Mohon tunggu...
Naftalia Kusumawardhani
Naftalia Kusumawardhani Mohon Tunggu... Psikolog - Psikolog Klinis (Remaja dan Dewasa)

Psikolog Klinis (Penanganan Neurosa untuk Remaja dan Dewasa) di RS Mitra Keluarga Waru, Sidoarjo. Senang menulis topik psikologi dan berencana menulis buku kedua, ketiga, dst.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Phobia

25 Oktober 2015   10:57 Diperbarui: 25 Oktober 2015   17:39 564 17 6
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
http://katherinepaxtoncounselling.com/wp-content/uploads/2012/08/Phobias.jpg

 

Keringat dingin mengalir. Wajahnya perlahan memucat. Godaan teman-temannya membuatnya bergeming. Matanya terpaku. Sejenak tampak kalau dia tidak mampu menangkap situasi yang terjadi. Dinginnya AC tidak mampu menghentikan buliran keringatnya. Posisinya makin kaku ketika mendengar kata-kata 'kucing' dari teman-temannya. Melihat gejala semacam itu, spontan saya hentikan kegiatan perkuliahan.

Saat itu kami sedang membahas suatu topik. Kebetulan salah satu kelompok membuat gambar -lumayan besar- kucing. Entah darimana mulainya, gambar kucing itu ditanggapi dengan teriakan ketakutan oleh seorang mahasiswi. Bukannya berhenti, teman-temannya makin gencar menggoda. Gambar kucing itu disodor-sodorkan. Makin kencanglah teriakan ketakutan mahasiswi tadi, dan makin riuhlah suara tawa teman-temannya. Namun lama kelamaan saya melihat teriakan ketakutan itu bukan dibuat-buat.

Gejala ketakutan yang khas. Ketakutan yang disertai dengan perubahan fisiologis. Berkeringat dingin, tidak mampu bergerak, wajah pucat, bibir kering, kesadaran seolah-olah 'berpindah ke masa lalu', dan detak jantung lebih cepat. Hampir bisa dipastikan mahasiswi tersebut mengalami phobia.

Seketika kelas menjadi sunyi sewaktu saya sadarkan mereka kalau temannya mengalami fase 'membeku' karena phobia. Tiba-tiba mereka menyadari kalau memang reaksi temannya berbeda. Dengan cepat, saya minta bantuan mahasiswa lain untuk membantu mahasiswi tersebut (sebut saja Melati) agar dapat duduk lebih santai. Ada yang berinisiatif mengambilkan air minum. Beberapa langsung menyingkirkan gambar kucingnya.

Terapi psikologi pun saya lakukan saat itu. Selang sekitar 15 menit kemudian, kondisi Melati sudah pulih lagi. Wajahnya tidak pucat. Bisa tersenyum. Teman-temannya langsung minta maaf karena merasa bersalah. Melati tersenyum dan meyakinkan bahwa dia baik-baik saja. Setelah itu Melati bercerita mengapa dia mengalami ketakutan luar biasa terhadap kucing.

Berbekal kisahnya, terapi saya lanjutkan lagi. Paling tidak persoalan itu bisa tuntas sedikit hari itu. Hasil akhir terapi seperti yang diinginkan oleh Melati, yaitu bisa melihat gambar kucing dari jauh (kami gunakan gambar kucing yang sama) dan tidak lagi takut mendengar kata 'kucing'. Ya, otomatis perkuliahan berhenti..hehe..

---

Phobia bukan hal baru. Berasal dari bahasa Yunani (phobos) yang berarti takut. Takut dan cemas terhadap sesuatu itu normal dan wajar, tetapi gangguan ketakutan yang luar biasa atau berlebihan itu tidak wajar. Phobia adalah ketakutan yang berlebihan pada sesuatu tanpa ada penyebab objektif pada saat ketakutan itu muncul. Reaksi ketakutan yang muncul tidak sebanding dengan objek yang ditakutkan. Bahkan dalam beberapa kasus, ketakutan tersebut bisa muncul tanpa adanya penyebab nyata.

Kembali pada contoh Melati. Ketakutannya muncul ketika dia mendengar kata 'kucing' dan melihat gambar kucing, padahal secara objektif keduanya (kata dan gambar) tidak berpotensi menimbulkan bahaya. Namun pikiran dan perasaan Melati seolah-olah terjebak pada keduanya dan tidak mampu mengatasi.

Penyebab phobia bervariasi, namun esensinya sama yaitu kecemasan terhadap sesuatu dan tidak berdaya untuk melakukan tindakan apapun. Biasanya pada saat itu, orang yang bersangkutan berada dalam kondisi tidak siap baik fisik maupun psikis. Ketakutan Melati terhadap kucing berawal dari peristiwa masa kecilnya. Saat berusia kurang lebih 3 tahun. Seperti biasanya Melati bermain sendirian di teras rumahnya. Menjelang pk. 15.00, Melati ngantuk. Saat hendak tertidur di teras itu, tiba-tiba ada seekor kucing mengeong dan melompat tepat persis ke tubuhnya. Cakaran kuku kucing itu sempat membekas di tangannya. Mendapat serangan mendadak seperti itu, Melati kaget. Menangislah dia. Sejak itu dia takut bertemu kucing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan