana paket internet (Dokumen pribadi)
Ibu wali kelas saat menerangkan pembagian kartu perdana paket internet (Dokumen pribadi)

Sesuai dengan Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemendikbud Nomor 14 Tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Kuota Data Internet Tahun 2020, bantuan kuota dibagi dalam dua penggunaan.Kuota umum: Kuota yang dapat digunakan untuk mengakses seluruh platform dan aplikasi; dan Kuota belajar: Kuota yang hanya dapat digunakan untuk mengakses laman dan aplikasi pembelajaran.

Ya, ya, ya, ya sudahlah. Saya tidak bisa memaksa. Kalau kartu perdana itu dihibahkan ke yang lain apa bisa? Pertama, kan semua siswa dapat. Baik siswa dari keluarga mampu atau kurang mampu, semua dapat.

Kedua, nomor kartu itu sudah terinput ke sistem dengan NIK nama anak bersangkutan. Jadi, sepertinya tidak mungkin juga. Eh, apa mungkin?

Menurut saya, pembagian kuota gratis ini seharusnya diberikan ke siswa yang benar-benar membutuhkan. Tidak dibagikan secara merata. Seharusnya diutamakan kepada siswa yang mengalami kesulitan ekonomi bila harus menambah beban pulsa.

Pihak sekolah bisa mendata mana siswa yang di rumah pakai WiFi, dan mana siswa yang tidak ada masalah dengan kuota. Penyortiran data ini penting dilakukan agar bantuan subsidi kuota bisa tersalurkan secara tepat sasaran. Apakah sulit untuk melakukan pernyotiran?

"Iya, kuota gratis itu kan nggak semua rumah siswa sinyalnya bagus untuk pemakaian kuotanya. Teman kakak aja ada yang ngeluh gitu," kata anak saya menanggapi pernyataan saya.

Berbeda dengan anak ketiga saya yang pelajar kelas 3 SD, kuota gratis disalurkan ke nomor hp yang sudah ada. Tidak diminta mengganti dengan kartu perdana baru. Wali kelas hanya memastikan apakah nomor telepon yang dilist sudah sesuai atau tidak?

Kata wali kelas anak saya, para siswa mendapatkan 35 GB per bulan dengan rincian 5 GB untuk kuota umum dan kuota belajar 30 GB. Tapi sampai sekarang saya belum mendapatkan notifikasi SMS yang menyatakan sudah mendapatkan kuota gratis, meski ada beberapa orangtua murid yang menyampaikan sudah dapat.

Mungkin tahap berikutnya? Saya sih tidak masalah juga kalau akhirnya tidak dapat kuota karena saya masih bisa pakai jaringan internet WiFi di rumah. Jadi, menurut saya, tidak perlu dipermasalahkan atau sampai diributkan. Anggap saja anak saya kurang beruntung.

Kata wali kelas, dengan diberikan kuota gratis tetap tidak seefektif tatap muka. Apalagi masih ada murid yang masih "menumpang" dengan ponsel orangtuanya atau harus bergantian dengan adik atau kakak.

Jadi, waktunya untuk mengumpulkan tugas terpaksa harus dimundurkan karena harus menunggu orangtua selesai bekerja. Guru pun memaklumi kondisi dan situasi tersebut agar anak tetap semangat untuk belajar.

Masalah pembelajaran jarak jauh ternyata belum tuntas juga ya. Oh corona, cepatlah berlalu dari negeri ini.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x