Navirta Ayu
Navirta Ayu

Mahasiswa Pascasarjana MSI UII Yogyakarta navirtaayu@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Halalkah Bisnis MLM?

12 Januari 2018   22:31 Diperbarui: 12 Januari 2018   22:48 5491 1 0

Apa pengertian dari MLM? Kepanjangan dari MLM sendiri adalah Multi Level Marketing, dimana definisi Multi Level Marketing (MLM) secara umum adalah model pemasaran yang menggunakan mata rantai Up Line-Down Line dengan memotong jalur distribusi.  Uraian menurut APLI (Assosiasi Pengusaha Langsung Indonesia) saat ini terdapat lebih 200-an perusahaan yang menggunakan sistem MLM dengan karakteristik, pola dan system tersendiri. 

Sehingga MLM ialah salah satu dari banyak metode memindahkan produk dari pabrik/pembuat ke pelanggan eceran. Tetapi prinsip dasar MLM adalah bahwa armada penjualan selengkapnya itu dikembangkan oleh tenaga penjual itu sendiri. Mereka yang berusaha paling keras dalam kegiatan ini akan mencapai tingkat paling tinggi dan dengan demikian menerima imbalan paling besar.

Adapun sejarah konsep MLM yaitu Konsep MLM pertama dicetuskan oleh NUTRILITE sebuah perusahaan AS pada tahun 1939. Saat ini MLM di seluruh dunia telah mencapai jumlah sekitar 10.000-an, di Indonesia jumlah MLM yang ada mencapai jumlah 1.500-an. Menurut data di internet, menunjukkan bahwa setiap hari muncul 10 orang millioner/ jutawan baru karena mereka sukses menjalankan bisnis MLM. 

Data menunjukkan bahwa sekitar 50% penduduk di Amerika Serikat kaya karena mereka sukses dari bisnis MLM, begitu pula di Malaysia.Kini jumlah MLM di Malaysia telah mencapai sekitar 2.000-an dengan jumlah penduduk 20 jutaan. Tahun-tahun berikutnya diduga akan makin banyak perusahaan MLM dari Malaysia dan Negara lain akan masuk ke Indonesia.

Beriku uraian secara rinci sistem perdagangan Multi Level Marketing (MLM) dilalui dengan cara sebagai berikut :

Mula-mula pihak perusahaan berusaha menjaring konsumen untuk menjadi member dengan mengharuskan calon konsumen membeli paket produk perusahaan dengan harga tertentu.

Dengan membeli paket produk perusahaan tersebut, pihak pembeli diberi satu formulir keanggotaan (member) dari perusahaan.

Sesudah menjadi member, maka tugas berikutnya adalah mencari calon member-member baru dengan cara seperti di atas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.

Para member baru juga bertugas mencari calon member baru lagi dengan cara seperti di atas, yakni membeli produk perusahaan dan mengisi formulir keanggotaan.

Jika member mampu menjaring member-memberbaru yang banyak, maka ia akan mendapat bonus perusahaan. Semakin banyak member yang dijaring, maka semakin banyak pula bonus yang akan didapatkan, karena perusahaan merasa diuntungkan oleh banyaknya member yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan.

Dengan adanya para member baru yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan, maka member yang berada pada level pertama (member awal/pelopor), kedua dan seterusnya akan selalu mendapatkan bonus secara estafet dari perusahaan karena perusahaan merasa diuntungkan dengan adanya member-member baru yang sekaligus menjadi konsumen paket produk perusahaan.

Lalu bagaimana menurut pandangan ekonomi Islam, apakah terdapat MLM dalam bentuk syari'ah. Dan ternyata adapun kriteria bisnis Multi Level Marketing(MLM) Syariah adalah sebagai berikut:

Produk yang dipasarkan adalah produk halal, thayyib (berkualitas) dan jauh dari syubhat (sesuatu yang masih meragukan).

Sistem akad memenuhi kaidah dan rukun jual beli sebagaimana yang terdapat dalam hukum Islam (fiqh muamalah).

Operasional, kebijakan, corporate culture dan sistem akuntansi sesuai dengan syariah.

  1. Tidak ada excessivemark up harga yaitu harga barang di mark up sampai dua kali lipat, sehingga anggota terzalimi dengan harga yang amat mahal, tidak sepadan dengan kualitas dan manfaat yang diperoleh.
  2. Struktur manajemen memiliki Dewan Pengawas Syariah yang terdiri dari para ulama yang memahami masalah ekonomi.
  3. Formula insentif adil, tidak menzalimi down line dan tidak menempatkan up line hanya penerima pasif income tanpa bekerja, up line tidak menerima income dari hasil jerih payah down line.
  4. Pembagian bonus mencerminkan usaha masing-masing anggota.
  5. Tidak ada eksploitasi dalam aturan pembagian bonus antara orang yang terdahulu menjadi anggota dengan orang yang terakhir menjadi anggota.
  6. Insentif (bonus) yang diberikan jelas angka nisbahnya sejak awal
  7. Tidak menitik beratkan barang-barang tertier ketika masyarakat masih bergelut dengan pemenuhan kebutuhan primer.
  8. Cara penghargaan kepada anggota yang berprestasi tidak mencerminkan sikap hura-hura dan pesta pora.
  9. Perusahaan MLM berorientasi pada kemaslahatan ekonomi umat.

Sekarang ini sedang banyak bisnis MLM, contohnya Tianshi atau Tiens, pertanyaannya apakah sistem MLM yg diterapkannya itu Halal? Apakah terdapat unsur money game dalam Bisnis MLM? Adakah yang sesuai syariah diantara perusahaan MLM yang ada di Indonesia saat ini?

Kemudian dalam hal tersebut dosen Universitas Islam Indonesia yang bernama Nur Kholis menjelaskan bahwa semua bisnis termasuk yang menggunakan sistem MLM dalam literatur syari'ah Islam pada dasarnya termasuk kategori mu'amalat yang dibahas dalam bab Al-Buyu' (Jual-beli) yang hukum asalnya dari aspek hukum jual-belinya secara prinsipboleh

berdasarkan kaidah fiqih sebagaimana dikemukakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah "Pada dasarnya semua ibadah hukumnya haram kecuali kalau ada dalil yang memerintahkannya, sedangkan asal dari hukum transaksi dan mu'amalah adalah halal kecuali kalau ada dalil yang melarangnya". (Lihat I'lamul Muwaqi'in 1/344). Hal itu tentunya selama bisnis yang dilakukan memenuhi unsur syariah yaitu bebas dari unsur-unsur haram diantaranya;

Riba (Transaksi Keuangan Berbasis Bunga); Dari Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : "Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam bersabda: "Riba itu memiliki tujuh puluh tiga pintu yang paling ringan adalah semacam dosa seseorang yang berzina dengan ibunya sendiri"(HR. Ahmad 15/69/230, lihat Shahihul Jami 3375)

Gharar (Kontrak yang tidak Lengkap dan Jelas); Dari Abu Hurairah ra. berkata : "Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam melarang jual beli gharar". (HR. Muslim)

Penipuan (Tadlis/Ghisy); Dari Abu Hurairah ra. berkata: "Rasulullah shalallahu 'alahi wasallam melewati seseorang yang menjual makanan, maka beliau memasukkan tangannya pada makanan tersebut, ternyata beliau tertipu. Maka beliau bersabda: "Bukan termasuk golongan kami orang yang menipu". (HR. Muslim 1/99/102, Abu Dawud 3435, Ibnu Majah 2224)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2