Mohon tunggu...
Amerta Raya
Amerta Raya Mohon Tunggu... Petani - Petani

Amerta Raya adalah sebutan dari tempat singgah ku, gubuk bambu kecil nan sangat sederhana, aku mencintai gubuk dan lingkungan ku. Memang aku singgah ditengah hutan, tapi didepan gubuk ku mengalir air terjun kecil, aku selalu bahagia dan selalu merasa cinta akan semua ini, selain menjadi sumber inspirasi diri ku sendiri, ini wujud syukur ku atas banyaknya karunia Alloh yang tak bisa ku hitung. Kata kawan-kawan yang berkunjung kemari, ini menjadi satu media #healing, ya dan suka duka singgah ditengah rimba semua kubalut dengan selimut cinta. Barokalloh

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Menyelami Dalamnya Diri Sendiri

6 Agustus 2023   20:13 Diperbarui: 6 Agustus 2023   20:17 223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Take foto ba'da ashar dari jalan setapak tengah sawah (dokpri)

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, selamat sore, shalom, om swastyastu, salam sejahtera bagi kita semua, namo buddhaya, wei de dong tian, salam kebajikan, rahayu rahayu rahayu.

Masih mendung tak kunjung hujan, sore ini minggu 6 Agustus 2023 pukul 16:58 WIB. 

Aku baru saja pulang dari makam, menghadiri undangan tahlil, nglintiri Bapak ku yang belum pulang nyambut gawe. 

Tadi sudah sempat panas sedari ashar sampai dengan tahlil selesai, terus ini mendung lagi. 

Undangan tahlil suwo Slamet Si'ir, nengeri tahun alias haul almarhum istrinya. 

Lupa menyalakan radio dulu, untuk menjadi musik pengiring sore ini. 

Kalau cuma gemprengsong suara emak-emak ngobrol kan kurang asyik didengar, jadi ku selipin lirih-lirih suara radio. 

Biar dunia ku terkesan merdu nan syahdu, jadi semua yang ku lihat dan ku dengar saling mengiringi. 

Lagunya malah Yogyakarta Kla Project "pulang ke kota mu", rindunya sama Pekalongan malah lagunya rindu Jogja, tapi yo rindu Jogja juga sih. 

Mendungnya semakin pekat, semoga saja nanti malam hujan ya Alloh, kasihan banyak pepohonan kurang air. 

Pun petani banyak yang sambat karena mulai sulit air. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun