Mohon tunggu...
Narayani Lakshmi Chandra
Narayani Lakshmi Chandra Mohon Tunggu... Guru - Jatuh tidak menyebabkanmu mati..bangun..berkarya!

A dreamer

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Antara Aku, Kanker Payudara, dan Kehamilanku

11 Juli 2021   18:20 Diperbarui: 11 Juli 2021   18:29 87 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Antara Aku, Kanker Payudara, dan Kehamilanku
Lyfe. Sumber ilustrasi: FREEPIK/8photo

Hai, namaku Windi. Sudah lama tidak menulis disini, merangkai imajinasi bahkan mencurahkan isi hati. Kali ini, izinkan aku berbagi, tentang segala yang terjadi di hidup ini, walau aku tak pernah ingin menarik hati, hanya sekedar ingin berbagi.

November 2020

"Miss Windi, mau les donk, jam 2 yaa", seperti biasa murid-murid privateku mengirim pesan untuk mengingatkan jadwal mereka masing-masing. Keseharian yang sudah aku jalani nyaris tiga tahun kebelakang. Rutinitas yang begitu aku sukai, aku cinta pekerjaan ini. Walaupun harus hinggap dari rumah murid satu ke murid yang lainnya, tapi aku menikmati sekali. Selelah apapun, aku tidak pernah ingin berhenti. Setelah  beberapa pesan kujawab singkat "Siap (nama muridku), ditunggu ya", aku mulai menyiapkan diri, berganti pakaian, lalu tanpa sadar teraba satu benjolan tepat di bawah areola kanan, keras dan lumayan besar. Sempat terlintas dalam benak, apa ya ini, tapi karena dikejar waktu harus berangkat mengajar, semua terlupakan begitu saja.

Januari 2021

Pertengahan bulan, badanku terasa demam. Sekujur tubuh terasa ngilu dan hangat. Bangunpun tak ingin. Rasanya lelah sekali. Ditambah payudara kanan mulai terasa sakit. Kuputuskan untuk tidur seharian saat itu. Wajahku mulai memucat, tidak lagi sesegar biasanya.. Tapi aku tetap tidak menyadari sumber dari keadaan itu. Mengapa aku melemah? Mengapa payudaraku sakit? Yang aku pikirkan hanya "mungkin aku kelelahan dan butuh sedikit istirahat", itu saja, tapi mungkinkah "sedikit kelelahan" menyebabkan wajahku sepucat itu, tubuhku selemah itu dan payudaraku sesakit itu? Mungkinkah? Lagi-lagi itu hanya sebatas pertanyaan dalam benak, tidak menjadi perhatian khusus ku l, tergantikan dengan optimis "besok juga sembuh" tanpa ada penanganan apapun,  yang justru menyebabkan sesal yang teramat dalam buatku.

Maret 2021

Aku mulai tidak mengenali tubuhku. Rasanya makin rapuh, wajah memucat dan mengecil. Tapi perutku makin besar dengan sensasi gerak di dalamnya. Aku mulai penasaran, ada apa denganku? Payudaraku semakin sakit setiap harinya, hingga di bulan ini aku tak mampu lagi menggunakan sekedar bra untuk menutupinya. Aku hanya bergantung pada baju yang berlapis-lapis. Lalu aku mulai tidak tahan, hingga suamiku memanggil layanan rumah sakit untuk merawatku dirumah. Hampir semua perawat yang datang dan melihat kondisi payudaraku bergidik ngeri. "Bu, segera periksakan, ini bukan luka biasa" ucapnya. Aku mulai takut, mulai penasaran, mulai ingin melihat apa yang terjadi pada tubuhku. Dan benar saja, tak lama setelah USG Mammae kulakukan, hasilnya keluar dan membuatku ketakutan. Ada indikasi keganasan disana. Aku mulai bingung harus berbuat apa. Aku pulang kerumah orang tuaku, bercerita dengan takut-takut, memperlihatkan hasilnya. Dan kedua orangtuaku terpekur. 

April 2021

Aku ditarik pulang kerumah orangtuaku, tentunya seizin suami dan anak-anak ku. Keluarga besar tak pernah lelah mendukung, menyemangati ku hampir setiap hari. Aku dipersiapkan untuk berangkat ke kota Denpasar yang menurut pengalaman kedua orangtuaku sangat  berpengalaman dalam menyelesaikan kasus-kasus tumor. Sebelumnya salah satu keluargaku menyarankan untuk memeriksakan kondisi perutku yang semakin besar dan terus bergerak. Aku sudah tidak bisa berfikir apapun, hanya bisa menuruti saran-saran yang aku yakin memang itulah yang terbaik. Dan kejutan Tuhan belum selesai, ketika memeriksakan kondisi peruku ke Spesialis Penyakit Dalam, beliau menemukan gerakan bayi disana. Aku hamil, hamil dalam keadaan sakit yang terindikasi ganas. Lalu harus apa sekarang? Otakku benar-benar kusut, sudah tidak mampu berfikir jernih. Hanya mampu berdoa dan berharap, semoga hasil di Denpasar nanti tidak seberat ini. Semoga bukan seperti yang didiagnosis di kota kelahiranku. Semoga bukan. 

Mei 2021

Profesor ahli Onkologi itu melihat kondisi payudaraku secara fisik, coba memeriksa benjolannya. Beliau menggeleng-gelengkan kepalanya. Menghembuskan nafas berat yang tak kupahami artinya saat itu. Setelah selesai pemeriksaan dengan penuh harap aku bertanya. "Bagaimana prof?". Beliau menatapku dan lalu berkata "biopsi ya, secara fisik ini Kanker, stadium 3. Tapi hasil pastinya kita lihat setelah biopsi nanti. Seketika tubuhku lemas, orangtuaku berusaha menguatkanku dengan berbagai cara. "Tuhan, bagaimana anak-anak ku jika aku harus berakhir dengan Kanker di tubuhku. Bagaimana jika aku kalah?". Aku ingin menangis. Dadaku sesak sekali. Otakku lalu mulai menyuarakan penyangkalan demi penyangkalan, diikuti dengan hatiku. Pasti salah, aku sehat, aku tidak Kanker, bahkan aku sedang hamil sekarang. Bagaimana bisa. Itu pasti salah. Kalimat-kalimat penyangkalan itu bermain-main di pikiranku, terus dan terus. Mungkin dalam Five stages of grief aku masuk ke stage denial saat itu. Semua kemungkinan ku sangkal. Yang aku percayai hanya pikiranku sendiri. Pikiran yang tidak terima keadaan. Pikiran yang menyalahkan kebenaran. Sampai hasil PA tertulis resminya keluarpun aku masih saja berkutat pada penyangkalan itu. Hingga aku lelah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x