Mohon tunggu...
Dirman Rohani
Dirman Rohani Mohon Tunggu... Menulis suka-suka

A

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Banjir Bandang dan Lelaki Penjaga Mesin Listrik

8 April 2017   11:07 Diperbarui: 9 April 2017   01:49 0 7 2 Mohon Tunggu...
Cerpen | Banjir Bandang dan Lelaki Penjaga Mesin Listrik
Piergiorgio Branzi | @kulturtava

Tanpa sengaja terdengar obrolan ini:

 “Hanya darah pembuat perahu. Darahnya pencipta kapal-kapal perang kesultanan tempo dulu di badanmu itu... “

“Tapi, sekarang zamannya serba mesin, Yah. Kapal-kapal sekarang semuanya pakai mesin.”

“Ya, biarlah si Deni temanmu itu saja yang kerja dan belajar mesin.  Ayahnya montir dan punya bengkel. Kau!? Kau anak tukang kayu, cucunya tukang kayu dan moyangmu semuanya tukang kayu,Nak!”

***

Ia sama sekali tak berminat meneruskan tradisi keluarga. Lelaki muda usia 20 tahunan yang hanif  itu bernama Kendar.    

Aku dan anak semata wayang Wak Jalo dan Umi Oja itu sudah hampir tiga bulan bekerja membantu Pak Barus. Bergantian kami  menjaga mesin generator listrik  agar selalu hidup. Teranglah  pelosok kaki bukit ini. Malam-malam riuh dengan suara anak-anak menyetor hafalan Juz 30 bersama Kendar di mesjid. Belajar dan mengerjakan PR sekolah di rumah pun sudah asyik, tidak temaram lagi dengan cahaya teplok. Merekahlah harapan yakin akan masa depan. Dan kini menghidupkan telivisi sudah tak lagilah pakai baterai aki yang saban hari harus diisi ulang ke kota kecamatan. Itukan dulu. Sekarang listrik sudah ada di kampung kami.

Tapi  mesin  itu hanya sementara saja, biaya operasionalnya sangat besar, begitu kata Pak Barus. Dan katanya juga, minggu depan akan ada yang datang dari Ibu Kota. Mereka akan meninjau sungai yang membelah gunung dan belantara  perkampungan kami. Nantinya air yang melimpah dari  sungai itu akan di gunakan untuk menghasilkan energi listrik. Jadi generator listrik  bermesin bahan bakar solar ini akan berganti dengan generator berturbin air.

Wah, alam ini memang penuh mangfaatnya, ya. Suara hatiku bersyukur.

Awal musim penghujan yang dingin, kami semua menyambut hangat kedatangan mereka. Rombongan dari Ibu Kota yang berjumlah lima orang itu mencari pemandu yang menguasai medan rimba pegunungan ini. Hanya Wak Jalo dan anaknya Kendar sahabatku itulah yang  sangat menguasai setiap jengkal hutan di sini. Yang lain hanya sebatas berkebun saja di kaki bukit, tak ada yang berani menjadi penunjuk jalan. Apalagi semua juga tahu. Kalau di sana semakin ke dalam rimba banyak berkeliaran gajah dan harimau yang dilindungi itu.

Karena usia tak memungkinkan lagi, Wak Jalo menolak ikut serta. Hanya aku dan Kendar saja yang menemani rombongan survei itu. “Sejak umur 15 tahun Kendar sudah saya bawa menjelajahi hutan  mencari kayu. Kami mencari pohon besar hingga ke puncak gunung itu,”  kata Wak Jalo sambil menunjuk salah satu puncak gunung yang terlihat paling jauh diantara puncak gunung lainnya.  Rombongan dari Ibu Kota itu mengangguk-angguk saja mendengar ucapan Lelaki tua  yang nama sebenarnya Jalaluddin. Tak ada yang tahu bagaimana bisa lelaki tua itu dipanggil Wak Jalo. Mungkin karena dari dulunya sudah dikenal orang sebagai pembuat ‘Jalo’—sampan atau perahu kayu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x