Mohon tunggu...
Nadia
Nadia Mohon Tunggu... Mahasiswa Teknik Informatika

Seseorang yang telah cukup lama melewati usia 20 Tahun dan segera berumur 21 Tahun. Berharap segera dapat menyelesaikan Pendidikan Strata 1 dengan nilai yang lumayan memuaskan.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

BPJS.. Wajibkah?

9 September 2019   08:58 Diperbarui: 9 September 2019   09:18 0 1 2 Mohon Tunggu...

BPJS kesehatan atau badan penyelenggara jaminan sosial kesehatan menjadi hal yang cukup diperbincangkan akhir-akhir ini. Apalagi dengan adanya rencana pemerintah yang akan menaikkan iuran BPJS karena seringnya mengalami defisit, yang tentu banyak ditentang oleh masyarakat.

Bicara soal BPJS, saya dan keluarga merupakan salah satu dari banyak orang yang tidak memiliki kartu BPJS, yah alasannya sebenarnya lebih kepada kesulitan pengurusan dokumen, lalu lamanya waktu tunggu pelayanan rumah sakit dan sekelumit alasan lain. 

Sebenarnya kami merasa tidak terlalu wajib untuk membuat BPJS karena selama inipun ketika ke puskesmas atau kerumah sakit kami selalu mengupayakan untuk mendaftar umum saja, karena faktor orang tua yang sudah cukup tua untuk mengurus tetek bengeknya, memiliki tunjangan kesehatan dan jarak yang memisahkan antara saya dan orang tua untuk keperluan studi.

Intensitas interaksii ke petugas medis memang sangat sering dalam keluarga kami, apalagi ketika ibu saya 1 tahun belakangan divonis menderita penyakit jantung yang memerlukan perawatan dan konsumsi obat yang rutin untuk menjaga kondisi tubuh, sehingga hampir setiap bulan ibu saya harus ke puskesmas sendiri atau kerumah sakit ketika saya atau saudara saya pulang ke rumah.

Akhir-akhir ini pembahasan ibu ketika pulang dari puskesmas sering sama, yakni buruknya perlakuan yang dialami ketika ke puskesmas alasannya yah karena petugas medis selalu saja menanyakan KENAPA IBU TIDAK MEMBUAT BPJS??, ibu saya sudah mengatakan alasannya tetapi entah kenapa dokter itu selalu bertanya pertanyaan yang sama sampai akhirnya ibu saya merasa tidak nyaman.

Sebelum lebaran Idul Adha kemarin, akhirnya saya yang membawa ibu ke puskesmas. Awalnya biasa saja kami mendaftar umum, lalu menunggu pemeriksaan dan terakhir ketika harus mengambil obat kami bertemu dengan dokter yang sama. Sebenarnya ibu saya sudah cukup mewanti-wanti dan saya tidak terlalu mempedulikan.

Ternyata, Perkataan ibu saya diawal memang benar. Awalnya dokter tersebut bertanya kenapa tidak membuat BPJS, tentu saya jelaskan alasannya sebagaimana kondisi sebenarnya. 

Hingga yang cukup menaikkan emosi saya ketika Pak dokter tersebut meminta uang 200 Ribu untuk pembayaran obat, tentu itu sangat mengesalkan. 

Ibu saya hampir saya benar-benar mengeluarkan uang 200 rbu, walaupun di ujung si dokter bilang bercanda tentu saja tidak menghapus kekesalan saja terhadap sikap dokter tersebut. 

Obrolan saya cukup lama dengan dokter tersebut, antara kesal dan segera ingin pulang apalagi ketika seorang tenaga medis lain yang entah di posisi apa menyahut begitu saja padahal tidak tahu duduk permasalahan dan kondisi yang sebenarnya. 

Di akhir, Si dokter menekankan kembali untuk membuat BPJS, walaupun kami sudah memiliki tunjangan kesehatan dengan mewanti-wanti sekaligus mengancam saya kira kalau tahun depan BPJS WAJIB dan yang tidak punya BPJS tidak boleh berobat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x