Mohon tunggu...
Nana Arlina
Nana Arlina Mohon Tunggu...

Punya nama pena Nana Arlina.\r\nSuka jalan-jalan, mengamati dan menulis di nana-arlina.blogspot.com dan www.ilmuterbang.com\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya

Tutup

Travel

Berbasah-basah di Songkran Festival - Chiang Mai, Thailand

17 April 2011   03:30 Diperbarui: 26 Juni 2015   06:43 1215 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berbasah-basah di Songkran Festival - Chiang Mai, Thailand
1303009559872632187

Backpacking travel bukanlah hal yang asing bagi kami para mahasiswa. Keinginan besar untuk melihat negara lain dengan dana seadanya alias pas-pasan menjadikan kami harus jeli mempelajari semua hal, mulai dari transportasi, akomodasi hingga makanan dan minuman. Tahun ini saya dan empat orang teman melakukan backpacking travel di tiga negara, Malaysia, Indonesia dan Thailand. Pada kesempatan ini saya akan berbagi cerita tentang perjalanan saya di Chiang Mai, Thailand untuk mengikuti Songkran Festival atau dikenal dengan Water Festival. Songkran merupakan tahun baru bagi masyarakat Thailand berdasarkan pada peredaran matahari. Festival ini dahulunya diadakan berdasarkan astrologi Thailand namun dalam perkembangannya dilaksanakan pada pertengahan April setiap tahunnya atau pada puncak musim panas di Thailand atau tanggal 13-15 April. Namun, biasanya tanggal 12 sudah dimulai dan dibeberapa tempat masih dirayakan hingga tanggal 16 April. Chiang Mai adalah salah satu kota yang dijadikan pusat dilaksanakannya Songkran Festival dimana pada tanggal 13 April diadakan arak-arakan (parade) dari kuil Wat Pra Singh dipusat kota Chiang Mai. [caption id="attachment_102851" align="aligncenter" width="498" caption="Suasana menuju kuil Doi Suthep"][/caption] Saya sampai di Chiang Mai pada tanggal 11 April dan keesokan harinya langsung mengunjungi kuil-kuil Budha. Ketertarikan saya untuk mengetahui lebih jauh tentang ritual selama Songkran Days menjadikan saya mengikuti dan merekam kegiatan teman saya, Amphun, di tiga kuil Budha. Kuil pertama yang kami kunjungi adalah kuil terbesar di Chiang Mai bernama Doi Suthep. Kuil ini terletak di puncak gunung dengan pemandangan kota Chiang Mai dan Mae Ping Valley River. Teriknya matahari tengah hari dan tangga menuju kuil tidak meredupkan semangat para pengunjung yang datang untuk bersembahyang atau sebagai pelancong seperti saya. [caption id="attachment_102848" align="alignright" width="240" caption="Tua muda melaksanakan ritual doa"]

130300888816162406
130300888816162406
[/caption] Setelah sampai didalam kuil, Amphun mengajak saya untuk mengambil bunga lotus, lilin dan hio disebuah stand disamping kiri gerbang kuil. Stand ini dijaga oleh seorang bikhuni dan seorang biksu muda. Terdapat kotak donasi disana. Amphun memasukkan beberapa lembar uang kedalam kotak itu sebelum mengambil dua set bunga, lilin dan hio. Saya mengamati satu set hio dan lilin. Terdapat dua batang lilin yang diikat bersama dengan tiga batang hio.Kemudian kami menitipkan sendal di rak-rak yang sudah disediakan sebelum beranjak memasuki pelataran kuil. [caption id="attachment_102836" align="alignleft" width="240" caption="Anak-anak yang menari untuk donasi"][/caption] Suasana sungguh ramai, apalagi didepan kuil terlihat anak-anak yang berdandan dengan busana tradisional. Mereka menari dan memainkan alat musik. Didepan mereka terdapat kotak donasi yang ditulisi bahasa Thai dan Inggris. Donasi ini bertujuan untuk pembangunan sekolah mereka. [caption id="attachment_102855" align="alignright" width="198" caption="Berdoa mengelilingi pagoda sebanyak tiga kali"]
13030107321372869774
13030107321372869774
[/caption] Amphun mengajak saya kebagian belakang kuil dimana terlihat sebuah pagoda berlapis emas yang tegak menjulang. Luar biasa ramainya disana. Terlihat orang-orang berjalan mengelilingi stupa sambil merapatkan tangan didepan dada. Disebelah kanan banyak orang-orang yang menundukkan kepala, merapal doa, membakar hio dan menancapkan lilin. Mereka berdoa bukan saja bagi diri mereka dan keluarganya, namun juga bagi karib kerabat yang sudah meninggal. [caption id="attachment_102849" align="alignleft" width="180" caption="Biksu memberikan doanya "]
13030092011673749168
13030092011673749168
[/caption] Sementara itu disudut lainnya, orang-orang berdiri menyiramkan minyak ke pelita yang terletak berjejer. Disana juga ada sebuah ruangan dimana para pengunjung berdoa dan menguncang-guncangkan tabung yang berisikan tongkat-tongkat kecil semacam sumpit. Begitu satu tongkat terjatuh, maka nomornya akan dilihat untuk kemudian dicocokkan dengan ramalan yang tertulis dikertas. Aktifitas sembahyang ini juga ditambah dengan bersiliwerannya orang-orang yang mengabadikan momen dengan kamera mereka. Tempat yang paling populer untuk berfoto adalah didepan pagoda. Kuil itu memiliki gedung-gedung dimana para biksu didalamnya memberikan doanya. [caption id="attachment_102854" align="alignright" width="180" caption="Kuil Wat Pra Singh"]
13030100061722549445
13030100061722549445
[/caption] Yang luar biasanya adalah patung-patung Budha dalam berbagai ukuran yang ada dimana-mana. Patung-patung ini terbuat dari beragam material, namun tentu saja emas mendominasi dimana-mana sehingga kilaunya terlihat jelas apalagi dibawah terik matahari. Saya  mencoba mengabadikan beragam kegiatan ini dengan kamera saya termasuk disaat Amphun menjalankan ibadahnya. Kegiatan yang sama juga berlangsung di kedua kuil yang kami kunjungi kemudian, yaitu Wat Oo-Mong dan Wat Pra Singh. Hari kedua Songkran Days adalah hari dimana parade patung Budha diadakan. Masyarakat terlihat turun dijalan-jalan. Gentong dan drum berisi air terlihat dipinggir jalan. Senjata-senjata air dengan beragam bentuk dan ukuran sudah siap hampir disebagian besar orang yang turun ke jalan. Sedangkan senjata yang paling sederhana adalah ember dengan beragam ukuran. [caption id="attachment_102842" align="aligncenter" width="531" caption="Bersiap-siap dengan beragam senjata"]
13030076551390409750
13030076551390409750
[/caption] Songkran festival berlatar belakang cerita bagaimana seorang pemuda mengalahkan salah seorang dewa sehingga sang dewa harus memotong kepalanya sendiri. Kepala dewa ini kemudian dibawa oleh salah seorang dari tujuh anak perempuannya pada Songkran day. Pada hari itu dilakukan pesta makan dan minum. Kepala sang dewa akan dibawa kembali ke salah satu gua di surga dan akan dikeluarkan kembali pada tahun berikutnya pada saat Sonngkran Day. Walking street di sepanjang kanal ditengah kota Chiang Mai adalah lokasi tempat pusat kegiatan Songkran Festival diadakan. Anak-anak, muda-mudi, orang tua terlihat bercampur baur. Yang menambah seru adalah para turis juga terlibat langsung dan siap dengan senjata mereka. Beberapa panggung terlihat sudah didirikan dari hari sebelumnya, musik dimainkan. Yang menambah menarik adalah sebagian besar dari peserta memakai pakaian tradisional Thailand atau minimal menggunakan baju dengan motif bunga-bunga dan berwarna cerah. Mobil-mobil bak terbuka terlihat bersileweran dimana-mana. Dibelakangnya diletakkan satu atau dua wadah berisi air dan beberapa orang siap untuk menyerang siapa saja yang dilewati mobil. [caption id="attachment_102843" align="aligncenter" width="531" caption="Perang air dari atas mobil"]
13030078481626363692
13030078481626363692
[/caption] Beberapa orang terlihat membungkus diri dengan plastik menghindari agar tidak basah kuyup. Namun yang pasti menyiapkan kantong plastik sebagai wadah menyimpan dompet dan handphone adalah suatu keharusan. Kantong dari plastik ini bisa digantungkan dileher dan dengan 20-50 bath bisa didapat dimana saja. Sementara itu senjata-senjata air bisa dibeli dari harga 50 bath hingga 400 bath. Senjata ini didesain dengan beragam bentuk dan ukuran, bahkan ada yang berupa tokoh kartun seperti Doraemon yang bisa disandang dibelakang punggung. [caption id="attachment_102844" align="aligncenter" width="531" caption="Harus selalu siaga "]
13030080821547269496
13030080821547269496
[/caption] Sungguh suasana yang seru dan meriah karena semua larut dalam perang air ini. Tidak ada rasa marah ataupun kesal akibat tersiram air karena siraman juga diartikan sebagai doa dan untuk meluruhkan karma sehingga bisa memulai tahun berikutnya dengan lebih baik. Hari ketiga saya lewati disalah satu desa di subdistrik San Sai. Didesa ini ada tradisi yang menarik dimana warga bersama-sama akan mengambil pasir di Mae Ping River Valley untuk dibawa ke kuil Budha. Saya bersama Amphun dan saudara sepupunya mengikuti kegiatan ini. Dengan berpakaian ala orang Thailand, saya ikut berjalan sejauh 3 kilometer untuk mengambil pasir. Sepanjang jalan tak henti-hentinya badan ini diguyur air. Menurut sepupu Amphun, membawa pasir ini berawal dari pemikiran biksu yang mengatakan untuk membangun kuil kita jangan meminta dari orang lain, namun gunakan segala sumber daya yang ada. Sehingga masyarakat kemudian bergotong royong membawa pasir yang dikumpulkan dikuil untuk bisa digunakan bagi pembangunan. Tradisi ini tetap berlangsung hingga kini dan sebagai salah seorang penduduk desa itu, mereka boleh meminjam pasir yang sudah dikumpulkan jika mereka membutuhkan dengan syarat mereka harus mengembalikannya lagi sebelum Songkran Day tahun berikutnya. [caption id="attachment_102845" align="aligncenter" width="531" caption="Gembira ditengah perayaan Songkran Festival"]
13030085051130273046
13030085051130273046
[/caption] Tiga hari mengikuti ritual dan tradisi Songkran Festival di Thailand memberikan kesan tersendiri bagi saya. Yang pasti tentu saja mengalami dan mengikuti sendiri bagaimana festival ini diadakan membuat saya lebih mengerti apa dan bagaimana festival ini. Kentalnya suasana persaudaraan walaupun tidak saling kenal, rasa keikhlasan dan terima kasih, saling mendoakan dan tentu saja kegembiraan menyambut tahun baru. Ya, Songkran Festival sudah berakhir dan masyarakat Thailand siap menyonsong tahun baru dengan semangat baru. Foto: Dokumentasi pribadi

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x