Majid Himawan
Majid Himawan Mahasiswa

Mahasiswa Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Agama Islam UII Konsentrasi Ekonomi Islam

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Debatable "Cupu" dan "Alim" dalam Perspektif Ekonomi

13 Januari 2018   22:45 Diperbarui: 16 Januari 2018   16:41 441 0 0
Debatable "Cupu" dan "Alim" dalam Perspektif Ekonomi
Foto: Redbook.com

Suatu ketika di kampus saya mendengar dua orang mengomentari seseorang yang berpakaian ala kadarnya, kedua orang tersebut berkata :

Si A : iih cupu banget ya ?

Si B : iya, pasti anak alim....

Sambil melanjutkan  berjalan saya berfikir, dari dulu yang saya tahu "cupu" selalu diidentikan dengan "alim". Kenapa demikian ya ??? Singkat cerita saya ke perpus sambil mencari referensi mengenai arti dua kata tersebut. 

Dari referensi yang saya dapati cupu berarti lubang pada lesung pipi sedangkan alim adalah orang yang berilmu. Sayapun belum puas, akhirnya dibeberapa artikel yang saya baca, saya menemukan arti cupu adalah singkatan dari culun punya. Mungkin ini yang lebih relevan pada topik pembahasan penulis.

Mengaitkan kata cupu dan alim sudah sering kita dengar dan jumpai pada kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh orang yang berdandan tidak sesuai fashion yang sedang tren (kekinian) dan cenderung menggunakan pakaian model lama atau rapih sering disebut cupu dan alim. Termasuk orang yang rajin keperpus berkacamata model "standar" juga dilabeli demikian.

Biasanya cupu akan di lawankan dengan kata gaul, secara otomatis jika seseorang dilabeli cupu maka dia tidak termasuk gaul, gaul sendiri sering di identikan dengan sesuatu yang kekinian serta maju. 

Pemaknaan cupu pun tidak berhenti pada gaya berpakian serta cara orang berekspresi. Namun juga Sering kita jumpai pula fenomena anak yang tidak mau diajak nongkrong larut malam, tidak mau bolos kuliah, atau melakukan penyimpangan sosial dan bla..bla...bla lainnya juga disebut cupu.

Gaya hidup pada zaman ini pun terus berkembang sesuai perkembangan zaman, hal paling konyol adalah ketika orang yang berhemat demi savingatau investasi jangka panjang secara pribadi dengan menahan keinginan untuk membeli barang branditseperti pakaian, perlengkapan hobi bahkan menahan untuk tidak membeli makanan di caffe atau restoran justru di bilang cupu, kuper, tidak gaul dsb.

Jika ditinjau secara mendalam, justru individu yang berfikir untuk menginvestasikan uang yang dimilikinya dan memilih pola hidup hemat demi melihat pilihan berdasarkan skala prioritas yang terkelompokan menjadi primer, sekunder,dan  tersier justru pantas disebut maju dan "alim" dalam artian orang yang berilmu karena mereka mampu mengamalkan prinsip dari teori ekonomi.

Padahal jika dilihat dari pemahaman kebanyakan orang yang mengkorelasikan bahwa cupu sama dengan stagnansi atau kemunduran dan gaul serta bergaya hidup borjuis adalah kemajuan, hal itu bertentangan dengan kata "alim" itu sendiri. 

Justru individu yang bergaya hidup mahal dan mengaku gaul, tanpa melihat skala prioritas bisa dilabeli "cupu" secara konotasi negatif karena minimnya dia dalam berilmu. Minim menerapkan prinsip hidup yang ideal.

Apabila fenomena ini dilihat dari perspektif ekonomi, orang yang sering menyebut dirinya gaul, kekinian, maju, modern namun tanpa melihat skala prioritas yang ada dan hanya melakukan pola konsumsi terus menerus tanpa melakukan savingatau investasi sama halnya dia melanggar prinsip ekonomi itu sendiri. 

Secara sistemik gaya seperti ini akan disukai oleh kaum kapitalis karena akan menjadi faktor utama dalam pemasukan laba, namun di sisi lain hal ini akan meningkatkan kemiskinan secara sistemik pula.

Fenomena  pemaknaan kata "cupu" dan "alim" ini seperti arti kata sosialita yang telah bergeser pemaknaanya dari orang yang peduli pada aspek sosial menjadi orang yang bergaya hidup mewah dan borjuis. Kurang lebih itulah indentifikasi antara kata "cupu" dan "alim" yang sering disalah persepsikan.

Secara ringkas seharusnya orang yang menyebut diri mereka maju atau kekinian tidak menyalahi teori ilmu termasuk teori ekonomi karena wawasannya sehingga dia layak disebut "alim" atau orang berilmu.