Cerpen

Monokrom Penjajahan

4 November 2018   22:37 Diperbarui: 4 November 2018   22:47 110 0 0

Pagi-pagi benar, matahari belum bersinar, aku terbaring diatas kasur. Bukan kasur, lebih tepatnya setumpuk kayu dan bata. 5 menit bersiap-siap, aku akan berangkat ke suatu tempat yang tidak diketahui. Bajuku bercorak belang dan senjata langsung ku pegang. Berbekal bubur dan air, aku menaiki kapal yang sudah menunggu.

Sebaiknya aku memperkenalkan diri dulu. Esteevan Louis Carlos von Cacklefur, itulah namaku. Aku seorang tentara dari negara kesayanganku, Spanyol. Awal tahun 1521, aku diminta oleh Sebastian Del Cano untuk ikut berlayar ke tempat kemanapun akan dituju. Inilah harinya aku berlayar. Hal yang kusenangi saat berlayar hanyalah udara laut, bahkan bisa membuat aku seperti "melayang". Perjalanan terasa mulus dari kota, tapi ada bencana yang kita temui di tengah perjalanan.

Konon katanya, tempat yang tidak diketahui penuh dengan bahaya, kehancuran, ketakutan, dan juga berkah. Malam itu aku terombang ambing di dalam kabin. Aku bergegas keluar untuk melihat kejadian disana. Sesampainya di atas, aku tidak dapat melihat apa-apa. Hanya gelap gulita diterangi sambaran petir. Aku bergegas mencari tiang layar dan menahannya agar tidak terhempas angin kencang hujan yang seram ini. Bukan tiangnya yang terhempas, aku yang terhempas. Hari yang indah dengan mudahnya dihancurkan oleh malam seperti ini. 

Tubuhku terhempas ke arah tiang dan mataku terbentur tiang. Kurasa aku akan kehilangan kedua mata, aku berteriak kesakitan. Lalu datanglah beberapa kru kapal menolongku kembali ke kabin.

Singkat cerita, kami menabrak pada suatu pulau. Walau mataku bisa dikatakan rusak, aku masih bisa merasakan guncangan dari tabrakan itu. Sesampainya disana, aku  langsung dibawa pada warga disana. Mereka menerima kita dengan ramah, walau mataku tidak dapat melihat apapun, aku dapat merasakan udara sejuk dan hawa damai disini. 

Dalam 3 bulan, aku tinggal disini tanpa pengelihatan, aku dirawat dengan baik. Bulan keempat, aku mulai merasakan mereka sering membicarakanku. Entah, aku dapat mengerti sedikit karena lamanya aku berada disini. Setelah 4 bulan disana, aku dibawa kembali ke Spanyol untuk pengobatan lebih lanjut.

3 tahun kemudian, aku sudah dapat melihat lagi, aku diminta untuk mengawas di daerah terakhir aku terdampar. Aku kembali kesana, ke tempat yang sekarang disebut Maluku. Sampai disana aku merasa berbeda. Seakan-akan aku tidak pernah kesini. Tapi menurut peta dan awak kapal yang lain, ini adalah tempat yang benar. Tanpa pengelihatan aku merasa tempat ini sangat damai dan terasa seperti surga, sekarang ini seperti tempat persisahan perang. 

Aku langsung menghadap pada komandanku disana. Sesampainya di balai kota, tubuhku merinding mendengar tugasku. Apa tugasku? Mengawasi orang yang bekerja. Mudah, tapi terasa salah. Seakan-akan kebebasan mereka diambil.

Dari situ aku mulai berpikir untuk membantu mereka seperti mereka membantuku. Mereka menolong tanpa perlu tahu aku siapa, sedangkan aku harus membalas dengan kejahatan. Aku berpikiran untuk membela mereka. Setiap hari aku mengawasi mereka, aku tidak memaksa mereka, aku membiarkan mereka bekerja sesuai kebutuhan mereka. Hari-hari awal berjalan lancer, tidak ada masalah, akupun disenangi rakyat. 

Tapi hanya sampai situlah kemampuanku. Sebulan kemudian, aku mulai dibicarakan oleh teman-temanku dari Spanyol. Aku mulai merasa tidak enak. Seminggu setelah kejadian itu, aku dipanggil kembali ke balai. Untuk apa? Akupun tidak yakin. Aku berjalan dengan keyakinan bahwa semua akan berjalan dengan baik.

Sampai disana aku dimintai keterangan tentang pekerjaan, bagaimana jalannya pengawasan, dan yang paling menegangkan, ada saksi mata yang berkata bahwa aku mendelegasikan pekerjaan rakyat. Sampai situ aku tidak bisa berkata-kata. Aku langsung dituduh bersalah dan dikirim kembali ke Spanyol untuk diadili lebih lanjut. Esok harinya aku berlayar kembali. 

Selama perjalanan, aku dapat pencerahan. Keadilan dan kebenaran sulit ditemukan. Orang-orang baik tidak dihargai, orang mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan cara apapun. Saat uang berbicara, bahkan teman dapat jadi lawan. Aku hanya berharap agar di masa kelak tidak ada lagi hal seperti ini. Agar manusia lebih menghargai manusia, daripada benda seperti uang.