Mohon tunggu...
FOREST SPACE
FOREST SPACE Mohon Tunggu... Writer |Forester |Ig.nagadragn |Fb.Dra gon |LinkedIn.Fitriyani sinaga

Ruang Hutani, Sosial Budaya, Pendidikan dan Literasi lingkungan Hidup

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Karang Mumus, Primadona yang Merana

12 September 2019   00:06 Diperbarui: 12 September 2019   00:35 0 0 0 Mohon Tunggu...
Karang Mumus, Primadona yang Merana
copyright Nagadragn

Samarinda sekurangnya mempunyai 26 anak sungai yang bermuara di sungai Mahakam. Anak sungai itu adalah Karang Mumus, Palaran, Loa Bakung, Loa Bahu, Bayur, Betepung, Muang,Pampang, Kerbau,Sambutan, Lais, Tas, Anggana, Loa Janan, Handil, Loa Hui, Rapak Dalam, Mangkupalas, Bukuan, Ginggang, Pulung, Payau, Balik Buaya, Banyiur, Sakatiga dan Bantuas.

Sungai Karang Mumus adalah yang paling terkenal karena sungai yang bermuara di Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara ini, mengalir melalui hampir sebagian besar wilayah Kota Samarinda.

Dengan panjang kurang lebih 40 km, di tepian sungainya dahulu bertumbuh kampung perdana di Kota Samarinda. Sungai ini juga menjadi alur transportasi untuk mengangkut berbagai komoditas.

Beberapa pusat perekonomian (Pasar) berada tak jauh dari tepiannya. Salah satu yang terbesar adalah Pasar Segiri.

'Urang Samarinda Bahari' sadar betul bahwa Sungai Karang Mumus adalah Arah Hadap Hidup, air kehidupan atau danum kaharingan.

Bukan hanya karena airnya yang jernih, yang menjadi sumber pemenuhan kebutuhan air sehari hari, melainkan juga karena dalam alirannya banyak hidup aneka ikan yang merupakan sumber protein serta penghasilan bagi para nelayan.

Semenjak jaman Kemerdekaan Republik Indonesia, terjadi perubahan kiblat kehidupan di Kalimantan Timur dari sungai ke jalan raya. 

Jalan raya mulai dibangun, beberapa diantaranya mengambil ruang sungai atau sejajar dengan sungai.

Jika sebelumnya area yang strategis adalah pinggir sungai, kemudian berubah dimana pinggir jalanlah yang menjadi area premium.

Rumah kemudian menghadap jalan raya dan membelakangi sungai. Wilayah pinggir sungai kemudian menjadi wilayah abu-abu, hingga kemudian tumbuh menjadi kantong kantong permukiman kumuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x