Mohon tunggu...
Naufal Pambudi
Naufal Pambudi Mohon Tunggu... Mr.

Koordinator Ikatan Masyarakat Muda Madani (IMAM)

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Prabowo dan Kim Jong-un

2 April 2019   17:05 Diperbarui: 2 April 2019   17:18 0 1 0 Mohon Tunggu...
Prabowo dan Kim Jong-un
Foto Suara.com

Saat menyimak Debat IV Pilres, tiba-tiba aku teringat sosok Kim Jong Un. Kalau saja pemimpin tertinggi Korea Utara itu menyimak debat, mungkin dia senyam-senyum mendengar argumen Prabowo. Betapa tidak, Prabowo tak hanya mirip Kim Jong Un dalam strategi pertahanan, tapi sikap-sikapnya pun menggambarkan model kepemimpinan Korea Utara.

Hingga era Kim Jong Un, Korea Utara terus memelihara kecurigaan terhadap negara-negara asing. Beberapa kali rezim berganti, dan mereka tetap mengisolasi diri dari pergaulan luar. Mereka menganggap negara lain sebagai antek Amerika Serikat yang sewaktu-waktu akan menyerang dan mengambil alih kedaulatan Korea Utara.

Pandangan itu terus mereka pertahankan, seolah dunia masih menjalani peperangan seperti di era kolonial. Padahal, kolonialisme telah jauh bergeser. Saat ini negara-negara dunia terintegrasi dalam sistem global, yang mustahil sebuah negara bisa berkembang tanpa kerja sama dengan negara lain. Sistem dominasi juga telah digeser oleh model asosiasi dan berbagi.

Toh perkembangan dunia itu serasa tak penting bagi Korea Utara. Mereka terus merasa terancam oleh perang saudara dengan Korea Selatan. Sejak gencatan senjata pada 1953, Korea Utara bahkan menghabiskan anggaran negaranya untuk menggenjot kekuatan tempur. Mereka bahkan memproduksi hulu ledak nuklir, yang bisa menghancurkan dunia dalam sekejab.

Terang saja, tindakan Korut itu memicu kekhawatiran dunia, dan membuat Korut kian terkucil dari pergaulan global. Bukannya mengoreksi kebijakan pertahanannya, Korut justru kian menjadi-jadi. Tiap kali merasa terpojok, mereka melakukan uji coba nuklir untuk menakuti masyarakat dunia, dan agar masyarakat dunia menuruti keinginan Korut.

Di dalam negeri, Korut tak kalah gilanya. Mereka menerapkan sistem partai tunggal, semua tindakan yang berbeda dengan partai dianggap melanggar, memberontak, dan bisa dijerat hukum. Parahnya, aturan diterapkan secara membabi buta. Warga negara harus patuh terhadap semua aturan, mulai dari ketentuan politik, cara berpakaian, hingga model potongan rambut. Bayangkan, di Korut ini orang bisa dipenjara hanya karena potongan rambutnya beda.

Kembali ke Debat IV Pilpres kemarin, ternyata argumen dan sikap-sikap Prabowo mirip model pemerintahan Korut. Selain memarahi penonton debat yang tertawa, Prabowo juga sering memarahi orang saat dia tengah berpidato. Jelas terlihat bahwa Prabowo terinspirasi kebijakan totaliter ala Korut, yang mangatur-atur semua tindakan warga, hingga cara tertawa pun harus diatur.

Prabowo juga membayangkan kekuatan militer sebagai ujung tombak politik luar negeri. Hal itu sangat mirip dengan cara Kim Jong Un main ancam dengan senjata nuklirnya. Dia gagal paham, bahwa Amerika tak terlalu khawatir dengan ancaman itu. Mereka punya sistem pertahanan anti misil yang siap merontokkan rudal-rudal yang masuk ke wilayah AS. Memang, yang dikhawatirkan justru ledakan nuklir yang rontok itu hanya menumbalkan warga sipil.

Tak heran, saat ini Jong Un mulai melunak. Dia mulai membuka pintu perundingan dengan Korsel. Mungkin Prabowo melihat itu sebagai peluang. Prabowo merasa perlu mengambil alih peran Jong Un mengaum-aum, menakuti masyarakat dunia. Bisa jadi, memang sosok seperti Kim Jong Un lah yang selama ini dibayangkan Prabowo sebagai Macan Asia.

Dan jangan kaget, kalau Prabowo benar-benar jadi presiden, kita akan lebih sering mendengar dia main-main ancam, baik nakut-nakuti warga maupun ngancam negara lain. Mungkin dia juga akan bikin Perpres yang mengatur cara orang tertawa. Kenapa? Lucu? Jangan tertawa! Auummm...

VIDEO PILIHAN