Mohon tunggu...
Isadur Rofiq
Isadur Rofiq Mohon Tunggu... penulis

Kau lupa Ambo, cerita hikayat lama dongeng-dongeng itu ada penulisnya. tapi ceritamu, Allah Penulisnya. @negararofiq

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Halte yang Tertinggal

11 September 2019   21:20 Diperbarui: 11 September 2019   21:29 0 3 1 Mohon Tunggu...

Saya ingat betul, habis shalat isya' atau sebelum tidur, saya selalu menyanyikan lagu diiringi gitar kuno untuk istriku, Arum-yang terbaring sakit keras di ranjang. Tetapi sekarang, saya tidak bisa bernyanyi lagi. Ia sudah pergi ke tempat paling indah.

Semenjak kepergian Arum 7 hari lalu, tiba-tiba saya ingat wasiat yang ia sampaikan 10 menit sebelum Ia menghembuskan napas terakhir.

'Untuk berbuat baik kepada orang lain, tidak harus memberikan uang. bernyayi dan menghibur tanpa memungut uang dari orang lain adalah suatu kemuliaan, Mas'.

"Lantas bagaimana caranya menuntaskan wasiat tersebut?"

"Dimanakah saya bernyanyi menghibur orang lain?"

"Di pasar?"

"Di pinggir jalan?"

Entah berbagai pertanyaan bergulat di benakku.

Praktis saya akan menjalankan hari-hari kedepan sendirian. Amir anak sulungku sudah kembali ke kota untuk kerja sejak hari ketiga kematian Arum. Rasid anak kedua saya juga balik ke kota sejak hari keempat. Bahkan Kulsum, si bungsu, memilih tidak pulang dari Singapura. Alasannya tidak masuk akal, 'saya menjadi ketua panitia seminar internasional'.

Saya sangat iri dengan orang-orang seumuran saya di sana. Menghabiskan masa tua dengan tenang. Menggendong cucu dan menemaninya bermain. Mungkin anak-anak muda sekarang malu bekerja di desa. Sehingga saya yang sendirian di rumah tidak dianggap 'penting' oleh anak-anakku.

Ah... daripada pikiran kemana-mana, mendingan saya ziarah ke makan Arum. Biarkan saja apa yang dikerjakan anak-anak saya di kota sana. Meskipun saya mati suatu saat, belum tentu mereka pulang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
KONTEN MENARIK LAINNYA
x