Mohon tunggu...
Naqiyyah Syam
Naqiyyah Syam Mohon Tunggu...

Naqiyyah Syam, ibu 3 anak. Lahir di Jambi, 17 Juli 1980. Aktif sebagai Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena (FLP). Telah menulis 30-an buku antologi, duet dan solo. Buku terbarunya berjudul La Taias For Ummahat, Kekuatan Itu Bernama Ibu (Kalil, 2014). Dapat dihubungi di Akun Facebook : Naqiyyah Syam atau Naqiyyah Syam Full, Twitter : @Naqiyyah_Syam. Blog : http://www.naqiyyahsyam.com. Penulis kini menetap di Padang, Sumatera Barat. Karya : Berjuanglah Bunda Tak sendiri, (Elex Media, 2011), Let’s Enjoy The School (Gurita, 2012), Mengapa Harus Valentine? (Indie Publishing, 2012), Happy Mom (Elex Media, 2012), Dairy Bunda Ketika Buah Hati Sakit (Indie Publishing, 2012), Dosa-dosa Istri Kepada Suami yang Diremehkan Wanita (Al Maghfiroh, 2013), Cinta dan Harapan di Masa Tua (Jendela, 2013) dan La Taias For Ummahat, Kekuatan Itu Bernama Ibu (Kalil, 2014). Prestasi : Juara III Lomba menulis Cerpen Islami FLP Se-Propinsi Bengkulu (2001), Juara II Menulis Cerpen HIMIKOM (2001), Juara II Menulis Cerpen AKSI FOSI (2002), Juara III Menulis Essay Faperta UNIB (2002), Juara II Lomba Menulis Cerpen FLP Wilayah Lampung (2009), Juara I Kontes Blog Berbagi Kisah Sejati , Juara III Esai Kepemudaan Menpora (2010) dan Juara ke-6 Kontes Blog Beuty Halal (2013), dll.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Telon Lang Plus, Sahabat Ibu Cegah Anak dari Gigitan Nyamuk

9 Juli 2017   23:03 Diperbarui: 9 Juli 2017   23:29 0 0 0 Mohon Tunggu...
Telon Lang Plus, Sahabat Ibu Cegah Anak dari Gigitan Nyamuk
Telon Lang Plus, Sahabat Ibu Cegah Anak Dari Gigitan Nyamuk

Tahun 2008 adalah tahun yang menyedihkan buat kami suami-istri. Kami berdua mengalami penyakit Demam Berdarah (DBD). Awalnya aku mengalami mual dan muntah hingga demam tinggi dua hari berturut-turut. Saat itu, aku hanya dirawat di rumah oleh suamiku. Hari ketiga, panas menurun, gantian suami yang mengalami demam tinggi dan sakit kepala hebat. Akhirnya aku berinisiatif  "menyerahkan diri' ke Puskesmas terdekat.

Setelah diperiksa darah dan obeservasi lainnya, diketahui kalau kami berdua terkena DBD. Penularan DBD ini umumnya melalui nyamuk Aedes aegypti, jenis betina dewasa. Langsung saja pihak Puskesmas mendata rumah kami dan melakukan pengecekan. Diketahui ternyata banyak tetangga kami mengalami sakit DBD, bahkan ada yang telah meninggal akibat wabah DBD saat itu.

Kami berdua saat itu 4 hari dirawat di Puskesmas Way Jepara, Lampung Timur dan 4 hari dirawat di Rumah Sakit Kota Metro. Kami dibawa dengan ambulan. Awalnya kami dirawat jauh terpisah, terpaksa ibu mertua merawat suami, sedangkan aku ditemani pengasuh anak kami. Pengalaman tidak menyenangkan itu sangat membekas, sehingga kami sekeluarga semakin waspada dengan gigitan nyamuk.

Sejak itu, aku dan suami berbagi tugas untuk menjaga anak-anak dari gigitan nyamuk. Kebersihan rumah menjadi sorotan kami.  Jika mendengar salah satu tetangga yang kena DBD, sebaiknya kita melapor agar pihak puskemas terdekat melakukan fooging. Namun, pengalaman saat tinggal di Padang, beberapa tetangga yang memiliki warung menolak untuk dilakukanfooging, alasannya tidak aman dengan barang dagangan mereka. Memang sih tindakan fooging ini harus sesuai prosedur. Apalagi warga yang terkena asap beresiko mengalami keracunan, tidakan fooging sendiri dapat mengancam ekosistem yang ada. Untuk itu, cairan dan obat foogingharus sesuai standar Badan kesehatan Dunia (WHO).

Sebenarnya, selain melakukan fooging,masyarakat dapat melakukan gerakan 3 M dan program PSN (Pemberatan Sarang Nyamuk).  Beberapa efektif yang dapat dilakukan adalah :

1. Kuras bak mandi minimal seminggu sekali.

2. Tutup rapat penampungan air atau gentong air.

3. Ganti air di vas bunga secara rutin.

4. Hindari lama-lama mengantung pakaian.

5. Gunakan kasa nyamuk pada ventilasi jendela rumah.

6. Gunakan kelambu untuk melindungi bayi kala tidur pagi dan siang hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x