Edukasi

Apa Salah UAS Hingga Kau Persekusi?

15 September 2018   01:02 Diperbarui: 15 September 2018   19:01 408 1 0
Apa Salah UAS Hingga Kau Persekusi?
bangka.tribunnews.com

Tiga  tahun yang lalu, saat belum genap satu bulan menginjakkan kaki di bumi  lancang kuning, saya begitu haus akan majelis ilmu yang bisa menyirami  hati yang rasanya lama tak ter-update oleh siraman rohani. Beberapa  masjid saya coba untuk sambangi, tapi apalah yang saya dapatkan, hanya kajian-kajian yang ringan dan datar dan tak bisa mengenyangkan  intelektualitas dan spiritualitas saya. 

Sampai pada akhirnya, saya nekat  untuk datang ke kantor Kementerian Agama Pekanbaru hanya untuk  menanyakan adakah kajian-kajian keagamaan yang diadakan oleh pemerintah  setempat. Sebenarnya niat saya menanyakan hal tersebut bukan menekankan  pada ikut kajiannya, tapi lebih kepada mencari referensi tokoh yang bisa  saya jadikan panutan dan rujukan saat saya tinggal di Pekanbaru.  

Obrolan pun mengalir dengan beberapa pegawai kantor hingga salah satu  dari mereka menyarankan saya untuk bergabung dengan Majelis Dakwah  Indonesia, semacam perkumpulan para ulama dan ustadz-ustadz Pekanbaru  yang langsung dibina oleh Kementerian Agama Kota Pekanbaru. Akhirnya,  setelah mengumpulkan berkas-berkas persyaratan, saya pun diizinkan untuk  bergabung dengan Majelis Dakwah Indonesia (MDI) Kota Pekanbaru. Di MDI  saya punya banyak kenalan baru, mereka berasal dari berbagai pesantren  di Jawa seperti Kediri, Jombang, Ponorogo, dan lain sebagainya. 

Dari  merekalah saya belajar banyak mengenai corak keberagamaan di wilayah Propinsi Riau dan sekitarnya khususnya di Kota Pekanbaru yang tentunya  sangat berbeda dengan di Jawa yang sangat kental dengan karakter NU dan Muhammadiyahnya.

Hari itu merupakan jadwal pertama saya untuk  mengikuti pembinaan para da'i dalam rangka persiapan tugas selama bulan Ramadhan 1436 H. Di Pekanbaru, setiap bulan Ramadhan, para da'i yang  terpilih dan telah tergabung di MDI dikumpulkan, dibina, dan  didistribusikan oleh pemerintah setempat untuk menjadi penceramah dan imam sholat di semua masjid yang ada di Kota Pekanbaru. 

Saat pembinaan  itu, saya memilih duduk di deretan kedua. Peserta pembinaan semua berkumpul, tak lama kemudian, datang sosok kurus berpakaian putih dan  berpeci hitam yang kemudian dipersilahkan duduk di depan, tentu saja  bisa ditebak, dialah sosok yang akan memberikan pembinaan kepada para  peserta di hari itu, namanya Ustadz Abdul Somad, Lc. MA atau yang sering  kita kenal dengan sapaan UAS. 

Sebelum dipersilahkan untuk berbicara,  dia lebih banyak diam, wajahnya datar, tangannya di bawah meja, dari  tampilan dan sikapnya itu membuat saya berfikir, apa istimewanya orang  ini? Tapi setelah dia bicara, nampaklah keilmuannya, bicaranya lepas,  lantang tapi santai (sebagaimana khas/karakternya), kadang keluar  kalimat-kalimat tak terduga dan mengundang gelak tawa, dan yang saya  suka saat itu, setiap pembahasan dia sampaikan hadisnya lengkap dengan  pendapat empat imam madzab. 

Tak butuh lama, pada hari itu juga, saya mendapatkan info tentang pribadi UAS, pendidikannya (S1 Mesir dan S2  Maroko), profesinya (Dosen di UIN Sultan Syarif Kasim), organisasinya  (Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Riau), dan aktivitas rutinnya  (penceramah di berbagai TV lokal di Riau). Tentu saja, semua itu membuat saya tertarik dengannya. Pikir saya, inilah sosok yang saya cari, orang  yang kebetulan aqidahnya sama dengan saya, aqidah Al-Asy'ariyah  Al-Maturidiyah, apalagi dia masuk dalam struktural kepengurusan di NU.  

Selama di Pekanbaru, saya tidak pernah menemukan tokoh yang lebih NU  dari UAS, apalagi dia banyak dijadikan referensi dalam membentengi  masyarakat dari paham Salafi-Wahabi yang gerakannya sangat masif di  Pekanbaru.

Waktu terus berjalan, saya pun pulang ke Jawa dalam  rangka mengikuti wisuda S2, meski punya nomor kontak UAS, tapi tak sekalipun menghubunginya. Hingga pada akhirnya, saat saya mengisi acara  Lakmud IPNU-IPPNU di salah satu rumah bapak M. Hanif Dzakiri (Menteri  Ketenagakerjaan RI) di Pekalongan, teman-teman banser sedang asyik  ngobrol mengenai UAS dan cadar. 

Saat itu saya tidak "ngeh" bahwa yang sedang mereka bicarakan adalah sosok yang sudah pernah saya kenal.  Hingga pada suatu waktu, di sebuah group WA, ada salah seorang teman  menyentil soal UAS dan memposting fotonya, langsung saja saya komentar,  "Loh, kenal UAS juga toh?", teman yang lain menimpali, "Dia teman saya  waktu di Kairo Mesir", dari situlah obrolan mengerucut ke tema  "Kontroversial UAS" dan membuat saya semakin merasa kurang update  berita, terlebih soal "Kontroversial UAS" yang ternyata masih booming.  

Dalam sebuah diskusi, tentu saja ada yang pro dan kontra. Lalu saya  berada di posisi mana waktu itu? Sebagaimana prinsip saya, lebih dahulu  mengedepankan khusnudzon, dan tidak ikut berkomentar lebih dalam sebelum  ada data-data akurat yang bisa dijadikan dasar untuk memberikan sikap penilaian.

Di media, nama UAS semakin muncul di permukaan, tentu  saja dengan kontroversialnya, terutama di kalangan nahdliyin (saya jadi  teringat pernyataan Ust. Felix bahwa justru dengan kontroversial itulah  kita jadi terkenal). Dalam catatan saya, ada banyak poin pernyataan UAS  yang membuat namanya mencuat saat itu, namun yang akan saya sampaikan di  sini hanya ada dua hal, pertama, soal penilaian UAS terhadap Ketua Umum  PBNU, dan kedua, yang sangat kontroversial yaitu mengenai pandangannya  terhadap khilafah.

#PERTAMA, pandangan UAS terhadap Ketua Umum PBNU.

Dalam  sebuah pengajian, saat UAS ditanya mengenai sosok KH. Said Aqil Siroj,  UAS memberikan penjelasan bahwa Kiyai Said adalah seorang tokoh yang  terindikasi Syiah, dia kemudian memberikan rekomendasi bahwa ada tiga  nama Ulama NU yang bisa dijadikan rujukan yaitu KH. Idrus Romli, KH.  Lutfi Bashori, dan Buya Yahya. Ketiganya, menurut UAS, adalah anti sekulerisme dan liberalisme. 

Penjelasan UAS ini tentu saja mengundang reaksi keras dari warga nahdliyin (terutama Banser), karena selain  dianggap telah menyebarkan berita hoax mengenai ketua umum PBNU juga  secara tidak langsung menyuruh jama'ahnya untuk tidak mengikuti ulama NU  selain daripada tiga nama yang telah disebutkan tadi. Di saat sedang  gencar-gencarnya musuh-musuh NU dari kalangan Salafi-Wahabi terus melemahkan NU, UAS yang dianggap sebagai orang NU justru memukul PBNU dari dalam. 

Pada awalnya, saya hanya menganggap ini sebagai sebuah  miskomunikasi antara UAS pribadi dengan PBNU, secara, UAS tidak pernah  bertabayun soal ini secara langsung ke PBNU, apalagi, UAS dikabarkan  tidak pernah bersilaturrahmi dan kenal dekat dengan orang-orang PBNU  terutama KH. Said Aqil Siroj (tak kenal maka tak sayang). 

Selama ini,  dia mengenal sosok KH. Said Aqil Siroj hanya dari mulut tokoh ormas lain seperti FPI yang notabene sering bersitegang dengan NU sejak zamannya Gusdur atau tokoh HTI yang notanebe berbeda pandangan politiknya dengan  NU. Bisikan-bisikan dari kedua ormas inilah yang barangkali masih  dijadikan pegangan oleh UAS hingga kesalahpahaman masih berlanjut sampai  saat ini. 

Pandangan UAS mengenai ketua umum PBNU ini berimplikasi pada  isu yang disebarkan oleh orang-orang yang anti-NU bahwa NU yang sekarang  tidak seperti NU-nya Mbah Hasyim Asyarie. Dari sinilah muncul NU-GL  (Garis Lurus) yang secara tidak langsung menganggap tokoh NU yang tidak  tergabung dalam NU-GL berarti ke-NU-an sudah tidak lurus lagi.

Dari  poin pertama ini kita mendapat beberapa catatan, di antaranya: (1) UAS sering meminta kepada jama'ahnya untuk selalu bertabayun dan klarifikasi  mengenai ceramah-ceramahnya yang dianggap kontroversial tapi UAS  sendiri tidak pernah bertabayun dan klarifikasi mengenai penilaiannya  yang salah terhadap sosok KH. Said Aqil Siroj. Padahal secara keilmuan, UAS masih jauh di bawah KH. Said Aqil Siroj, pun secara usia. Jadi tidak  berlebihan jika ada yang menyebutkan bahwa UAS tidak punya adab kepada  PBNU. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2