Hijau Pilihan

Yuk Kelola Sampah Organik Rumah Tangga!

6 Desember 2017   06:26 Diperbarui: 6 Desember 2017   08:06 1629 5 5
Yuk Kelola Sampah Organik Rumah Tangga!
Acara Hari Bakti Balitbang PUPR yang ke-72 di CFD Dago (dokpri)

Teman-teman, pernah kepikiran gak seperti apa 'nasib akhir' dari sampah yang kita buang dan lalu diambil petugas sampah? Saya sih, jujur gak pernah. Begitu dibuang ke tempat sampah, dan lalu diambil petugasnya, udah saya lega, rumah saya bebas dari sampah. Begitu dan begitu seterusnya. Baru deh, acara Hari Bakti Balitbang PU yang ke-72, hari Minggu kemarin di Car Free Day Dago membuka mata saya.

Iya, saya baru tahu kalau ternyata, sampah yang kita buang dan diambil oleh petugas sampah itu masih panjang perjalanannya. Dia akan dipilih berdasarkan jenisnya, dan kemudian diolah sesuai dengan jenis-jenisnya itu. Harusnya seperti itu. Sebab ada jenis sampah yang bahaya jika diperlakukan sama dengan jenis sampah yang lain.

Dari situ saya mikir. Sampah yang kita hasilkan, kan, banyak, ya? Kebayang dong lamanya proses akan seperti apa? Tiap hari lho kita menghasilkan sampah. Jika semua sampah yang terkumpul diperlakukan seperti itu, tentu pekerja yang terlibat di dalamnya haruslah banyak. 

Dan ini jelas membuat biaya yang dikenakan kepada kita untuk sampah akan sangat besar. Padahal kenyataannya, biaya yang kita bayarkan tidaklah mahal. Jadi wajar jika penanganan sampah sering kali tidak sesuai harapan.

Volume Sampah yang Selalu dan Semakin Banyak

Untuk kota Bandung, jarak pembuangan sampah hingga ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) itu relatif jauh, 65 km. Satu hari, mobil sampah konon hanya mampu mengangkut 2 rit saja, dari 4 rit yang diharapkan. Logis, jika itu pada akhirnya membuat volume sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) sering kali numpuk melebihi kapasitasnya.

Hal ini rupanya menjadi salah satu concern Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Balitbang PUPR). Volume sampah yang selalu banyak, yang menumpuk dan meluap di TPS, yang akhirnya menggunung di TPA. 

Sehingga untuk hal tersebut,Balitbang PUPR melakukan berbagai upaya. Salah satunya adalah pemberian pelatihan-pelatihan ke masyarakat mengenai pengelolaan sampah. Dari mulai upayapenggunaan kembali sampah yang masih bisa digunakan (reuse), pengurangan jumlah sampah (reduce), maupun pendaur-ulangan sampah (recycle). 

Dan sasaran yang dibidik adalah rumah-rumah tangga. Kenapa demikian, sebab sampah rumah tangga itu jumlahnya sangat banyak.Jika bisa dikelola dengan maksimal, volume sampah akan sangat significant berkurang.

Pengolahan sampah berbasis masyarakat (dokpri)
Pengolahan sampah berbasis masyarakat (dokpri)
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Diskusi ringan dengan Bu Lia Meilany Setyawati di acara Hari Bakti PU minggu lalu itu benar-benar menambah wawasan saya. Bu Lia cerita panjang lebar mengenai pengelolaan sampah yang dilakukan Balitbang PUPR untuk sampah rumah tangga. Dari pemilahan jenis sampah, pengolahan sampah dapur, hingga berbagai macam yang berkaitan dengan sampah rumah tangga.

Menurut Bu Lia, sampah itu seharusnya dipilah menjadi 5 macam. Yaitu sampah barang bekas berbahaya dan beracun (B3), sampah organik, sampah residu, sampah daur ulang, dan sampah guna ulang. Akan tetapi untuk skala rumah tangga, pemilahan sampah menjadi 3 jenis saja itu sudah bagus. Yaitu sampah organik, sampah anorganik, dan sampah B3.

Sampah organik itu meliputi semua yang berasal dari sel-sel hidup. Seperti daun-daun kering dari halaman, kulit buah, sisa makanan, potongan-potongan sayur, tulang-tulang ikan, bahkan hingga ke cangkang telur. 

Adapun sampah anorganik itu meliputi semua sampah yang bahannya bukan berasal dari sel-sel hidup. Contohnya kaleng, plastik, botol, dan sejenisnya. Sedangkan sampah B3 itu adalah golongan sampah yang berbahaya dan beracun.

Pada tahu kan sampah B3? Itu lho, sampah yang punya sifat mudah meledak, mudah terbakar, reaktif, beracun, infeksius, dan korosif. Misalnya saja botol bekas parfum yang mudah meledak, botol bekas alkohol, kemasan bekas pestisida, jarum suntik, dan lain-lain.

Pengelolaan sampah rumah tangga yang paling sederhana adalah memilah mana saja barang-barang bekas yang bisa dimanfaatkan kembali tanpa harus dibuang ke tempat sampah. Seperti misalnya mengumpulkan kertas koran dan jenis kertas-kertas lainnya, serta barang-barang yang terbuat dari plastik dan lalu menyalurkannya kepada tukang rongsokan.

Itu untuk yang bisa digunakan kembali. Untuk sampah B3, langsung saja dipisahkan. Jika kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, lebih baik kumpulan sampah B3 tersebut diberikan ke tukang sampah. Dan biar petugas sampah yang mengerti caranyalah yang mengelola sampah B3 tersebut.

Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga

Hal yang bisa kita lakukan sendiri adalah mengelola sampah organik rumah tangga. Benar, semua sampah dari daun-daun kering dari halaman, kulit buah, sisa makanan, potongan-potongan sayur, tulang-tulang ikan, bahkan hingga ke cangkang telur tadi bisa kita olah menjadi kompos. Ada pun caranya, Bu Lia menjelaskannya melalui 3 cara, yaitu Metode Kascing, Metode Komposter Pot, dan Metode Komposter Tanam (Komposter Rumah Tangga).

1. Metode Kascing

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2