Mohon tunggu...
Negara KITA
Negara KITA Mohon Tunggu... Keterangan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Bio

Selanjutnya

Tutup

Politik

Anarkisme Hari Buruh Perjuangan Siapa?

2 Mei 2019   16:34 Diperbarui: 2 Mei 2019   16:50 223 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Anarkisme Hari Buruh Perjuangan Siapa?
Unras baju hitam [Foto: Suara.com]

Anarki. Tentu yang terbesit dalam benak kita jika mendengar kata tersebut adalah orang-orang yang melakukan kerusakan dan kekacauan. Padahal kalau kita mau sedikit menyelidiki, maka anarki adalah salah satu varian gerakan politik Kiri atau Komunisme yang bertujuan menggantikan semua bentuk pemerintahan dengan persekutuan bebas, dan kerja sama kelompok maupun pribadi secara sukarela. 

Anarki berasal dari kata An (Tidak) dan Archos (Sistem). Penganut paham ini tidak inginkan adanya sistem negara, strata sosial dan hierarki. Pemerintahan mereka nilai sebagai bentuk dari hierarki karena adanya kedudukan. 

Oleh karena itu, paham Anarkisme ini bertujuan melakukan Revolusi untuk menghapus Negara dan Sistem yang Menghisap, untuk digantikan dengan model organisasi Sindikalisme yang berhaluan Sosialisme atau Komunisme.

Paham Anarkisme bertentangan dengan Komunisme Karl Marx yang bertujuan membentuk Negara Komunis setelah melakukan Revolusi.

Karenanya, pengantar Anarkisme sebenarnya bukan orang-orang yang bertujuan berbuat onar. Perlawanan yang mereka lakukan memiliki tujuan. Paham kiri inilah yang menyebabkan mereka berjuang keras demi kesejahteraan pekerja atau buruh

Hari Buruh 1 Mei 2019 atau "May Day" telah diperingati kemarin di berbagai kota besar di Indonesia. Salah satu aksi memperingati Hari Buruh yang terjadi di Gedung Sate, Kota Bandung, diwarnai dengan kerusuhan antara ratusan orang berbaju hitam yang mengatasnamakan diri mereka Anarko dengan aparat. Kelompok tersebut terdiri atas sejumlah komunitas, seperti Gerakan Rakyat Anti Kapitalis (GERAK), mahasiswa, pers mahasiswa, Aliansi Pelajar Bandung, dan anggota komunitas gerakan di Bandung. 

Penangkapan mereka oleh aparat adalah karena perbuatan anarki mereka yang mencoret-coret fasilitas umum menggunakan cat semprot. Akan tetapi, masyarakat menyayangkan penangkapan yang terjadi. Koalisi Masyarakat Sipil Bandung mengecam penangkapan ratusan orang peserta aksi berpakaian hitam atau black bloc tersebut. Perwakilan dari Koalisi Masyarakat Sipil Bandung Willy Hanafi mengatakan bahwa penangkapan ratusan peserta aksi unjuk rasa merupakan kesewenang-wenangan. Willy yang juga Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung memaparkan tidak ada aturan terkait peserta aksi Hari Buruh harus dari organisasi buruh. Bahkan mereka justru mendapatkan tindakan kekerasan dari aparat seperti digunduli, ditelanjangi, hingga dipukul. Sebagai informasi, aksi protes yang kebanyakan dilakukan oleh mahasiswa tersebut dipaksa bubar karena disinyalir tidak terkait dengan aksi buruh.  

Kejadian seperti di Bandung juga terjadi di Jakarta. Di Jakarta, massa berbaju hitam merusak sejumlah fasilitas TransJakarta, termasuk pagar di Halte TransJakarta Tosari. Perbuatan mereka memang seperti orang yang berbuat onar dan berbuat kerusakan. Apabila kita telisik sedikit pengrusakan yang mereka lakukan, anarkis pembela buruh ini memiliki ideologi bahwa pengrusakan properti bukanlah perbuatan kekerasan, karena bagi mereka perilaku kekerasan terjadi apabila dilakukan terhadap manusia lainnya. Pengrusakan properti merupakan pesan dari para anarkis black bloc dan biasanya yang menjadi objek kerusakan adalah simbol dari perlawanan mereka. Terlebih lagi, justru yang memulai melakukan kekerasan adalah para aparat. 

Aksi serupa massa berbaju hitam di Hari Buruh juga ditemukan di Surabaya. Front Mahasiswa Nasional (FMN) menyesalkan sikap kasar aparat terhadap mereka yang ingin mendukung perjuangan buruh. 

Lantas mengapa ada aksi unjuk rasa tiap Hari Buruh Internasional? Apalagi kerusuhan ini tidak hanya terjadi di Indonesia? Apabila kita membuka kembali lembaran masa silam, Hari Buruh Sedunia bukanlah sekedar aksi tanpa arti. Hari Buruh menandakan perjuangan puluhan nyawa para pekerja yang memperjuangkan nasib mereka. Kondisi kerja yang buruk dan jauh dari kesejahteraan menjadi penyebab utama para buruh berserikat dan melakukan unras. Momen puncaknya yakni pada 1 Mei 1886, di mana sebuah organisasi bernama Federation of Organized Trades and Labor Unions of The United States and Canada (FOTLU) menggelar demo perubahan durasi waktu kerja dari awalnya 16 jam menjadi 8 jam. Akibat aksi perjuangkan nasib yang ada justru nyawa mereka melayang. 

Di Indonesia, mereka yang memperjuangkan kesejahteraan buruh justru ditunding sebagai pembuat onar. Harus digarisbawahi lewat aksi mereka lah kesejahteraan dan hak-hak buruh terus dipejuangkan. Aksi buruh sempat memiliki sejarah kelam di zaman Orde Baru (Orba) yang melarang peringatan 1 Mei. Orba sangat alergi dengan aksi buruh karena selalu dikonotasikan dengan komunisme. Tapi zaman sudah berubah, kini "May Day" menjadi hari libur nasional semenjak tahun 2014. Artinya, pemerintah telah menghargai dan berusaha memenuhi aspirasi dari para buruh. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x