Mohon tunggu...
BaksoLahar Nasrulloh
BaksoLahar Nasrulloh Mohon Tunggu... Wirausaha

Owner Bakso Lahar, Channel Youtube Dengerin Hati

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mengkoreksi Sejarah

8 Mei 2021   22:53 Diperbarui: 8 Mei 2021   23:10 23 2 0 Mohon Tunggu...


Adakah penulisan sejarah yang jujur? Sejarah telah menjadi konflik kepentingan untuk legitimasi keagungan hingga kekuasaan. Sejarah sering menjadi alat penyingkiran peran dan suku bangsa tertentu. Sejarah juga menjadi politik identitas tertentu.

Penyakit Yahudi itu memutarbalikkan sejarah dan fakta. Sejarah diputar balikkan untuk mendominasi dan legalitas kekejiannya. Mengapa legal menjajah Palestina? Karena tanah yang dijanjikan tuhan dakam kitab sucinya. Mengapa berhak merobohkan Baitul Maqdis? Karena harta karun Nabi Sulaiman berada di bawahnya. Itulah klaim-klaim sejarah yang dibuatnya.

Kisah Nabi Ibrahim diselewengkan bahwa dia seorang Yahudi. Padahal   Nabi Ibrahim seorang yang hanif dan muslim yang selalu berserah diri kepada Allah. Sejarah Nabi Sulaiman diselewengkan bahwa dia murtad dari Islam. Di hari tuanya, Nabi Sulaiman dimanipulasi  menyembah berhala karena menuruti kehendak 700 istrinya dan 300 gundiknya.

Kerajaan Nabi Sulaiman besar karena dukungan kekuatan sihir. Kisah Harut Marut adalah malaikat yang mengajarkan sihir. Malaikat itu anak perempuannya Allah. Malaikat Jibril dimusuhi karena membawa berita hancurnya Baitul Maqdis.

Banyak kisah penyelewengan Nabi direkayasa untuk melegalkan pembunuhan terhadap Nabi dan Rasul yang diutus kepada-Nya. Saat Rasulullah saw tiba di Madinah pun, mereka mengakui Muhammad saw memiliki sifat kerasulan tetapi bukan Muhammad saw yang dimaksud. Masih ada orang lain yang ditunggu-tunggu sebagai Rasul.

Kisah Israiliyat banyak menyebar. Kisah ini tak boleh dijadikan referensi pembenaran. Tetapi tak boleh juga menyalahkan. Semuanya hanya sebatas khazanah  pengetahuan saja. Inilah penghargaan Islam terhadap umat terdahulu.

Surat Al-Baqarah cukup banyak memaparkan sejarah yang diselewengkan. Dalam surat ini Allah mengoreksinya. Oleh karena itulah, Buya Hamka menyarankan bila menyajikan sejarah umat terdahulu ambil saja dari Al-Qur'an. Karena Allah Maha Mengetahui segala hal yang terjadi.

VIDEO PILIHAN