Edukasi

"Having Fun" dengan Guru BK

3 Oktober 2018   23:27 Diperbarui: 3 Oktober 2018   23:42 236 0 0

Banyaknya perbedaan persepsi murid terhadap guru bimbingan konseling yang mana kebanyakan dari peserta didik hanya mengenal guru bimbingan konseling di sekolah adalah orang yang hanya mengkritik dirinya sebagai orang yang bermasalah, terlebih dalam pergaulan peserta didiknya, misalnya di dalam pengalaman sang penulis, guru bimbingan konseling di ruang lingkup sekolah hanya mendapati peserta didiknya di dalam masalah-masalah pergaulan di sekolah, misalnya dalam hal berpaikaian yang kurang menta'ati peraturan sekolah. 

Bisa dikatakan guru bimbingan konseling disini sebagai guru pemegang poin atau juga bisa dikatakan guru penentu punishment.

Padahal jika kita lebih mengetahui lagi tentang tugas guru bimbingan konseling yang sebenarnya, maka persepsi yang awalnya salah atau kurang tepat ini bisa di jadikan hanya delusi semata.

Disini penulis akan mengupas lebih mendalam lagi arti tugas yang di emban oleh guru bimbingan konseling, menurut penulis arti kata guru bimbingan konseling disini tidak hanya menjadi guru pemegang poin atau juga bisa di katakan guru penentu punishment, bahkan lebih dari itu. 

Selain memberikan punishment terhadap peserta didik yang bermasalah pastinya seorang guru bimbingan konseling memberikan arahan atau bimbingan, karena sejatinya guru bimbingan konseling itu adalah konselor yang berarti sebagai orang yang melayani konseling atau penasihat dan penyuluh, tentunya dengan tujuan agar sang konseli mendapatkan arahan terhadap permasalahannya. Begitu juga dengan peserta didik, agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Mungkin bisa juga memberikan keringanan terlebih dahulu kepada peserta didiknya. Misal ada larangan untuk tidak merokok di dalam lingkungan sekolah, langkah awal yang guru bimbingan konseling lakukan adalah memperingatinya dengan tutur kata yang halus begitupun jika murid melanggar untuknya kedua kalinya, akan tetapi di berikan sanksi yang ringan untuk memberikan efek jera terhadap peserta didik kemudian jika mengulanginya untuk yang ketiga kalinya, nah,,,barulah guru memberikan punishmet yang sesuai untuk tindakannya. Ini contoh tugas dari guru bimbingan konseling untuk ranah sekolah.

Selain itu, seorang guru bimbingan konseling atau sang konselor dapat membimbing sang konseli dengan memilih teknik yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan konselig. Contohnya dengan cara mengembangkan instrumen nontes seperti wawancara, angket atau format yang lain, tujuan di adakannya teknik ini adalah agar konselor dapat mendiskripsikan penilaian yang digunakan dalam pelayanan bimbingan konseling tentunya dengan kebutuhan konseli. Misal,jika konselor dapat memecahkan atau mengatasi masalah konseli hanya dalam tiga kali tatap muka dan konseli merasa masalahnya sudah selesai maka peran konselor sudah cukup disitu saja.

Jadi, disini ranah guru bimbingan konseling atau konselor tida hanya memiliki ruang lingkup di dalam sekolah saja, akantetapi di luar lingkup sekolahpun juga ada bahkan banyak yang memerlukannya untuk hal memecahkan masalah yang ada dan bahkan memiliki teknik penilaian tersendiri yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan bimbingan konseling atau sang konseli.