Mohon tunggu...
Nadia JihanFadila
Nadia JihanFadila Mohon Tunggu... Mahasiswa - sebagai media belajar

Penulis masih dalam tahap belajar, maka artikel yang ditulis akan menjadi bagian dari proses belajar penulis

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kehidupan Baru Seni dan Budaya

25 Oktober 2021   18:00 Diperbarui: 25 Oktober 2021   18:06 70 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Kata “Seni” dan “Budaya” bukan merupakan kata yang asing bagi masyarakat, keduanya bisa hadir menjadi sebuah kesenangan (hobi), gaya hidup, hiburan, bahkan profesi. Seni dan budaya ialah bidang kehidupan yang telah melekat dengan manusia sejak sekian lama hingga saat ini. 

Eksistensinya selalu berkembang bersama jaman dan iklim global di dunia. Tahun-tahun ini, ketika mulai menyebarnya  Pandemi Covid-19 di dunia, eksistensi seni dan budaya di dunia ikut terguncang. Hal tersebut dinilai dari banyak ditutupnya galeri, museum, hingga tak adanya penyelenggaan pameran, pentas ataupun konser. Untuk beberapa saat ketika pandemi ini baru muncul, aktivitas seni seakan hilang dari muka bumi.

Aktivis dan pihak-pihak yang terlibat dalam bidang seni dan budaya tentu tak akan membiarkan eksistensi seni redup dalam waktu yang lama. “Art will go on. It always has. All we know is that everything is different; we don’t know how, only that it is. The unimaginable is now reality” seperti kutipan dari Jerry Salt, seorang art critic dan kolumnis dalam wawancaranya bersama majalah New York, seni dan budaya selalu menemukan celah baru bagi eksistensinya dalam waktu yang singkat. 

Melalui dunia virtual eksistensi seni dan budaya berhasil muncul kembali. Pada era majunya teknologi ini memang media digital bukan hal yang sangat baru bagi masyarakat, namun cara kerja virtual bagi seni dan budaya ini cukup terasa asing. Seperti berproses untuk terlahir kembali, banyak hal yang mesti melalui sebuah pembaruan.

Aktivitas virtual ini kemudian menjadi fenomena yang membawa kehidupan baru bagi bidang seni dan budaya. Semua kegiatan seni dan budaya di dunia berpindah ke dalam dunia virtual. Mulai dari pameran, pentas, dan konser diadakan secara virtual tanpa satupun penonton atau penikmat seni yang hadir secara langsung untuk beberapa saat.

Salah satu nya adalah kegiatan Gelar Karya (FKI) Festival Kesenian Indonesia ke-XI yang berlangsung pada tanggal 20 hingga 25 November ini diselenggarakan secara virtual penuh, melalui live streaming di media platform youtube.  Pelaksanaan FKI ini melibatkan mahasiswa dan civitas akademik perguruan tinggi seni di beberapa wilayah besar Indonesia, di antaranya Aceh, DKI Jakarta, Padang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, bahka Papua dan di ISBI Bandung sendiri.  Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat ikatan persaudaraan melalui praktik kolaborasi perguruan tinggi seni se-Indonesia di bawah naungan Badan Koordinasi Perguruan Tinggi Seni (BKPTS).

Menyesuaikan dengan kondisi pandemi, pelaksanaan KFI ke-XI ini terlahir kembali dengan sistem yang baru. Pelaksanaanya berlangsung secara lebih tertutup, dan tidak dihadiri oleh penonton atau tamu udangan sebanyak saat pelaksanaan FKI ke-X pada 2018 lalu.

Berbeda dengan penyelenggaraan pentas dan festival, ketika telah memasuki fase new normal ini museum dan galeri mulai mendapatkan izin untuk dibuka kembali dan dapat dihadiri secara langsung oleh masyarakat dengan menerapkan protokol kesehatan. Salah satu pameran seni yang diselenggarakan baru-baru ini yaitu Pameran berjudul “LEGACY” yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain ISBI Bandung pada tanggal (17/10) hingga (22/10).

 

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Pameran ini juga merupakan kegiatan yang diselenggarakan setiap tahun dengan judul dan tajuk yang berbeda. Meskipun dapat dihadiri masyarakat seperti penyelenggaran pameran pada umumnya, pameran tahun ini juga melalui proses kelahiran kembali dengan tajuk “Heritage of native Jabar Exhibition” dimana tahun ini perlu melalui  persiapan dan sistem yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya “Pameran tahun ini sebetulnya agak kurang berhasil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat adanya pandemi dan komunikasi agak terhambat, akhirnya proses asistensi tidak maksimal” tutur Nandang, sang kurator pameran.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan