Mohon tunggu...
Feri Ennik Dwi Ernawati
Feri Ennik Dwi Ernawati Mohon Tunggu... Guru - Guru

Hobi Kuliner

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Pahami Keterampilan Dasar Konseling

6 Desember 2022   12:15 Diperbarui: 6 Desember 2022   12:27 232
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Dalam mengupayakan tercapainya tujuan konseling, maka konselor wajib menguasai keterampilan dasar konseling dalam konseling. Keterampilan- keterampilan dasar tersebut yaitu ;

  • 3M (Mendengar dan Memperhatikan, Memahami, Merespon).

Keterampilan Dasar Konseling dalam mendengar dan memperhatikan yaitu isi pembicaraan, makna pembicaraan atau apa yang terkandung dalam isi pembicaraan, latar depan dan latar belakang pembicaraan, serta cara konseli menyampaikan isi pembicaraan. Dalam kegiatan mendengar dan memperhatikan ini hendaknya konselor lebih banyak diam dan menggunakan semua inderanya untuk menangkap semua pesan yang disampaikan konseli.Dalam suasana ini konselor bersedia berempati, dan membuktikan diri bahwa dia benar-benar mendengar, mengerti, dan menerima segala sesuatu yang telah dikatakan oleh konseli kepadanya.

Keterampilan Konseling dalam memahami, konselor memahami apa yang didengar dan dikatakan oleh konseli serta mampu mengkomunikasikan pemahaman konselor itu kepada konseli. Menurut Munro, konselor hendaknya mempercayai pemahamannya sendiri tentang diri konseli dan tentang apa yang sedang berlangsung, dan perlu berhati-hati untuk tidak menafsirkan apa yang diceritakan oleh konseli menurut pikiran konselor saja.

Merespon secara tepat dan positif artinya dalam memberikan tanggapan hendaknya secara tepat direspon permasalahan yang dialami konseli. Memberikan tanggapan positif kepada konseli sehingga konseli merasa ada yag memahami dan membantunya sehingga ada kemajuan kearah yang lebih baik. Dalam merespon konseli, apa yang disampaikan konselor kepada konseli harus menggunakan kalimat singkat, jelas, dan tidak tumpang tindih. Bahasa yang digunakan konselor harus jelas, tidak campur aduk dan harus dipahami dengan baik oleh konseli. Tanggapan yang diberikan konselor juga harus memiliki makna bagi konseli. Konselor hendaknya tidak menggunakan kata “tetapi” dan “namun” yang dikhawatirkan bias mendorong konseli untuk bereaksi mempertahankan diri.

  • Dorongan Minimal

Dalam hubungan konseling untuk menunjukkan bahwa konselor berupaya memahami persoalan yang dialami oleh konseli maka diperlukan respon-respon tertentu yang bertujuan untuk merangsang, menguatkan dan memberi sokongan kepada konseli. Respon-respon yang dimaksud adalah respon dalam bentuk dorongan minimal yang sifatnya verbal ataupun non verbal yang disampaikan atau ditampilkan secara singkat namun efek dalam meningkatkan kualitas kedalaman pembicaraan dengan konseli.

Penggunaan dorongan minimal dilakukan sepanjang tahapan atau proses konseling berlangsung. Dorongan minimal dapat digunakan secara efektif untuk menjaga kelangsungan pembicaraan konseli dan menghindari agar konselor tidakterlalu banyak berbicara yang dapat mengakibatkan konseli hanya menjadi pendengar saja.

  • Menyambut/ Menerima Konseli

Kesediaan konseli dalam proses konseling akan tergantung pada seberapa baik konselordapat menerima konseli sebagaimana adanya secara positif, tidak menuntut konseli tampil dengan kondisi tertentu atau memberikan label tertentu kepada konseli. Konselor harus menerima keadaan konseli apa adanya.

  • Kehangatan

Kehangatan dalam hubungan konseling merupakan kondisi yang penuh persahabatan dan penuh perhatian  yang ditunjukkan dengan ekspresi nonverbal seperti senyuman, kontak mata, dan berbagai ekspresi nonverbal lainnya yang menunjukkan adanya perhatian penuh pada konseli. Dengan menunjukkan sikap hangat, akrab, dan bersahabat akan menumbuhkan rasa aman, tenteram, damai, dan penuh kekeluargaan dalam diri konseli sehingga konseli merasa betah dalam berkomunikasi dengan konselornya.

  • Keterbukaan

Keterbukaan konselor diperlukan agar konseli terdorong menjadi terbuka kepada konselor. Konselor dapat menyampaikan penerimaannya yang positif dengan mengatakan bahwa dia menghargai kedatangan konseli atau konselor menyatakan kegembiraannya bahwa dia dipercaya membicarakan masalah yang dialami konseli. Konselor benar-benar membuka atau mengungkapkan dirinya untuk membantu masalah yang dihadapi konseli.

  • Penerimaan Positif dan Penghargaan Tanpa Syarat

Penerimaan positif dan penghargaan tanpa syarat akan menghasilkan perasaan diterima dan perasaan betah pada diri konseli. Konselor hendaknya bersedia secara tulus untuk memandang bahwa setiap individu berbeda satu sama lain dalam segala bentuk dan caranya, adanya kesediaan untuk memandang bahwa setiap individu itu memiliki pengalaman masing-masing

  • Jarak dan Sikap Duduk

Pengaturan jarak dan sikap duduk dalam konseling sangat dibutuhkan untuk mendorong proses konseling berjalan dengan lancer. Dalam penyelenggaraan konseling, jarak duduk yang baik adalah antara 80 cm sampai 100 cm dengan tidak memakai pembatas atau meja, dengan tujuan agar konselor dapat dengan mudah menangkap isyarat yang ditampilkan konseli baik gerakan maupun isyarat non verbal. Sikp duduk berhadapan dengan konseli dan menunjukkan sikap responsive.

  • Kontak Mata

Kontak mata merupakan satu cara untuk saling melibatkan diri antara konselor dan konseli. Kontak mata yang baik dengan cara melihat konseli ketika sedang berbicara dan menggunakan pandangan mata yang menunjukkan perhatian.

  • Penggunaan Volume Suara

Dalam memulai hubungan konseling, aspek yang juga penting untuk diperhatikan konselor adalah penggunaan suara. Pengaturan suara yaitu kejelasan suara, kecepatan berbicara, nada dan volume suara yang tepat dapat menunjukkan hubungan yang empati terhadap konseli dan dapat meyakinkan  konseli bahwa konselor benar-benar berkonsentrasi pada konseli dengan memahami dan merespon dengan tepat pembicaraan dengan konseli.

  • Ajakan Terbuka untuk Berbicara

Konselor mempersiapkan konseli untuk mulai menjelaskan masalah yang akan dibicarakan dengan mengajukan suatu pertanyaan atau kalimat pernyataan. Konselor diharapkan tidak menghujani pertanyaan bertubi-tubi kepada konseli yang akan membuat konseli ragu dan merasa diinterogasi sehingga konseli merasa takut.

  • Penstrukturan

Dalam kegiatan konseling seorang konselor sering menemui konseli yang belum mengetahui apa yang dimaksud dengan konseling. Konseli belum memahami pengertian, asas tujuan konseling. Penstrukturan menjelaskan peran konselor, peran konseli, dan proses konseling yang akan dijalankan konseli

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun