Mohon tunggu...
Nenden SuryamanahAnnisa
Nenden SuryamanahAnnisa Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswa

Hanya seseorang yang sedang belajar menulis dan belajar menyampaikan opininya lewat tulisan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kau dan Segala Kesakitannya

19 Juli 2021   19:55 Diperbarui: 19 Juli 2021   20:02 237
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Kamu melihatku dengan mata yang berlinang. sembari menarik-narik rok panjang ibu, kamu terus merengek meminta dibangunkan rumah di tubuhku. Rumah pohon, persis seperti yang ada di sinetron "Heart Series" katamu. 

Ayah di sebelah hanya tertawa melihat rengekan gadis kecilnya itu. Ia lalu berlutut di hadapanmu, menatap anak gadisnya yang masih berusia sembilan tahun.

"Ayah akan buat, tapi jangan tarik rok ibu lagi nanti bisa sobek, loh" Demi mendengar kalimat itu, kamu berteriak kegirangan, meloncat-loncat. Saat itu, bahkan air mata di pipimu belum kering, tapi kamu sudah melupakan perasaan sedih tadi. Tanpa ada dendam yang tertinggal, tanpa ada luka yang meradang.

Halaman rumah ini tidak besar, hanya 4x3 meter, yang berisi aku --pohon tua besar dan sisanya rerumputan yang sengaja ditanam. Dulu halaman ini sesak dengan tanaman hias, namun ibu memutuskan untuk membagikannya ke tetangga. Ia mau kamu bebas bermain di sana. Ayah juga memasang ayunan di rantingku yang paling kokoh. 

Selama seminggu kamu tak mau diajak main keluar, kamu terus menaiki ayunan itu dari pagi hingga sore. Sedikit rahasia, ayunan itu adalah salah satu trik ayah agar kamu tetap aman di rumah.

Sore ini Kamu bermain bersama kawan-kawanmu di halaman rumah, bermain lompat tali. Wajah kalian belepotan bedak. Ibu juga ada di sana duduk di teras bersama ibu-ibu lain. 

Mereka berbincang ringan sembari sesekali menyuapi anaknya makan sore. Potongan kehidupan yang indah. Lembutnya sinar matahari membuat pemandangan ini semakin sakral.

kamu tersenyum mengingat potongan masa kecil itu. Jari-jarimu membelai ayunan usang buatan Ayah lantas mendudukinya dengan hati-hati. Ayunan itu tidak roboh, Ayah membangunnya dengan sangat kokoh. 

Kamu mengayunkannya perlahan sembari memeluk erat sebuah celengan kaleng. Matamu mulai berkaca-kaca, namun kamu masih sanggup untuk menahannya. 

Malam ini adalah malam terakhir kamu tinggal di rumah. Besok pagi adalah hari pernikahanmu, sosok pria lain akan menggantikan peran Ayah untuk menjaga, mendidik juga mendampingimu. Sekaligus menggantikan peran ibu untuk mendengarkan serta mengasihimu.

Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang? Apa kamu sedang memutar kenangan tentang ayah? Apa kamu ingat satu malam saat kamu berusia 14 tahun, saat kamu mulai mampu mengambil keputusan sendiri, kamu mengunci diri di rumah pohon ini sambil memeluk lutut yang basah karena air mata. ayah di bawah sana berteriak memarahimu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun