Mohon tunggu...
Kinanthi
Kinanthi Mohon Tunggu... foto

seseorang yang meluangkan waktu untuk menulis sekadar menuangkan hobi dengan harapan semoga bermanfaat.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Bapakku, Guruku, Kepala Sekolahku

24 Oktober 2020   12:30 Diperbarui: 24 Oktober 2020   12:40 73 16 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bapakku, Guruku, Kepala Sekolahku
ilustrasi: lovepik.com

Ini judul yang selalu kugunakan jika mengenang bapak. Mengapa? Karena bapak kepala sekolah di SD tempatku bersekolah. Awal saya bersekolah belum cukup umur belum genap enam tahun saat itu, karena ibu kewalahan memiliki tiga anak perempuan yang masih kecil-kecil, apalagi saya  si sulung  suka bermain-main ke tepi sungai. Hehe...

Maka, saya pun diajak bapak ke sekolah dimasukkan ke kelas satu sambil berpesan kepada guru kelas satu bahwa saya hanyalah "pupuk bawang", ikut bapak ke sekolah sambil momong, agar tidak merepotkan ibu. Oleh karena itu,biarlah untuk saat ini dititipkan saja, baru tahun depan didaftarkan masuk kelas satu.

Begitu kenaikan kelas, saya mendengar bapak memprotes guru kelas satu mengapa saya dinaikkan? Beliau menjawab bahwa saya bisa mengikuti pelajaran dengan nilai lumayan. Sebagai anak-anak, tanpa berpikir panjang, saya pun mengikuti teman-teman memasuki bangku kelas dua tanpa mau tahu  bahwa saya seharusnya mengulang kelas satu. Demi melihat ekspresi saya yang senang memasuki bangku kelas dua. bapak pun tidak berdaya melarang.

Di kelas dua itulah, ada satu dua teman yang jahil begitu mengetahui aku anak kepala sekolahnya. Mereka semakin suka menggoda. Godaan ala anak-anak, kadang menyembunyikan pensil, penggaris, buku, tapi selalu dikembalikan jika saya sudah mulai terlihat menangis. 

Suatu hari karena kesal, begitu melihat alat tulis saya disembunyikan seorang teman, saya pun lari memasuki ruang bapak sambil mengadukan ulah mereka. Di luar dugaan, saya malah kena marah. Hehe.

"Teman-temanmu itu mestinya juga ingin dikit-dikit mengadu kepada orangtuanya jika ada masalah dengan teman, tapi mereka tidak bisa karena orangtuanya bukan guru di sini. Tidak malukah Kamu kepada mereka? Bagaimana jika kelak Kalian pun bernasib sama dengan mereka? Kamu tidak selamanya bersekolah dasar kan?" Sejak saat itu, terlebih sebagai anak sulung, saya merasa memperoleh pelajaran berharga bahwa saya harus melatih diri untuk mandiri. 

Begitu saya mulai bekerja, bapak memberikan nasihat yang berkaitan dengan pemilihan calon pasangan hidup. "Kamu guru. Merekalah yang sering bertemu denganmu kelak. Jika suatu hari ada guru yang suka Kamu, terima saja." Dalam hatiku nih. Duh, kok tidak  bosan-bosannya dengan guru. Beliau guru, aku  diarahkan menjadi guru, kini pun berharap aku menikah dengan guru. 

"Gaji kalian kelak memang tidak besar. Tidak apa-apa. Saran bapak, jika kelak Kamu bersuami, lalu terlihat suamimu itu ada keinginan untuk maju, Kamu harus mengalah. Doronglah ia mengejar karier, sedangkan rezekimu gunakan untuk kebutuhan hidup kalian berdua. Atau sebaliknya, bergantung  bagaimana caramu mengatur keuangan agar tidak stagnan dua-duanya.. Namun, jika ia tidak ada greget untuk maju, Kamulah yang harus bertekat untuk maju."

Masih kisah seputar keputusan pemilihan pasangan hidup nih. Manakala ada satu dua pria beristeri yang menggoda-goda anak gadisnya, pada umumnya mereka kan sudah bisa pamer materi, minimal membawa mobil, tatkala saya masih naik turun angkutan umum. 

Akan tetapi, bapak berpesan (wanti-wanti, dalam bahasa Jawa) agar saya tidak terpikat oleh iming-iming harta maupun perhatian suami orang. Saya harus yakin dan berupaya agar kelak sanggup membeli apa yang mereka pamerkan.

Yakin suatu ketika akan bertemu seseorang yang bukan suami orang."Janganlah mengambil suami orang. Itu namanya tidak empatik, padahal empati merupakan ciri orang beriman. Demikian pula dengan lelaki tersebut yang seenaknya saja ingin menduakan isterinya, padahal sebaik-baik lelaki adalah yang bersikap baik kepada isterinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x