Mohon tunggu...
Nalurita Budiarti
Nalurita Budiarti Mohon Tunggu... Jika ada tulisan yang tidak sesuai, itu tugas kuliah

God is myself

Selanjutnya

Tutup

Diary

Hidup sebagai Unbeliever di Indonesia

26 Januari 2021   23:10 Diperbarui: 26 Januari 2021   23:19 151 0 0 Mohon Tunggu...

Buatku tidak gampang, karena sudah menjadi stereotipe bagi orang Indonesia harus relijius! Menghubungkan semuanya dengan nilai-nilai agama. Seolah agama itu menjadi pondasi dasar atas segalanya. Agama sumber moral dan itu berbanding lurus, mutlak dan tak dapat digantikan. Pasti kalian bertanya-tanya, memang bukan kebenaran yang mutlak maksud anda gimana ya? Mungkin sebagai melihat saya seperti orang gila atau aneh.

Masalahnya kebenaran mutlak itu tidak ada, seolah-olah Anda melihat dunia ini dari sisi hitam-putih, tidak ada warna lainnya!. Kebenaran itu berdasarkan sudut pandang, ada mayoritas, minoritas, kelompok, dan pribadi. Jika anda memikirkan bahwa anda yang paling benar bukan tentu sama dengan kelompok lainnya, mungkin anda ngeyel karena kelompok anda jauh lebih besar daripada kelompok lain, sehingga membenarkan dan memaksakan nilai itu! That nice.

Unbeliever ini mencakup Deis, Agnoistik, Pantheis, dan Atheis.
Deisme adalah kepercayaan filosofis yang menyatakan bahwa Tuhan ada sebagai suatu Sebab Pertama yang tidak bersebab, yang bertanggung jawab atas penciptaan alam semesta, tetapi kemudian tidak ikut campur dengan dunia yang diciptakan-Nya.
Agnostisisme adalah suatu pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan atau hal-hal supranatural adalah suatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Agnostisisme dibagi menjadi 2 yaitu Agnoistik theis dan agnoistik atheis

Panteisme adalah suatu posisi yang menganggap Universe/Alam Semesta identik dengan keTuhanan. Dengan kata lain, Tuhan adalah alam semesta itu sendiri

Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan. Atheisme dibagi menjadi 2 yaitu atheis agnoistik dan atheis gnoistik.

Banyak yang memperdebatkan hal ini dengan pancasila terlebih sila pertama yg berbunyi, "Ketuhanan yang maha esa". Is oke jika ditelusuri panteis, Deis, agnoistik masih dapat tempat kecuali atheis, seharusnya, pahami dahulu bagaimana perumusan pancasila ini. Sejarah awalnya bagaimana, dan konteks ketuhanan yg dimaksud itu apa. Lalu arti ESA dalam kalimat tersebut itu maksudnya apa.

Singkatnya, esa dalam pancasila sila pertama bukan lah merujuk pada definisi bilangan yang berarti 1. Melainkan Esa adalah sifat tuhan dengan segala Maha nya. Esa berasal dari bahasa sansekerta yaitu estad atau isa yang berarti mutlak dan maha kuasa yg menunjukkan sifat bukan jumlah / bilangan, nah kalau jumlah itu ika atau eka seperti pada bhinneka tunggal ika yang artinya satu atau tunggal. Definisi Esa sebagai bilangan 1 ini adalah kbbi terbitan pemerintahan Orde Baru.

Padahal, definisi kata Esa dalam pancasila mengambil dari bahasa sansekerta bukan dari kbbi. Jika yang dimaksud tuhan dengan bilangan maksudnya 1 tuhan, maka seharusnya yang dipakai adalah Eka bukannya Esa. Tapi kali ini aku akan membahas agnoistik dulu karena aku agnoistik.

Menjadi seorang Agnoistik Atheis, membuat kamu lebih mengkerut jika ada klaim tentang semua agama mengajarkan kebaikan dan agama gak ada yang salah, dan nyatanya jika ditelusuri lebih lanjut memang ada kesalahan didalam agama itu. Biasanya agnoistik atheis susah untuk membaur kedalam masyarakat agamis seperti banyaknya daerah di Indonesia.

Sedangkan agnoistik theis, tak punya agama, engganggap perdamaian lebih pernting dan menghindari konfrontasi, karena ditakutkan jika terjadi perpecahan itu akan berakibat buruk. Biasanya orang agnoistik theis lebih sosialis kepada lingkungan theis

Menjadi agnoistik Atheis membuatku susah mendapatkan circle teman yang sesuai karena aku tinggal di kota di pulau Sumatera yang notabene kurang semultikultural jawa. 

Dan untuk mendapatkan pasangan kurang bervariasi karena sedikit dari mereka yang berani speak up dan aku ingin pasangan yang sejenis untuk mengertiku. Menjadi kelompok unbeliever juga memiliki cap yang buruk dikalangan masyarakat Indonesia karena sebagian besar dari mereka theis, seperti bisa melakukan apapun yang kita mau, tidak bermoral, langsung masuk neraka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN