Cerpen

Bias Lara

11 September 2017   13:44 Diperbarui: 11 September 2017   13:58 364 2 1

Aku tak pernah lagi melihat awan biru dilangit. Bagiku awan-awan itu hanya terlihat hitam setiap harinya. Maret bulan yang basah ditahun ini.

Dulu aku suka hujan. Namun sekarang hujan hanya membuat ingatanku tersiksa ketika trauma itu dengan kurang ajarnya menyeruak masuk

Menguasai isi kepalaku.

"Aira..."

Aku tertegun pada lelaki dihadapanku. Kenapa aku harus bertemu dengan dirinya, diantara deretan rak toko buku ini. Aku seperti di sambar

Petir saat itu juga. Melihatmu begitu menyakitkan.

"Aira, kemana saja kamu? Aku mencarimu kemana-mana gadis kecil."

Aku membeku dalam pelukannya. Ya Tuhan, betapa aku sangat merindukannya. Kenapa Tuhan, Engkau mempertemukan aku dengannya lagi

Disaat aku sudah hancur? Lelaki itu melepas pelukannya lalu memandangku penuh tanya.

"Hei, Aira, kamu masih ingat kakak kan? Kenapa diam saja?"

Aku tergagap. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu. "Oh...tentu saja. Aku hanya tidak menduga kita bertemu disini."

Ia mencubit pelan cuping hidungku. Itu kebiasaannya dulu yang selalu ia lakukan setiap kali bersamaku. Lelaki itu mengajakku untuk bicara di

Cafe sebrang. Kami memilih duduk di sudut Cafe. Dua cangkir hot chocolate dan red velvet cake tersaji dihadapan kami berdua. Lalu seperti

Wartawan ia bertanya-tanya mengenai diriku yang tiba-tiba saja menghilang.

"Kamu seperti ditelan bumi, Aira." Ujarnya setelah menyerup hot chocolate.

"Aku tidak kemana-mana. Aku masih di bumi yang sama denganmu, Kak."

"Anak nakal. Pergi tanpa pamit. Kemana kamu bersembunyi selama satu tahun ini?"

"Aku di Bali. Ada tawaran pekerjaan di sana."

"Harusnya kamu mengabari aku, Aira. Orang tuamu juga pindah rumah begitu saja. Aku tidak tahu harus mencarimu kemana lagi."

Aku hanya tersenyum mendengar protesnya. Apa yang bisa kujelaskan padanya? Semua terlalu menyakitkan untuk kuceritakan. Biarlah luka ini

Kukulum dalam senyumanku.

"Aku sangat berharap kamu datang kepernikahanku setahun yang lalu."

Tiba-tiba kepalaku pening mendengar ucapannya. Pernikahannya adalah hal yang menyakitkan buatku. Lelaki yang begitu aku cintai menikah

Dengan perempuan lain. Bahkan mencintainyapun penuh dengan pengorbanan besar yang tak pernah ia ketahui. Arkan, dia adalah lelaki

Impianku, ia teman kecil sekaligus pelindungku. Kami tumbuh besar bersama karena letak rumah kami yang bersebelahan. Usia Arkan lebih tua

Lima tahun dariku, mungkin karena hal itulah ia selalu bersikap sebagai kakak lelakiku, terlebih aku hanyalah anak tunggal dalam keluargaku.

Seiring berjalannya waktu sebagai wanita dewasa aku mencintainya lebih dari sekedar seorang kakak. Namun Ia tetap menganggapku sebagai

Adik kecilnya. Menyedihkan. Ketika aku tahu Ia memiliki pacar untuk pertama kalinya, aku begitu patah hati hingga akhirnya aku bertemu

Dengan Dean. Atas nama pelarian patah hatiku, aku menerima Dean menjadi kekasihku ketika Ia menyatakan cintanya. Aku tahu hubungan

Yang kumulai dengan Dean adalah suatu kesalahan. Sebenarnya Dean adalah lelaki baik namun Ia terlalu posesif dan obsesif untuk memilikiku.

Hal itulah yang membuatku ingin mengakhiri hubungan dengannya. Terlebih aku tahu Arkan baru saja putus dengan pacarnya, kupikir ini

Adalah kesempatan yang bagus untuk menyatakan cintaku pada Arkan. Tak perduli dia akan menolakku nanti, aku hanya ingin dia tahu bahwa

Aku sangat mencintainya. Namun pada saat aku memutuskan Dean di rumahku, ia tidak mau menerimanya. Ia berubah menjadi sangat

Menakutkan. Aku ketakutan di dalam rumahku sendiri karena pada saat itu orang tuaku tidak ada di rumah, lebih tepatnya mereka sering

Meninggalkan aku sendirian di rumah. Mereka terlalu sibuk untuk berada di rumah. Sialnya lagi pembantuku sedang pulang ke kampung. Aku

Tidak berhasil mendorongnya keluar dari rumahku. Kami mulai bertengkar hebat.

"Sudahlah Dean, percuma saja kita lanjutkan. Hubungan kita tidak akan pernah berhasil."

"Aku tahu ada lelaki lain yang kamu cintai? Karena hal itu kamu ingin memutuskan aku? Aku sudah tahu. Aku melihat kamu menyimpan foto

Lelaki itu di dalam dompet kamu. Lalu selama ini kamu anggap apa aku? Pelampiasan kamu? Sikap baik kamu selama ini hanya kepalsuan!!!"

"Aku tidak pernah berpura-pura baik padamu. Selama ini aku belajar mencintai kamu. Tapi kamu terlalu posesif dan selalu saja merasa kamu

Sudah berhak memiliki aku sepenuhnya. Itu membuatku takut dan ingin lepas dari kamu, Dean!"

"Itu hanya alasan kamu saja!!! Ini semua karena lelaki itu. Kamu mencintainya!!!"

"Ya, itu memang benar. Aku mencintai lelaki lain, tapi bukan berarti selama kita pacaran aku tidak menyayangi kamu. Aku sayang sama kamu.

Tapi kamu harus mengerti ada perasaan cinta yang jauh lebih besar dari sekedar rasa sayang. Aku tidak bisa memaksakan hati aku untuk

Mencintai kamu dengan lebih, Dean."

"Aku tidak mau melepaskan kamu!!! Tidak ada lelaki lain yang boleh memiliki kamu selain aku!!!" Dean menarik tubuhku dengan kasar dalam

Dekapannya yang begitu kurang ajar. Sadar hal nekat apa yang akan dilakukan Dean. Aku meronta sekuat tenaga. Sial, tenaganya jauh lebih

Besar dari yang kupunya. Aku menjerit meminta tolong pada siapapun meski tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain aku dan Dean. Aku

Berharap ada tetanggaku yang mendengar jeritanku kemudian datang ke rumah, meski terlalu mustahil karena lingkungan kompleks rumah

Begitu sepi untuk bertetangga. Hujan deras membuat jeritanku teredam. Kemudian jeritanku tenggelam dalam bekapan tangan Dean. Berkali-

Kali aku berdoa pada Tuhan agar segera menyadarkan kekhilafan Dean. Berkali-kali aku berdoa pada Tuhan agar menghindarkan aku dari

Bencana buruk. Namun semua itu sia-sia. Dean berhasil menghancurkanku. Ia memperkosaku. Aku menangis tak berdaya. Begitu sakit hingga

Meremukan hati dan jiwaku. Aku merutuk perbuatannya. Aku begitu jijik melihatnya. Aku memukul-mukul diriku sendiri, betapa aku merasa

Hina pada saat itu. Dean menangis penuh penyesalan, ia memelukku memohon maaf. Aku melepas pelukannya dengan jijik.

"Pergi kamu!!! Aku benci kamu, bajingan!!!"

"Maafkan aku Aira, aku...aku...aku gak tau lagi harus bagaimana. Cuma cara ini yang aku tahu untuk membuat kamu nggak pergi dari aku."

"Kamu pikir aku akan tetap bertahan sama kamu setelah kamu melakukan hal kotor ini? Keinginan kamu sudah tercapai, aku tidak lagi bisa

Dimiliki oleh orang lain, puas kamu sekarang?!"

"Aku cinta banget sama kamu, Ra. Aku gak mau kehilangan kamu."

"Cinta??? Jadi ini yang kamu sebut cinta? Cinta itu gak menghancurkan orang yang dicintainya seperti ini. Sekarang kamu pergi !!!! Aku jijik dan gak mau lihat muka kamu lagi !!!"

Setelah kejadian itu hari-hariku tak pernah sama lagi seperti dulu. Aku bukan Aira yang dulu. Aku sudah tidak suci lagi. Sampai kapanpun aku

Tidak pernah pantas lagi untuk Arkan. Kehancuran yang Dean perbuat terhadapku membuatku terpaksa harus menikah dengannya, karena

Bencana itu telah menumbuhkan benih janin di dalam rahimku. Pernikahan yang tidak aku inginkan itu berlangsung secara diam-diam, hanya

Antara keluarga saja tanpa ada perayaan pesta pernikahan seperti pada umumnya. Setelah itu aku menghilang dari kotaku, ke tempat yang jauh

Dari Arkan. Aku tidak ingin Ia melihat kehancuranku. Aku tidak pernah tahu kapan aku bisa menerima takdirku dengan lapang dada. Menjijikan

Rasanya menjadi seorang isteri dari pemerkosa itu. Hari-hari yang kulewati bagai di neraka bersamanya. Keinginannya untuk memilikiku sudah

Terwujud. Aku memang miliknya tapi tidak seutuhnya. Ia hanya memiliki ragaku saja. Namun jiwa, hati, dan cintaku masih tetap milik Arkan.

Rindu yang tak pernah terpeluk, cinta yang tak pernah terucap menjadi siksa bagi diriku. Dan yang lebih menyakitkannya lagi ketika Arkan

Mengirim e-mail kepadaku. Ia tanyakan kemana saja keberadaanku sekarang, tidak hanya itu, Ia juga memberitahu bahwa Ia akan menikah.

Aku tak sanggup untuk membalas e-mailnya sepatah katapun. Aku hanya bisa menatap layar laptop dengan air mata kepedihan. Begitu sakit

Mencintaimu, Arkan. Aku dihancurkan lelaki lain karena lebih memilih mencintaimu. Dan kamu memilih gadis lain untuk menjadi isterimu.

Sejak aku beranjak dewasa impianku hanyalah ingin menjadi pendamping hidupmu. Kini ada perempuan lain yang telah memiliki impianku itu.

"Hei...Aira. Helloooo..." Arkan mengibaskan tangannya didepan wajahku. Aku tersadar dari lamunan.

"Aira, kamu gak dengerin aku ngomong dari tadi, ya? Nglamunin apa sih?"

Aku sampai tidak sadar apa yang Arkan bicarakan tadi selama aku berpetualang dalam lamunanku sendiri.

"Oh, maaf. Aku Cuma sedikit pusing aja."kilahku.

"Kamu masih sering pusing, Aira?" tanyanya dengan nada khawatir seperti dulu.

"Oh...enggak. Aku akhir-akhir ini terlalu sibuk kerja."

"Jangan terlalu di forsir donk, Ra. Tubuhmu juga butuh istirahat."

Aku tersenyum kelu mendengar perhatiannya. Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Lelaki yang selama ini aku rindukan kini ada

Dihadapanku. Bercakap-cakap denganku. Tapi bagaimana aku bisa merasa senang. Ia telah beristeri.

"Di Jakarta kamu kerja apa, Ra?"

"Aku kerja di komnas perempuan."

"Wow...keren. Cocok dengan jurusan hukum yang dulu pernah kamu tempuh. Kenapa gak jadi pengacara sekalian?"

"Hmm... Ya bertahaplah. Sekarang aku masih menyelesaikan S2 dulu."

"Apa yang membuat kamu tergerak menjadi seorang aktivis?"

Pertanyaan Arkan bagai meninju ulu hatiku. Aku menatapnya menahan tetesan air mata. "Pemerkosaan...banyak perempuan di Negara kita

Yang menjadi korban pemerkosaan dan malu mengungkapkannya. Bahkan, seringkali perempuan yang menjadi korban tidak mendapatkan

Keadilan hukum sebagaimana mestinya. Dan pelaku masih bebas berkeliaran. Suatu contoh kasus, sebagian besar masyarakat kita masih

Berfikir terlalu picik, ketika ada seorang gadis yang diperkosa oleh kekasihnya, masyarakat dan bahkan lembaga hukum seperti kepolisian

Meragukan laporan gadis itu. Karena mereka berfikir, mana mungkin orang berpacaran diperkosa, pasti itu terjadi karena suka sama suka.

Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Yang lebih miris lagi, pernah ada seorang hakim mengeluarkan statement menjijikan, bahwa,

'Pemerkosa tidak perlu dihukum mati. Karena pemerkosa dan korban sama-sama menikmati.' Lemahnya sistem hukum di Negara kita

Terhadap perlindungan perempuan membuat aku tergerak untuk membantu victim mendapat keadilan. Aku dan teman-teman aktivis lainnya

Sedang menggalakan penyuluhan pemberdaya perempuan dibeberapa kampus. Jadi kalau ada sebagian dari mereka yang mengalami date rape

Atau tindak kekerasan mereka tahu harus mengadu kemana. Kita juga bantu korban pemerkosaan untuk menyembuhkan trauma mereka."

"Wow...you're are amazing. Kamu bukan gadis kecil biasa, Aira."

Aku tertawa kecil menanggapi pujiannya. "Sampai kapan Kakak terus memanggilku gadis kecil? Aku sudah 25 tahun. Aku perempuan dewasa

Sekarang."

"Aku suka memanggilmu gadis kecil. Karena buatku, kamu selalu jadi gadis kecilku." Aku tersenyum mengulum pedih. Ya...memang aku

Hanyalah gadis kecil dimatamu.

"Ra, jangan menghilang lagi ya."

"Kenapa? Kangen setengah mati ya selama aku gak ada?"godaku penuh canda.

"Iya. Kakak kangen..." Deg! Kangen?Aku lebih dari itu...

"Kalau isterinya tahu bisa cemburu, loh. Hahahahaha..." Kami tertawa bersama. Tertawa dengan garing kurasa. Tiba-tiba dering ponselku

Berbunyi. 'Dean" namanya tertera di layar LCD hp. Aku sedikit menjauh dari Arkan.

"Hallo." ucapku datar.

"Sayang, sudah selesai cari bukunya? Aku sama Mason udah jemput kamu, nih. Aku tunggu di resto biasa ya."

"Tunggu sebentar lagi."

Klik! Aku menutup telepon dari Dean. Aku menghela nafas panjang yang terasa berat. "Siapa, Ra?"

Aku tak langsung menjawab pertanyaan Arkan.

"Hm, aku ada janji dengan seseorang. Maaf ya kita nggak bisa ngobrol lebih lama." "Oh...it's okay. Next time kita bisa janjian untuk ketemu

Lagi. Aku akan mengenalkanmu pada isteriku."

Sekali lagi aku menelan ludah dengan pahit. Bagai teriris seluruh hatiku mendengar ucapannya. Aku mencoba untuk tersenyum. Ya

Tersenyumlah. Bukankah aku sudah terbiasa menyimpan luka dalam hatiku?

"Oke. Kalau begitu aku pamit dulu, Kak." Aku beranjak dari tempat duduk. Sebelum aku berlalu Arkan menarik tanganku, Ia mengusap lembut

Kepalaku.

"Take care my little girl." Ucapnya lembut. Aku tersenyum menahan air mata yang ingin meledak.

"Take care, brother..." balasku gamang. Aku segera berlalu dari hadapannya. Beberapa langkah setelah menjauh darinya aku menolehkan

Kepalaku kebelakang dan Ia masih berdiri menatapku. Ia melambaikan tangannya kepadaku. Aku tersenyum dan segera mengambil langkah

Cepat untuk menghilang dari Arkan. Kubawa pergi luka dan air mataku. Kamu tidak perlu tahu kepedihanku, Arkan. Tanpa sengaja aku

Menabrak lelaki didepanku. Ia hampir saja marah karena aku menumpahkan minuman kopi kaleng yang sedang dibawanya. Sial, Ia melihat air

Mataku. Ia menatapku kemudian berlalu tergesa. Apa yang dipikirkannya? Mungkin dia mengira aku baru saja putus dengan kekasihku. Ya...

That's up.

Dengan gontai aku menemui Dean di sebuah restaurant seafood yang berada di samping took buku.

"Mama..."

Mason berkicau menggemaskan memanggilku. Diusianya yang beranjak 2 tahun Mason sudah memiliki cita rasa yang tinggi terhadap

Makanan. Ia suka sekali daging kepiting steam di restaurant ini. Mungkin karena dulu saat mengandungnya aku suka memakan masakan

Seafood. Segera kuhampiri Mason dan menciuminya dalam pangkuanku. Ia tidak berdosa atas apa yang diperbuat Dean. Aku mencintai anakku.

Dihadapanku sudah tersaji makanan seafood. Rupanya Dean sudah memesan menu.

"Aku sudah pesankan makanan kesukaan kamu, kepiting saus tiram."

Aku menatapnya datar tanpa tersenyum. Tahun-tahun yang kami lewati hanya seperti itu saja. Aku tidak pernah menganggapnya ada. Dia tidak

Pernah melihatku tersenyum sedikitpun kepadanya, terkecuali pada Mason.

"Aira...aku tahu, kamu sangat membenciku. Aku tidak meminta kamu untuk memaafkan kesalahanku, aku juga tidak meminta kamu untuk

Belajar mencintaiku. Tapi kumohon jangan pernah tinggalkan aku dan Mason. Tetaplah bersama kami, cukup hanya itu saja. Biarkan aku yang

Mencintaimu."

Aku hanya mengacuhkan ucapannya. Kemudian aku mulai sibuk menyuapi daging kepiting steam untuk Mason. Entahlah...aku tidak tahu

Sampai kapan aku dapat bertahan dalam keadaan ini. Aku sudah sangat ingin berpisah darinya. Namun resiko besarnya adalah Mason akan

Tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh, itu yang aku pikirkan sejak Mason lahir jika aku melayangkan gugatan cerai. Oh Tuhan, tapi aku

Sangat tersiksa. Berikanlah aku jalan atas seijinmu untuk memisahkan aku dengan lelaki ini. Ya...kelak aku akan meninggalkan lelaki didepanku

Ini, dan membawa Mason bersamaku. Hanya Mason.