Mohon tunggu...
Naufal Pambudi
Naufal Pambudi Mohon Tunggu... Mr.

Koordinator Ikatan Masyarakat Muda Madani (IMAM)

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Mengendus Dalang di Balik Kelompok Perusuh

27 Mei 2019   20:30 Diperbarui: 27 Mei 2019   20:49 1382 8 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengendus Dalang di Balik Kelompok Perusuh
Foto: Tribunnews.com

Senin ini (27/05), Aiman Witjaksono mengulas operasi rahasia di balik kerusuhan 22 mei kemarin. Dalam tulisannya di laman kompas.com, dia menyebut tiga kelompok yang terindikasi menjadi pelaku perusuhan, yaitu: kelompok preman bayaran; sosok penembak jitu; dan kelompok gerakan radikal. 

Secara sederhana, aksi tiga kelompok perusuh itu dapat dijelaskan dengan skenario ringkas sebagai berikut:

1) Preman Bayaran Menyulut Kerusuhan

Pada 21 Mei, massa perusuh datang dari Rangkasbitung menuju Stasiun Tanah Abang. Begitu turun, mereka menerima pembagian amplop, lalu bergerak ke arah Petamburan, Tanah Abang dan Bawaslu. Massa perusuh kedua terpantau menggunakan ambulan, lalu melakukan aksi-aksi pembakaran. 

2) Penembak Gelap Membidik Martir

Saat kerusuhan disulut, penembak gelap membidik massa yang ditarget sebagai martir. Sudah rahasia umum, dalam pergerakan massal, jatuhnya korban bisa jadi bahan bakar kerusuhan lebih besar. Satu nyawa meregang, akan memicu kemarahan publik ketika isu kematiannya diolah secara massif. 

3)Kelompok Radikal Kobarkan Provokasi Jihad

Tentu saja, perlu sentimen bersama untuk menggerakkan kemarahan publik. Di sinilah peran penting kelompok radikal. Sel-sel kader mereka siap menebar berita hoaks kematian para martir yang diopinikan sebagai jihad fisabilillah. Tujuannya, tentu saja agar kaum muslim terpancing ikut turun jalan, dan turut menyudutkan posisi aparat dan pemerintah. 

Dari peta kelompok perusuh berikut desain aksi mereka itu, beberapa catatan layak didalami.

a) Dari mana dana operasi kerusuhan?

Menurut keterangan kepolisian, massa kerusuhan 22 Mei lalu bejumlah sekitar 6 ribu orang. Jika setiap orang mendapat Rp300 ribu saja, dibutuhkan Rp1,8 miliar untuk pembagian amplop. Itu belum termasuk dana penembak gelap dan operasi pendukung lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN