Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Bunda tiga dara: Putik Cinta Khairunnisa, Annajmutsaqib, Fattaliyati Dhikra

Menulis cara saya meluapkan segala rasa: gelisah, marah, bahagia, cinta, rindu, harapan, kesal, dan lain-lain.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ingat, Sabar Itu Tiada Batas

5 Juli 2020   12:05 Diperbarui: 5 Juli 2020   12:19 33 2 0 Mohon Tunggu...

"Sabar, sabar, sabar. Sabar ada batasnya juga kali," kata seorang kawan, ketika saya menasihatinya. Ia begitu kesal atas persoalan rumah tangganya. Kesal atas sikap suaminya yang di matanya tak jua berubah. Kami memang bersahabat. Jadi dia mencurahkan kekesalan hatinya.

"Ini sudah berulang kali soalnya. Selama belasan tahun coba, bayangin. Kesabaran gue udah habis. Kayaknya gue pengen pisah aja," cerocosnya. "Sabarrrr," kata saya sekali lagi, mencoba menenangkan emosinya. "Ah loe sih nggak ngalamin kayak gue," tukasnya.

***

Apakah sabar memang ada batasnya? Kadang saya sering mendengar ucapan bahwa "sabar itu ada batasnya" ketika seseorang merasa mengalami persoalan hidup yang "sama" dengan orang yang "sama" pula. Sepertinya, saya juga pernah memasuki fase "sabar itu ada batasnya juga kali" deh.

Lantas, apakah sabar ada batasnya? "Sabar itu nggak ada batasnya karena jika kita sabar pahala kesabaran terus mengalir," tutur ustadzah Hj Siti Nurlaela saat memberikan kajian rutin Islami komunitas "AyoNgaji" yang mengangkat tema "Hikmah di Balik Covid-19", Jumat (3/7/2020), yang saya ikuti secara daring.

Terkadang ketika kita dihadapi dengan beragam ujian, kita selalu merasa nikmat kita tengah terenggut. Padahal ujian yang kita rasakan itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan kenikmatan lain yang kita dapatkan. Sebut saja kita masih bisa bernapas, kita masih bisa berjalan, kita masih bisa bergerak, dan banyak lagi. Coba dihitung-hitung lebih banyak ujiannya atau nikmatnya?

Ustadzah menyampaikan pandemi Covid-19 ini juga bagian dari ujian kesabaran. Jika terus bersabar pahala kesabaran akan terus mengalir. Pahala yang didapat juga tidak hanya satu atau dua kali lipat, tapi berkali-kali lipat. Kebaikan yang kita rasa tidak hanya di akhirat kelak, tetapi juga di dunia. Itu artinya, kita mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Sungguh beruntung bukan?

"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (Surah Al Baqarah: 155)

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung" (Surah Ali Imrah: 200). 

Jadi bersabar itu bukan hanya sekedar sabar, tapi tetap sabar, sabar, dan sabar, atas ujian atau musibah yang dialami. Dengan kata lain harus memperkuat sabar.

Ketika kita bersyukur kepada Allah, maka Allah akan tambahkan nikmat itu menjadi semakin banyak. "Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (Qs. Ibrahim: 7).

Lantas apa itu sabar? Kata sabar berasal dari bahasa Arab yaitu as-shabru. Yang berarti orang yang menahan diri dan mencegah dari perbuatan yang tidak terpuji. Sabar juga berarti menjaga lisan dari berkeluh kesah.

Selama ini sabar selalu dikonotasikan bersifat pasif, padahal juga bersifat aktif, ada kombinasi antara pasif dan aktif. Karenanya, sabar dibagi tiga kategori:

1. Sabar dalam ketaatan pada Allah. Ini bersifat aktif, tidak pasrah begitu saja. Ada pergerakan. Memang perlu kesabaran dalam ketaatan. Semisal shalat Subuh di masjid. Apakah memilih berjalan ke masjid atau berleha-leha di rumah dengan tetap berkemul di tempat tidur?

Kalau masih malas-malasan berarti kita belum sabar dalam ketaatan pada Allah. Sering kali juga adanya perasaan berat bagi jiwa untuk melaksanakan ketaatan itu. Melaksanakan shalat dengan malas, bahkan tidak shalat sama sekali.

"Sabar dalam melakukan ketaatan, pahalanya adalah 300 derajat. Yang satu derajat adalah antara langit dan bumi," ucap sang ustadzah.

2. Sabar dari perbuatan maksiat. Ini juga bersifat aktif. Ada usaha. Dan, meninggalkan maksiat juga butuh kesabaran. Seperti kisah Nabi Yusuf yang selalu digoda oleh istri dari orang penting, seorang perempuan yang cantik, terkenal, kaya, tapi Nabi Yusuf mampu menahan diri dari godaan tersebut.

Sabar dari maksiat jika seseorang merasakan dorongan kuat yang mengajaknya untuk berbuat maksiat. Ketika muncul dorongan untuk berbuat maksiat, maka yang harus kita lakukan adalah bersabar dan menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan tersebut.

"Sabar dalam tidak melakukan maksiat ini pahalanya 900 derajat. Di mana di sekeliling kita banyak yang mengajak melawan perintah Allah SWT. Misalnya berzina, mencuri, korupsi, dan lain, tapi kita bisa melawannya," jelasnya.

3. Sabar dalam musibah. Kalau yang ini bersifat pasif. Tidak ada pilihan ketika musibah terjadi. Seperti ketika kita kehilangan dompet. Kita sudah berhati-hati tetapi tetap saja hilang. Ya kita sabar saja. Tidak ada pilihan. Mau marah-marah dompet juga tidak kembali, ya lebih baik bersabar, bahkan dengan sikap bersabar kita mendapatkan pahala.

"Seperti masa pandemik ini di mana ada banyak masalah seperti ekonomi dan lainnya. Nah, ini pahalanya 600 derajat di mana yang satu derajat adalah antara dasar bumi sampai ujung langit," tutur ustadzah.

Makanya ketika kita bisa menjalani perintah Allah dan menjauhi laranganNya, akan tersedia pahala yang besar. Karenanya kita dianjurkan untuk sabar yang optimis, inovatif, atau membuat kita menjadi lebih baik di pandemik ini. Allah janjikan orang yang bertakwa, kemuliaan. "Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."

Sementara Hadist Riwayat Muslim, meriwayatkan, kesabaran adalah "dhiya" atau cahaya yang amat terang. Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah Saw mengungkapkan, "...dan kesabaran merupakan cahaya yang terang dan sangat banyak..." (HR. Muslim)

Nah, bagaimana apakah kita sudah mengamalkan sikap sabar dalam kehidupan kita sehari-hari? Karena bersikap sabar juga bagus bagi kesehatan kita.

Sabar membuat kita jadi lebih tenang dan fokus sehingga terhindar dari stress. Jika kita stress akan menimbulkan sejumlah penyakit, bahkan tak jarang komplikasi yang mengancam keselamatan jiwa.

Sering kita lihat orang yang tidak sabaran, yang cenderung memiliki emosi tinggi, yang dalam kondisi marah-marah tiba-tiba saja terkena serangan jantung mendadak, yang tak lama kemudian meninggal dunia atau "apesnya" terkena stroke. Tentu saja, kita tak mau kondisi seperti ini terjadi pada diri kita, bukan?

Semoga tulisan ini memberikan manfaat

VIDEO PILIHAN