Mohon tunggu...
Naftalia Kusumawardhani
Naftalia Kusumawardhani Mohon Tunggu... Psikolog Klinis (Remaja & Dewasa)

Psikolog Klinis (Penanganan Neurosa untuk Remaja & Dewasa) di RS Mitra Keluarga Waru, Sidoarjo. Senang menulis topik psikologi dan berencana menulis buku kedua, ketiga, dst.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Kapan Perlu ke Psikolog?

12 Juni 2019   15:40 Diperbarui: 13 Juni 2019   00:30 0 14 5 Mohon Tunggu...
Kapan Perlu ke Psikolog?
gambar oleh Serena Wong dari Pixabay

Kalau sudah ada masalah, barulah perlu konseling ke psikolog. Benarkah? 

Sebenarnya dunia psikologi klinis tidak hanya sebatas "memperbaiki" masalah saja, tapi juga mencegah supaya masalah tidak terjadi. Apa bisa? Ya, bisa untuk topik tertentu.

Mungkin Anda bertanya-tanya, topik apa yang bisa dicegah? Topik-topik yang berkaitan dengan kesehatan mental, tentunya berdasarkan teori, hasil penelitian dan temuan kasus di lapangan. Bekal keilmuan dari para sejawat psikolog klinis ini perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh masyarakat. 

Fungsi Pertama: Promotif 
Psikolog dibekali pengetahuan tentang model-model hidup mental yang sehat, misalnya bagaimana memiliki paradigma/cara berpikir yang tepat dan kondusif agar terhindar dari permasalahan.

Bagaimanakah kriteria kepribadian sehat itu? Apa saja indikatornya dan bagaimana cara mencapainya? Kesehatan mental itu mencakup apa saja? Mengapa penting dan apa yang terjadi kalau tidak sehat mental? Bagaimana orang tahu kalau dirinya sedang tidak sehat mental? Apa benar orang bisa tiba-tiba gila? Dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum tentu mengindikasikan penanya adalah orang bermasalah, tapi bisa jadi dia sedang berproses untuk menjadi pribadi matang baik secara psikis, sosial dan spiritual. 

Masyarakat dapat mengoptimalkan fungsi promotif ini melalui pendidikan informal berupa seminar, pelatihan, workshop, ataupun kelas-kelas singkat. Materi yang diberikan bertujuan untuk "mempopulerkan" model perilaku sehat mental agar masyarakat menyadari dan lakukan sesuatu. Biasanya memang materi diajarkan dalam bentuk klasikal (dengan banyak orang) dan diakhiri dengan sesi konseling per individu. 

Pada dasarnya, materi tentang kesehatan mental tidak hanya milik Fakultas Psikologi saja, tetapi semua jurusan memerlukan materi ini. Apa gunanya punya lulusan teknik yang mumpuni tetapi tidak sehat mental karena mereka tidak menyadari model perilaku sehat mental itu? 

Oleh karena itu... Bagi para pembaca yang memiliki komunitas, kelompok informal, ataupun mengelola suatu grup, ada bagusnya secara reguler mengundang para psikolog dengan topik-topik tertentu dalam pertemuan kelompok Anda.

Misalnya pertemuan PKK, arisan, grup penggemar mobil, paguyuban orangtua, kelompok lansia, dan sebagainya. Materi-materi kesadaran kesehatan mental ini maksimal hanya 3 jam.

Selanjutnya tiap individu akan berproses sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Meskipun tampaknya hanya 3 jam, tapi manfaat yang diperoleh banyak juga lho...

Eh jangan tanya soal tarif narasumbernya yaa.. Jangan pula minta gratis ke narsum. Inget ya, para pembaca yang baik hati dan kaya raya, para rekan sejawat saya itu punya kompetensi untuk bicara tentang kesehatan mental. Setidaknya hargailah kompetensi dan efek dari hasil berbagi materinya itu.  

Fungsi Kedua: Preventif
Sesuai namanya, fungsi kedua ini bersifat mencegah. Apa yang perlu dicegah? Ya dampak dari sesuatu. Topik yang berkaitan dengan pencegahan ini banyak juga lho.

Misalnya, bagaimana cara mendidik anak agar anak bisa bertanggungjawab, mandiri dan peduli pada orang lain? Bagaimana memperoleh keyakinan diri dalam menghadapi dunia kerja? Bagaimana caranya agar anak tidak kecanduan gadget? Usia yang tepat kapan untuk membolehkan anak bermain game di HP tanpa bikin kecanduan? Bagaimana bisa hidup harmonis dengan calon mertua karena setelah menikah akan tinggal bersama? Dan sebagainya. 

Banyak orang menganggap ringan topik-topik tersebut. "Halah.. itu gampang, nanti kalau ada masalah ya diatasi.." Padahal sudah jelas ada potential problems (potensi masalah) di sana.

Kenapa menunggu ada masalah? Bukannya jauh lebih mendingan dieliminasi potensial masalahnya? Atau orang berpikir bahwa dia sudah biasa hidup dengan topik-topik itu, jadi untuk apa dibahas? Nanti kalau sudah tidak kuat menjalani, baru cari psikolog. Lha ya udah telat kalau gitu.. hehe.. 

Saya pernah bertemu klien, sepasang suami istri usia muda, baru memiliki 1 anak balita. Mereka ingin bertanya tentang artikel parenting yang mereka baca. Dari artikel-artikel itu, ada beberapa tips yang bertentangan dan ada yang tampaknya sulit untuk dilakukan.

Saya salut dengan mereka berdua. Upayanya untuk menjadi orangtua sangat bagus. Mereka mencari, belajar dan bertanya. Sesi konseling mirip diskusi kelompok saat kuliah dulu.. hehe.. Pasangan suami istri tersebut aktif pula merancang pola parenting yang mereka inginkan dalam sesi pertemuan kami itu.

Apakah hal itu menjamin bahwa selamanya mereka tidak akan pernah punya masalah dalam mengasuh anaknya? Ya tentu tidaklah. Masalah tetap ada, hanya saja mungkin lebih minimal dibandingkan bila mereka tidak pernah belajar menjadi orangtua. 

Klien lainnya seorang pemuda yang tidak pernah bekerja. Baru lulus kuliah. Ingin masuk ke dunia kerja tapi was-was. Selama ini memang kehidupan sangat baik padanya. Dia tidak pernah mengalami pasang surut gelombang masalah. Keluarganya memberikan semua fasilitas terbaik. Bukannya yakin, tapi dia malah gamang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2